LUKA HATI SEKON DAN KARTA

Langit Berawan
Chapter #34

Bab 34: Sang Pengacara Muda dari LBH

Kebenaran sering kali berjalan tertatih-tatih di atas jalanan Jakarta yang becek, bersembunyi di balik bayang-bayang tiang layang kereta api atau di dalam kantong celana loak seorang kusir truk pasokan beras. Ketika fajar menyembul dari balik atap seng Cipinang, alat perekam suara digital sekecil ibu jari itu telah berpindah dari lipatan celana robek Sekon ke dalam kotak ban serep kabin diesel milik Mang Udin. Benda hitam itu berguncang sepanjang jalan, melewati pos penjagaan, melompati portal gerbang luar, hingga akhirnya melaju membelah kemacetan ibu kota menuju arah selatan. Ia membawa serta suara erangan Tumbal, desis kemarahan Karta, dan ketabahan sedingin es milik Sekon—sebuah paket jahanam yang siap meledakkan kemapanan yang dibangun di atas genangan darah.

Di sebuah ruangan sempit berbau kertas lembap dan minyak mesin tik di kawasan Salemba, seorang pemuda bernama Aris sedang menatap tumpukan berkas perkara yang menguning. Kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) itu tidak memiliki pendingin ruangan yang mewah seperti lantai tiga puluh enam Menara Sudirman; hanya ada sebuah kipas angin dinding tua yang berderit-derit kepanasan laksana seekor babi yang hendak disembelih. Aris, dengan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku dan sepasang mata yang merah akibat kurang tidur, adalah jenis manusia langka yang masih percaya bahwa hukum tidak diciptakan hanya untuk menjadi alas kaki orang-orang kaya.

Pintu tripleks kantor itu berderit terbuka tanpa ketukan, memutus lamunan Aris yang sedang mempelajari kasus penggusuran tanah pinggiran kali. Seseorang melangkah masuk dengan langkah kaki yang berat dan terseok-seok. Pria itu bertubuh tegap, mengenakan jaket jip usang beraroma bensin campur, dengan topi pet yang ditarik rendah hingga menutupi sebagian wajahnya yang penuh gurat kecemasan. Baskara. Mantan kepala keamanan Jalan Sentosa 1 itu tidak datang dengan tangan kosong; tangannya yang besar dan kasar meletakkan sebutir benda hitam berlapis plastik benas garam tepat di atas meja kayu Aris yang dipenuhi coretan tinta.

"Mang Udin menitipkan ini dari dalam Cipinang," ucap Baskara, suaranya parau dan rendah, nyaris tenggelam oleh deru knalpot metromini di luar jendela. "Di dalam benda ini, ada nyawa dua pemuda Bojongsari yang dua tahun lalu disembelih oleh air mata buaya Viona Alamanda. Dan di dalamnya juga ada suara sang malaikat maut yang sesungguhnya."

Aris menatap benda lonjong itu dengan dahi berkerut. Sebagai pengacara muda yang baru tiga tahun lulus dari universitas negeri, ia tentu tidak asing dengan tajuk utama tentang 'Duo Psikopat Bojongsari'—sebuah skandal pembantaian  yang begitu renyah dikonsumsi publik hingga wajah Sekon dan Karta sempat dipajang di tiang-tiang listrik sebagai simbol kejahatan temperamental kelas bawah. Namun, naluri keadilannya selalu menolak logika persidangan sandiwara yang berjalan terlalu kilat kala itu.

Dengan jemari yang sedikit gemetar, Aris mengupas plastik pembungkus tersebut, menghubungkan alat rekam digital itu ke sebuah komputer tabung tua di mejanya, lalu menekan tombol putar.

Lihat selengkapnya