LUKA HATI SEKON DAN KARTA

Langit Berawan
Chapter #35

Bab 35: Meledaknya Berita PK

Kebenaran yang dikubur di bawah lantai semen penjara rupa-rupanya tidak pernah benar-benar menjadi bangkai; ia hanya bertapa, menumbuhkan taring, dan menunggu jemari yang tepat untuk memicu tuas ledakannya. 

Pagi itu, saat kabut tipis sisa hujan semalam masih enggan beranjak dari aspal Jalan Gajah Mada, Aris melangkah menaiki anak tangga gedung Mahkamah Agung dengan langkah taktis seorang serdadu yang bersiap memicu perang. Di dalam tas kulit usangnya yang berbau minyak cengkeh, tersimpan seonggok draf permohonan Peninjauan Kembali bersampul kuning. Di sela-sela kertas tebal itu, terselip sebuah cakram digital tipis berisi salinan pengakuan berdarah Tumbal—sebuah novum, bukti baru yang lahir dari rahim jahanam sel nomor tiga belas Cipinang.

Begitu stempel resmi kepaniteraan diketuk di atas berkas tersebut, ketenangan semu yang selama dua tahun ini dinikmati oleh para bajingan kota seketika runtuh laksana tanggul kali yang diterjang air bah.

Aris tidak melemparkan bukti itu ke dalam laci birokrasi yang sepi. Setengah jam setelah pendaftaran, di bawah naungan pohon beringin pelataran pengadilan, ia menggelar jumpa pers darurat dengan membagikan salinan rekaman suara tersebut kepada belasan jurnalis alternatif yang haus akan skandal kekuasaan. Pelantang suara dari gawai para wartawan mendadak memuntahkan lolongan putus asa Tumbal, desis kemarahan Karta, dan suara dingin Sekon yang berjanji akan merakit peti mati. Suara-suara dari dasar bumi itu mengudara, merayap masuk ke dalam satelit, dan menjelma menjadi gelombang kejut digital yang merontokkan warasnya seisi kota dalam hitungan menit.

Layar-layar televisi nasional yang biasanya dipenuhi oleh wajah anggun Viona Alamanda saat menyumbang panti asuhan, mendadak berganti rupa. Tajuk utama media daring yang dua tahun lalu kompak menggunakan kata ‘psikopat kampung dari Bojongsari’, kini serentak membalikkan lidah mereka dengan judul-judul bombastis yang baru: 'SKANDAL SENTOSA 1: REKAMAN PEMBUNUH ASLI MUNCUL, DUO BOJONGSARI KORBAN TEATER HUKUM VIONA?'

Dampak dari meledaknya berita Peninjauan Kembali ini tidak hanya memicu perdebatan moral di warung-warung kopi bawah jembatan, melainkan menghantam jantung finansial ibu kota dengan kekuatan gada besi. Di lantai perdagangan Bursa Efek Jakarta, papan elektronik raksasa yang menampilkan pergerakan saham Alamanda Group (ALMD) mendadak berubah menjadi lautan angka merah yang mengerikan.

Lihat selengkapnya