Kekuasaan yang dibangun di atas fondasi kebohongan sering kali menyerupai sebuah rumah kartu di tepi tebing; tampak megah dari kejauhan, namun rapuh dihantam angin sekecil apa pun.
Pagi menjelang siang itu, ruang rapat direksi di lantai tiga puluh enam Menara Tahir Group masih memancarkan kemapanan. Udara di ruangan berbalut kaca tebal itu terasa dingin oleh embusan pendingin udara terpusat, mengusir panas gersang Jakarta yang membakar aspal Sudirman di bawah sana. Aroma kopi arabika bercampur dengan wewangian kelas atas yang menguar dari tubuh Viona Alamanda, menciptakan ilusi bahwa takhta yang direbutnya melalui pembantaian dua tahun lalu akan bertahan hingga keabadian.
Di sekeliling meja kayu besar yang permukaannya berkilau seperti air telaga, belasan pria paruh baya bertubuh tambun duduk dengan hotmat. Mereka adalah para kepala divisi, direktur operasional, dan perwakilan pemegang saham institusi yang wajahnya sewarna dengan kertas obligasi kuno. Mereka sedang mendengarkan laporan ekspansi perkebunan kelapa sawit di Sumatera dengan kepala yang mengangguk-angguk patuh laksana sekawanan anjing penurut yang menanti remah daging dari meja sang majikan.
Viona duduk di ujung meja, bertumpu pada kursi direktur utama yang dahulu ditempati oleh Om Tahir. Hari ini ia mengenakan blazer warna merah menyala—sebuah pilihan busana yang menegaskan dominasi dan penaklukannya yang tanpa riak. Jemarinya yang lentik dan terawat dengan kuteks merah tua mengetuk-ngetuk permukaan meja secara teratur, mengikuti tempo presentasi yang membosankan. Baginya, rapat direksi ini hanyalah rutinitas formalitas untuk merayakan kemenangannya atas hukum negara yang telah berhasil dibelinya hingga ke akar-akarnya.
Namun, ketenangan semu di lantai atas itu mendadak robek tanpa permisi.
Pintu ganda ruang rapat yang terbuat dari kayu kokoh tersentak terbuka dengan benturan keras yang memekakkan telinga. Sekretaris pribadi Viona, seorang wanita muda yang biasanya berpenampilan necis dan tenang, merangsek masuk dengan wajah yang telah berubah pucat sewarna dengan kain kafan usang. Langkah kakinya goyah, napasnya memburu, dan tangannya yang gemetar hebat memegangi sebuah papan digital yang layarnya terus berkedip-kedip jalang menampilkan grafik bursa saham yang anjlok drastis.
"Mbak... Mbak Viona... sidang direksi harus dihentikan," bisik sekretaris itu, suaranya pecah di ujung kalimat, terdengar seperti cicit anak burung yang melihat bayangan elang di atas sarang.
Seluruh pasang mata di dalam ruangan menoleh dengan dahi berkerut, memancarkan kejengkelan atas interupsi yang tidak sopan tersebut. Viona menghentikan ketukan jarinya. Sepasang matanya yang sewarna batu jelaga berkilat dingin, menatap sekretarisnya dengan pandangan mengancam yang sanggup membekukan darah di dalam urat nadi.
"Jaga sikapmu, Narina. Keluar dari ruangan ini sekarang sebelum aku menandatangani surat pemecatanmu," ucap Viona dengan nada suara yang teramat sangat rendah, merdu namun memiliki ketajaman sebilah belati yang baru diasah.