LUKA HATI SEKON DAN KARTA

Langit Berawan
Chapter #37

Bab 37: Perintah Pembunuhan di Lapas

Maut yang dibeli dengan uang kertas sering kali datang mengetuk pintu sel menjelang subuh, kala kabut hitam beraroma uap comberan sedang tebal-tebalnya membungkus tembok penjara Cipinang. Di dunia atas, Menara Sudirman mungkin sedang gemetar oleh rontoknya harga saham dan kepanikan para direktur berperut lemak, namun di dunia bawah yang pengap ini, silsilah kekuasaan masih ditentukan oleh siapa yang memegang kunci jeruji dan siapa yang memiliki belati. 

Uang triliunan dari bisnis warisan keluarga Om Tahir yang mulai menguap di lantai bursa rupanya masih menyisakan beberapa ratus juta pecahan merah untuk ditransfer ke rekening rahasia seorang kepala jaga Blok C. Bagi para sipir yang jiwanya telah membusuk oleh sisa tuak asam, perintah dari seorang wanita berblazer merah menyala bukanlah sebuah pelanggaran hukum, melainkan sebuah rezeki nomplok yang sanggup melunasi utang judi di pasar induk.

Malam itu, keheningan di dalam sel nomor tiga belas terasa lebih berat dari biasanya, seolah-olah semen dindingnya ikut menyerap kecemasan yang sedang mendidih di luar sana. Aliansi tiga terpidana itu duduk terjaga di bawah lambaian bohlam kuyu yang berkedip-kedip jalang.

Tumbal, dengan kaos kuningnya yang kian loak, duduk merangkak di sudut dekat bak kakus seraya mendekap erat sebatang kapur tulis kecil yang telah tumpul. Ia tahu posisinya kini telah berubah menjadi seonggok daging umpan yang paling dicari di seluruh Jakarta. Sejak berita pendaftaran Peninjauan Kembali meledak di televisi siang tadi, udara di koridor Blok C tidak lagi ramah; langkah kaki para pengawal terdengar lebih taktis, bersahut-sahutan dengan bunyi gesekan besi yang sengaja diketuk-ketukkan ke pintu jeruji sebagai teror mental yang sunyi.

"Jika mereka datang malam ini, kau harus tetap berada di belakang punggungku, Tumbal," kata Sekon, suaranya mengalun rendah dan mantap dari kegelapan sudut sel, membawa getaran magis dari rahim ketabahan pemuda Bojongsari yang dua tahun ini menempa diri menjadi dinding batu jati yang tak kasat mata.

Karta yang sedang mengorek sisa tanah di bawah kuku jempol kakinya menggunakan patahan korek api kayu mendongak, matanya yang cekung memancarkan kilat kalkulasi yang kejam. "Viona tidak akan menunggu hingga sidang Mahkamah Agung digelar minggu depan, Kon. Perempuan ular itu sedang menghitung sisa napasnya di lantai atas. Menyingkirkan si kurus ini di dalam sini jauh lebih murah daripada membiarkan lidahnya menyanyi di depan hakim agung."

Kekhawatiran Karta menemukan bentuknya yang paling amis tepat ketika lonceng lapas berdentang tiga kali, menandai waktu di mana warasnya para narapidana sedang ditarik turun ke dasar sumur mimpi yang paling lelap.

Di ujung lorong Blok C, suara derit engsel gerbang utama terdengar bergeser pelan tanpa desik peluit sipir yang biasa menandai sif jaga baru. Lampu koridor yang semula menyala remang mendadak padam secara serentak, melemparkan seluruh ruangan ke dalam kegelapan pekat yang gulita laksana lubang kuburan massal yang baru digali. Hanya sisa cahaya bulan tua yang pucat menyelinap dari celah ventilasi atas, memberikan penampakan berupa siluet hitam yang bergerak taktis di sepanjang lorong semen.

Tiga orang pria berbadan tegap dengan kaos hitam ketat melangkah tanpa suara sepatu lars, melintasi sel demi sel laksana sekawanan serigala yang telah mencium bau darah domba curian. Mereka bukan narapidana biasa; mereka adalah pembunuh bayaran titipan yang sengaja dimasukkan lewat pintu samping oleh Kepala Sif jaga yang malam ini menerima amplop cokelat tebal dari Tumbal yang asli atas perintah langsung Viona. Di tangan salah satu pembunuh itu, berkilat sebilah pisau belati yang ujung pisaunya telah diolesi racun katak pohon—sejenis racun yang sanggup menghentikan detak jantung manusia dalam kurun waktu tiga menit tanpa meninggalkan bekas forensik yang mencurigakan.

Lihat selengkapnya