Kekacauan di dalam penjara tidak pernah lahir dari ketidaksengajaan yang lugu; ia selalu dirancang di atas meja-meja judi atau dalam bisikan-bisikan beraroma tuak para pengawal yang butuh uang tambahan. Siang itu, hawa Cipinang terasa lebih lengket daripada biasanya, seolah-olah udara itu sendiri tahu bahwa ada darah segar yang bersiap membasahi lantai semen. Ketika lonceng istirahat berdentang dua kali, gerbang-gerbang besi Blok C dibuka, melepaskan ratusan lelaki berkaos oblong biru pudar ke selasar lapangan laksana sekawanan lalat yang keluar dari toples kaca. Namun, ada yang ganjil dari pergerakan para begundal kali ini. Penjaga menara sudut yang biasanya memegang senapan serbu sambil mengunyah tahu goreng mendadak berbalik membelakangi lapangan, sibuk menyulut rokok kretek seolah-olah langit di atas kepalanya jauh lebih menarik daripada nasib ribuan pendosa di bawahnya.
Sekon melangkah keluar dari pintu sel nomor tiga belas dengan kedua tangan yang melipat di dada, otot-otot lengannya yang kian mengeras pasca-dua tahun kerja paksa tampak menegang di bawah terik matahari Jakarta. Di belakangnya, Karta berjalan taktis seraya menyeret kaki ringkihnya, sedangkan Tumbal si pencuri minimarket menyusup di antara tubuh tegap mereka berdua layaknya anak ayam yang berlindung dari sambaran elang.
"Mereka sudah menutup jalan ke arah dapur umum, Kon," bisik Karta, matanya yang cekung bergerak liar menghitung formasi sekelompok narapidana dari Blok B yang mendadak berjejer melintang di ujung selasar. "Ini bukan apel siang. Ini adalah pesta jagal yang dipesan oleh nyonya besar di Sudirman."
Belum sempat Sekon menyahut, sebuah peluit melengking nyaring dari arah pos jaga tengah, diikuti oleh suara teriakan histeris yang sengaja dipicu di dekat gudang logistik. Gubrak! Sebuah meja kayu sengaja digulingkan, dan dalam hitungan detik, selasar Cipinang meledak menjadi lautan tawuran massal yang brutal. Ratusan narapidana saling jotos tanpa alasan yang jelas, menciptakan kegaduhan buatan untuk mengaburkan pandangan kamera pengawas cadangan yang masih menyala.
Di tengah gemuruh debu tanah kering yang beterbangan, lima orang narapidana berbadan legam dengan rajutan tato ular di leher mereka perlahan memisahkan diri dari kerumunan tawuran. Di jemari mereka yang kasar, berkilat mata pisau rakitan yang diasah dari sendok aluminium dan potongan jeruji besi yang diruncingkan. Tatapan mereka lurus, dingin, dan kosong, tertuju tepat pada ulu hati Tumbal yang langsung terkencing-kencing menahan paranoid akut di belakang punggung Sekon.
"Habisi si kurus itu! Mbak Viona mau lidahnya putus siang ini!" teriak salah satu pembunuh bayaran berkumis melintang seraya menerjang maju dengan tusukan lurus ke arah dada Tumbal.
Namun, proyektil daging dari Sudirman itu menabrak dinding batu jati yang salah. Sekon bergerak laksana bayangan hantu leluhur Bojongsari. Dengan satu gerakan memutar yang presisi, ia mengelak dari mata pisau rakitan, mencengkeram pergelangan tangan sang penikam, lalu menghantamkan sikunya yang sekeras martil tepat ke arah sendi siku lawan. Krak! Bunyi patah tulang yang memuakkan menyatu dengan pekikan kesakitan yang dalam. Pisau aluminium itu terjatuh ke atas lantai semen, sebelum sempat menyentuh bumi, ujung sepatu karet Sekon telah menendangnya masuk ke dalam saluran pembuangan air got.