Darah yang tumpah di atas lantai semen penjara selalu memiliki cara sendiri untuk menceritakan kebenaran yang paling amis. Beberapa menit setelah kepulan asap gas air mata putih mulai menipis di selasar Blok C, keheningan di dalam sel nomor tiga belas pecah oleh suara erangan tertahan yang keluar dari tenggorokan Tumbal. Pria kurus itu rupanya tidak sepenuhnya luput dari pesta jagal yang dikirim oleh wanita berblazer merah dari Menara Tahir. Di tengah kegelapan pertempuran darurat tadi, sesosok bayangan bayaran sempat mendaratkan satu tikaman pendek menggunakan pisau rakitan yang terbuat dari jeruji besi kikir. Senjata tajam itu menghujam tepat di perut kirinya, menyisakan robekan menganga sewarna buah manggis matang yang terus memuntahkan cairan kental ke atas kaos kuningnya.
"Mas... Mas Sekon... perut saya jebol," bisik Tumbal, tubuhnya limbung, lalu tersungkur di dekat lubang kakus dengan sepasang mata cekung yang mulai melotot putih, meraba ususnya yang mencoba keluar dari balik kulit ari yang tipis.
Karta segera melompat, menekan luka robek itu menggunakan sisa gulungan sprei klinik lapuk milik mereka. Namun, rembesan darah hangat begitu deras mengalir, mengalahkan keangkuhan kain katun dekil itu. Paranoid yang selama ini memenuhi tempurung kepala si pencuri minimarket mendadak berganti dengan dinginnya hawa maut yang mulai menjemput ujung-ujung jemarinya yang menghitam. Nyawa murah itu sedang berada di ujung tanduk, bersiap pergi sebelum sempat memberikan kesaksian di depan sidang Mahkamah Agung.
Sekon berdiri tegak, memandang wajah Tumbal yang kian memucat sewarna kain kafan lapuk. "Dia tidak boleh mati di sini, Karta. Jika dia mampus siang ini, proyektil Peninjauan Kembali milik Aris akan berubah menjadi kertas sampah yang tidak memiliki lidah."
Pintu besi sel berderak terbuka dengan sentakan taktis yang terburu-buru. Sipir Bambang merangsek masuk dengan wajah yang sama pucatnya, tangannya tidak lagi memegang tongkat pemukul besi, melainkan sebilah kunci cadangan yang baru dicurinya dari ruang administrasi tengah. Pemuda yang ibunya sedang sekarat di rumah sakit itu tahu betul, jika Tumbal menjadi mayat di dalam Blok C, seluruh uang suap dua puluh lima juta dari Bojongsari yang digunakannya untuk menebus obat kanker rahim ibunya akan berubah menjadi kutukan moral yang membusukkan jiwanya.