Kegilaan sering kali dirawat di tempat-tempat di mana pohon pinus bernyanyi layaknya suara orang mati, dan kabut tebal turun setiap jam tiga sore, untuk menyembunyikan kebenaran dari mata dunia. Di lereng Gunung Salak yang basah, Sanatorium Villa Asri berdiri laksana kompleks makam kolonial Belanda yang dihuni oleh jiwa-jiwa yang dibuang oleh keluarga mereka sendiri. Di balik pagar besi setinggi tiga meter berselimut kawat berduri aktif, waktu seolah berjalan mundur, atau mungkin berhenti sama sekali di dalam botol-botol antiseptik pekat dan ampul obat penenang yang setiap delapan jam dialirkan ke dalam urat nadi para pesakitan. Selama dua puluh empat bulan, Lintang Aruna Tahir telah diajari bagaimana caranya menjadi seonggok daging yang bernapas tanpa perlu memiliki ingatan, membiarkan pikirannya tenggelam ke dalam sumur kegelapan yang paling dalam di bawah pengawasan ketat Suster Retno.
Namun, tubuh manusia memiliki cara yang alami untuk menolak racun kimia apabila kebenaran yang murni mulai menuntut jalannya untuk pulang ke permukaan.
Sejak dua hari lalu, Suster Retno—wanita paruh baya berwajah masai yang batinnya dibayar mahal oleh Viona—mulai sering meninggalkan kamar dalam keadaan lengah. Suaminya di kota sedang tersangkut kasus penggelapan uang pasar induk, memaksanya lebih sering memaki lewat telepon genggam di koridor luar ketimbang memeriksa apakah sebutir pil berwarna merah jambu di dalam cangkir porselen Lintang benar-benar tertelan atau hanya disembunyikan di bawah lidah. Lintang, yang kepolosan masa mudanya dulu sempat dihancurkan oleh duka mendalam di Jalan Sentosa 1, perlahan-lahan mulai memuntahkan pil-pil laknat itu ke dalam lubang pembuangan air tersembunyi di balik ranjang besinya.
Pagi itu, hawa pegunungan terasa sangat menusuk tulang, menyelinap dari jendela kamar berjeruji besi yang dinding putihnya mulai terkelupas. Tanpa pasokan obat penenang selama empat puluh delapan jam, kabut pekat yang selama dua tahun ini menggulung tempurung kepala Lintang perlahan-lahan luruh, laksana embun yang menguap diterjang matahari gersang. Matanya yang semula kosong, layu, dan sewangi bunga melati yang layu, mendadak memancarkan kembali kilat kecerdasan seorang putri patriark.
Ketika Suster Retno kembali lengah meninggalkan papan digital pribadinya di atas meja administrasi kamar demi pergi ke toilet umum, Lintang bergerak dengan kecepatan yang tak terduga. Langkah kakinya yang selama dua tahun ini goyah laksana boneka kain yang putus benangnya, kini terasa cepat dan ringan. Jemarinya yang kurus hingga tulang-tulangnya menonjol meraih benda elektronik tersebut, bersembunyi di balik lemari pakaian tua berbau kapur barus.
Ia menyalakan layar digital yang berkedip jalang itu, menghubungkannya ke jaringan internet tersembunyi milik sanatorium, dan mengetikkan satu nama yang selama berminggu-minggu berkabung menjadi hantu di dalam kepalanya: Viona Alamanda.