Brak!
Brak!
"Buka pintunya! Hebat ya kamu, Burhan! Sudah mati pun masih bisa sembunyi di balik pintu!"
Suara benturan keras itu menghantam kayu pintu rumah yang sudah lapuk, bergetar hebat seolah siap jebol kapan saja.
Di dalam ruangan yang remang-remang, Sarah, gadis 22 tahun mendekap erat adiknya, Kiran yang sudah gemetar hebat.
Isak tangis Kiran tertahan di dada Sarah. Hari ini baru menginjak hari kedua setelah tanah makam ayah mereka, Burhan, masih basah. Belum kering air mata kehilangan itu, takdir sudah menampar mereka dengan kenyataan yang jauh lebih brutal.
"Aku tahu kamu di dalam, anak Burhan! Jangan jadi pengecut seperti ayahmu!" Teriakan dari luar semakin menjadi-jadi, diiringi tawa sinis gerombolan pria berbadan tegap penagih utang.
"Kak... apa yang harus kita lakukan?" bisik Kiran dengan suara serak, matanya yang sembab menatap Sarah penuh ketakutan. "Mereka akan mendobraknya, Kak..."
Sarah meneguk ludah yang terasa menyumbat tenggorokannya. Jantungnya bertalu hebat, namun sebagai anak sulung, dia tidak boleh runtuh di depan adiknya. Dengan jemari yang ikut gemetar, dia mengusap kepala Kiran, mencoba mengalirkan ketenangan yang sebenarnya tidak dia miliki.
"Tenang," bisik Sarah, memaksakan sebuah senyuman tipis yang getir di bibirnya yang pucat. "Aku tahu ini tidak akan lama lagi. Tetap diam, jangan bersuara. Mereka pasti akan pergi jika mengira rumah ini kosong."
Kiran tidak menjawab. Dia hanya bisa merapatkan pelukannya, menenggelamkan wajahnya ke pundak Sarah, berdoa dalam hati agar dinding rumah sewaan mereka cukup kuat menahan amarah orang-orang di luar. Di dalam keheningan yang mencekam itu, Sarah memejamkan mata rapat-rapat. Tuhan, tolong kami... lindungi kami, jeritnya dalam hati.
Setelah hampir lima belas menit yang terasa seperti neraka, kutukan terakhir terdengar dari luar, diikuti oleh langkah kaki berat yang menjauh. Suasana mendadak sunyi. Hanya menyisakan suara detak jam dinding tua dan deru napas mereka yang memburu.
"Mereka sudah pergi," bisik Kiran lambat-lambat seraya melepaskan pelukannya. Dia menyeka air matanya dengan kasar, lalu mendesah panjang. "Haah... Ayah... Ayah... Mati kok malah meninggalkan utang!"
Plak!
Sarah memukul pelan pipi adiknya. Bukan karena marah, melainkan karena rasa perih yang teramat sangat mendengar mendiang ayahnya disalahkan.
"Hush! Tidak boleh bicara seperti itu, Dek. Ayah pasti tidak pernah mau punya utang, apalagi sampai membuat kita repot seperti ini. Ayah berhutang juga demi pengobatan mendiang Ibu dulu, kamu harus ingat itu."
Kiran cemberut, menyentuh pipinya yang memerah. Air matanya menetes lagi. "Tapi buktinya sekarang Ayah tiada, utangnya tetap hidup dan kita yang dikejar-kejar seperti binatang, Kak! Kita mau makan apa besok?"
Sarah terdiam. Dada sesak. Dia meraih sebuah map kertas cokelat kumal di atas meja. Di dalamnya ada secarik surat perjanjian dengan angka nominal yang mengerikan. "Enam puluh juta rupiah," ucap Sarah dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Hah?! Enam puluh juta?!" Kiran terperanjat, matanya membelalak. "Mau kerja apa kita biar bisa mencicil utang sebanyak itu, Kak? Menjadi pembantu seumur hidup pun tidak akan cukup!"