Luka Lama Sarah

Ery Sithi Badriyya
Chapter #2

Layani Aku

Sarah menarik napas panjang, mencoba mengalirkan oksigen ke otaknya yang mendadak kosong. Jemarinya yang dingin saling bertautan di balik saku gamisnya yang mulai pudar warnanya. 

Di hadapannya, kemegahan rumah Kencana seolah menjelma menjadi monster yang siap menelannya hidup-hidup. Namun, bayangan wajah ketakutan Kiran dan kilasan parang para penagih utang kembali berputar di kepalanya. Harga diri tidak akan bisa membeli beras esok hari, batinnya getir.

Sarah tersenyum simpul yang dipaksakan, lalu mengangguk pelan ke arah Inara. “Ya, aku menerima pekerjaan ini. Aku sangat butuh uang. Kalau tidak kerja di sini, aku tidak tahu lagi harus mencari kerja kemana demi melunasi utang-utang itu.”

Inara bernapas lega. Senyumnya mengembang lebar mendengar keputusan logis sahabatnya. “Pilihan cerdas, Sar. Kamu tidak akan menyesal.”

Tanpa membuang waktu, Inara melangkah maju dan menekan tombol bel kuningan yang tertanam di pilar beton, tepat di bawah papan nomor rumah mewah tersebut. 

Bunyi dentang bel bergema jauh ke dalam halaman yang luas. 

Tak butuh waktu lama, gerbang besi besar itu berdencing pelan, terbuka otomatis, menampilkan sosok wanita paruh baya berambut sanggul rapi dengan pakaian pelayan yang sangat formal.

“Jadi, ini perawat baru untuk Tuan Remon?” tanya wanita tua itu setelah tatapannya menilai penampilan sederhana Sarah dari ujung kepala hingga kaki. Wajahnya yang semula kaku perlahan lembut. “Namaku Marta. Aku kepala pelayan di sini. Salam kenal.”

Sarah mengangguk takzim, membalas senyuman Marta dengan debaran jantung yang kian tak karuan. “Salam kenal, Bu Marta,” jawabnya lirih.

Dalam hati, Sarah menghembuskan napas lega yang amat besar. Beruntung sekali, Bu Marta adalah pelayan baru.

 Di masa SMA-nya dulu ketika sering berkunjung ke rumah ini, pelayan utamanya adalah seorang pria paruh baya bernama Pak joko.

Fakta bahwa Bu Marta tidak mengenalinya memberi Sarah sedikit ruang untuk bernapas dan menegakkan kepalanya.

Sarah bersama Inara kemudian melangkah mengekor di belakang Bu Marta, memasuki pintu ganda berbahan kayu jati solid yang mengarah langsung ke ruang tamu utama. 

Langkah kaki mereka tenggelam dalam kelembutan karpet bulu import. Seketika itu juga, memori Sarah berputar cepat layaknya rol film yang rusak. 

Sudut sofa beludru tempat mereka dulu sering bertukar cerita, piano besar di pojok ruangan tempat Remon pernah memainkan lagu ulang tahun untuknya, semuanya masih berada di tempat yang sama. Bedanya, atmosfer rumah ini kini terasa begitu dingin dan mencekam.

“Kenapa rumah ini sepi sekali, Bu?” tanya Sarah polos, mencoba memecah keheningan yang menekan dadanya.

“Tuan Besar dan Nyonya sedang pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis yang tidak bisa ditinggalkan,” jelas Bu Marta sembari menaiki anak tangga marmer satu demi satu dengan anggun. “Sedangkan Tuan Muda Remon ada di kamarnya di lantai atas. Syukurlah kamu kelihatan sangat perhatian dan tenang. Aku berharap kamu bisa bertahan menjadi perawatnya sampai mata Tuan Muda benar-benar sembuh total.”

Inara yang berjalan di samping Sarah langsung menyahut dengan nada mempromosikan. “Bu Marta tidak perlu khawatir. Sasa—maksud saya Sarah—adalah perawat paling sabar dan telaten yang bisa saya bawa dari agen. Saya jamin dia tidak akan mengecewakan keluarga Kencana.”

Bu Marta menghentikan langkahnya sejenak di bordes tangga, lalu menoleh dengan tatapan penuh arti yang menyiratkan kelelahan mendalam. “Ya, Tuhan mendengar doaku. Aku memang sedang mencari perawat yang betah dan berkulit tebal. Asal kalian tahu saja, baru kemarin perawat kelima dipecat. Total sudah lima orang yang mengundurkan diri dan dipecat dalam minggu ini karena tidak tahan menghadapi amukan dan sumpah serapah Tuan Remon sejak dia mengalami kebutaan pasca-kecelakaan.”

‘Pantas saja gajinya sampai dua belas juta sebulan,’ desis Sarah dalam hati. 

Lihat selengkapnya