"Ayo, layani aku. Aku akan memberimu uang tunai sekarang juga kalau kamu mau melayaniku!" bisik Remon. Suaranya yang berat memburu di ceruk leher Sarah, mengirimkan sensasi dingin yang membuat bulu kuduknya meremang.
Sarah memejamkan mata rapat-rapat. Dadanya naik-turun tak beraturan, sesak oleh badai emosi yang berkecamuk.
Pertahanan jiwanya, prinsip hidup yang selama ini dia jaga, mendadak goyah.
Di satu sisi, otaknya meneriakkan kata 'tolak' dan 'pergi'. Namun di sisi lain, bayangan wajah Kiran yang ketakutan, ancaman parang para penagih utang, dan angka enam puluh juta rupiah langsung menampar kesadarannya. Dia benar-benar sudah tidak punya pilihan lagi. Dunia telah menyudutkannya ke tepi jurang paling dalam.
"Kamu... kamu yakin dengan ucapanmu?" tanya Sarah dengan suara bergetar hebat, nyaris seperti bisikan pasrah seorang tawanan.
Remon terkekeh sinis, sebuah tawa kemenangan yang terdengar begitu merendahkan. "Tentu saja. Aturannya mudah, Sasa. Kamu tinggal diam, biarkan aku menikmati tubuhmu, dan setelah itu kamu akan kubayar mahal. Adil, bukan?"
Sarah meneguk ludah, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya untuk bernegosiasi di tengah kehancurannya. "Bagaimana kalau... bagaimana kalau kamu bayar aku terlebih dahulu?"
Mendengar itu, Remon kembali terkekeh. Dia melepaskan cengkeramannya di bahu Sarah, lalu mengacungkan telunjuknya ke arah sebuah laci kayu mahoni di samping tempat tidur king-size miliknya. "Ambil sendiri uang sepuluh juta di dalam laci itu. Itu baru uang muka."
"Sepuluh juta?" Mata Sarah terbelalak seketika.
Hanya untuk satu kali pelayanan, pria ini membuang uang sepuluh juta seolah itu hanya remahan kertas. Angka itu setara dengan hampir seratus hari kerja kerasnya di tempat lain. Sarah tahu dia sangat membutuhkan uang itu, tapi sebagian kecil hatinya menjerit perih—apakah kini dirinya sudah semurah itu? Menjual kehormatan demi lembaran rupiah?
"Cepat! Jangan membuang waktuku!" bentak Remon tiba-tiba, menyadari keraguan Sarah. "Kalau kamu menolak sekarang, detik ini juga aku akan memecatmu. Aku tidak akan membiarkanmu bekerja di rumah ini lagi, dan jangan harap kamu bisa melihat uang satu rupiah pun dariku!"
Ancaman itu menjadi hantaman terakhir yang meruntuhkan tembok pertahanan Sarah. "Ti—tidak! Jangan pecat aku. Baiklah... aku mau."
Dengan tangan yang gemetar hebat dan air mata yang perlahan luruh membasahi pipinya, Sarah melangkah mendekati laci tersebut. Dia menariknya, lalu meraih segepok uang pecahan seratus ribu yang masih terikat rapi. Uang itu diletakkannya di atas meja nakas, tepat di samping tempat tidur.
Setelah itu, dengan sisa keberanian yang tersisa, Sarah merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Detik berikutnya, tubuh kekar Remon sudah menindihnya dalam kegelapan.
Meski rengkuhan dan sentuhan pria itu terasa begitu kasar dan sarat akan pelampiasan amarah atas kebutaannya, Sarah tidak bisa membohongi hatinya sendiri.
Sentuhan ini... adalah sentuhan yang sama dengan apa yang dulu pernah dilakukan Remon padanya sewaktu mereka masih saling mencintai. Remon adalah cinta pertamanya, lelaki pertama yang mengisi hatinya, dan sedalam apa pun luka yang ditorehkan pria itu, kenangan masa lalu tidak akan pernah bisa dia lupakan sepenuhnya.
"Ahhhh!"
Rintihan panjang akhirnya lolos dari bibir Sarah yang tergigit, menandai berakhirnya luapan gairah Remon yang begitu deras dan bergejolak malam itu.