Luka Lama Sarah

Ery Sithi Badriyya
Chapter #4

Demi Kiran

Langkah kaki Sarah bergema panik di sepanjang koridor Rumah Sakit Karisma. 

Bau karbol yang menyengat dan lolongan sirine ambulans di luar tak lagi dihiraukannya. Pikirannya kosong, menyisakan ketakutan luar biasa akan kehilangan satu-satunya darah daging yang dia miliki di dunia ini. 

Air matanya terus mengalir, membasahi pipinya yang berantakan karena dia berlari sepanjang jalan dari halte taksi.

Begitu sampai di depan pintu Unit Gawat Darurat, seorang petugas administrasi berseragam putih segera mencegatnya. Wajah petugas itu tampak tegang, mencerminkan situasi darurat di dalam ruangan.

"Apakah Anda keluarga dari pasien bernama Kiran?" tanya petugas itu memastikan.

Sarah mengangguk cepat, nafasnya tersengal-sengal. "Iya, Sus! Saya kakaknya. Bagaimana kondisi adik saya? Tolong katakan dia baik-baik saja!"

Petugas itu menghela napas panjang, lalu membimbing Sarah sedikit menjauh dari pintu utama. "Kondisi adik Anda sangat kritis, Mbak. Dia mengalami benturan hebat di bagian kepala dan dada akibat kecelakaan beruntun. Tim dokter harus segera melakukan tindakan operasi darurat malam ini juga untuk menghentikan pendarahan di dalam kepalanya. Untuk itu, pihak rumah sakit meminta Anda segera menyelesaikan administrasi awal dan uang muka perawatan sebesar sepuluh juta rupiah."

Mendengar nominal itu, jantung Sarah seolah merosot ke perut. Sepuluh juta? Jumlah yang sama persis dengan yang dia serahkan pada Kiran sore tadi.

"Sepuluh juta..." gumam Sarah. "Sus, boleh saya melihat adik saya sebentar? Hanya satu menit."

Setelah mendapat anggukan ragu dari petugas, Sarah mendorong pintu UGD yang dingin. Di atas bangsal besi, tubuh kecil Kiran terbujur kaku dengan berbagai selang menempel di tubuhnya. Perban putih tebal membungkus kepalanya, dengan bercak darah segar yang mulai merembes. Rasa perih yang teramat sangat menusuk dada Sarah. 

Dia melangkah mendekati tubuh adiknya yang tak berdaya, lalu dengan jemari bergetar, dia meraba saku jaket dan celana Kiran.

Kosong. Tidak ada apa-apa di sana. Uang sepuluh juta rupiah yang baru sore tadi dia berikan dengan penuh harapan, lenyap tanpa bekas.

Dengan kepanikan yang kian memuncak, Sarah keluar dan kembali menemui petugas medis dengan suara bergetar. "Sus... uangnya... di mana uang yang dibawa adik saya? Sore tadi dia membawa uang sepuluh juta di dalam tasnya untuk membayar utang!"

Petugas itu menatap Sarah dengan pandangan penuh rasa iba. "Maaf, Mbak. Menurut laporan dari pihak kepolisian dan warga yang mengantar, adik Anda adalah korban tabrak lari sebuah mobil misterius. Saat ditemukan di tepi jalan dalam kondisi tidak sadarkan diri, warga hanya menemukan sebuah tas ransel hitam ini. Tidak ada uang sepeser pun di dalamnya."

Lihat selengkapnya