“Lain kali, main-main lagi ke kamarku ya, Sasa. Kamu enak sekali,” kekeh Remon. Suara tawa rendah itu terdengar begitu renyah di telinga pemiliknya, namun bagi gadis muda yang sedang membetulkan kancing kemejanya dengan tangan gemetar, ucapan itu bagaikan sembilu yang sukses merobek hatinya hingga berkeping-keping.
Sarah tidak sanggup menoleh. Dia tidak sudi melihat wajah laki-laki yang baru saja merenggut kesuciannya demi tumpukan lembaran uang.
Dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki, Sarah bergegas keluar dari kamar megah milik tuannya. Langkah kakinya terasa begitu berat, seolah semen cor mengikat pergelangan kakinya.
Begitu pintu kayu jati itu tertutup di belakangnya, Sarah berlari menyusuri koridor rumah mewah yang sepi, menuju kamar pelayan kecil di sudut belakang bangunan.
Air mata yang sejak tadi ditahannya kini tumpah tak terbendung.
Setibanya di dalam kamar, Sarah langsung mengunci pintu dan merosot di baliknya. Dada batinnya terasa sesak luar biasa, seolah pasokan oksigen di kamar itu mendadak menguap.
“Murahan!” kata itu terlontar dengan sangat ketus dari bibirnya sendiri, ditujukan khusus untuk bayangan dirinya di cermin yang tampak begitu menyedihkan.
Sarah meremas rambutnya dengan frustasi.
Rasanya, jika bisa, dia ingin sekali merobek wajahnya sendiri agar tidak perlu lagi melihat cerminan wanita yang telah menggadaikan harga diri. Rasa jijik pada tubuhnya sendiri membuat Sarah ingin menjerit kencang, namun dia segera membekap mulutnya dengan kedua tangan. Isak tangisnya tertahan, berganti menjadi senggolan bahu yang bergetar hebat di dalam kegelapan malam.
Namun, di tengah badai kebencian pada diri sendiri, secercah ingatan tentang wajah pucat sang adik melintas di benaknya. Kiran. Adik perempuannya yang masih belia kini sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, berjuang antara hidup dan mati.
Aku harus tetap hidup, bisik Sarah dalam hati, mencoba menenangkan badai di dadanya. Aku tidak boleh menyerah sekarang. Kiran hanya punya aku di dunia ini. Kalau aku hancur, siapa yang akan menyelamatkannya?
Dengan mata yang bengkak dan hati yang hancur berkeping-keping, Sarah merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis. Pandangannya lurus menatap langit-langit kamar yang temaram. "Pagi, cepatlah datang..." gumamnya lirih, memohon agar malam terkutuk ini segera berakhir.
Malam yang panjang dan menyiksa itu akhirnya berlalu.
Sepanjang malam, Sarah hampir tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali dia mencoba tidur, kilasan peristiwa di kamar Remon kembali membayang, membuatnya terjaga dengan peluh dingin. Dalam sujud dan duduknya di sisa malam, Sarah terus berdoa dan berharap dengan sangat cemas agar tidak ada seorangpun di rumah mewah ini yang mengetahui apa yang terjadi di kamar Remon malam ini. Dia terus berharap masih ada hari esok yang bersih untuknya, agar pagi ini dia bisa menemui sang adik dengan membawa kepastian medis.
Ketika matahari mulai menyingsing dan sinarnya menembus celah gorden, Sarah segera bangkit. Dia membasuh wajahnya berulang kali, mencoba menghapus jejak kesedihan dan lelah yang mendalam. Setelah merapikan seragam perawatnya, Sarah berjalan menuju dapur utama.