Luka Lama Sarah

Ery Sithi Badriyya
Chapter #6

Bukti Yang Hilang

“Ide bagus, kan?” tanya Marta begitu percaya diri. Senyum di wajah wanita tua itu mengembang, seolah-olah dia baru saja memberikan solusi paling jenius di dunia untuk menyelamatkan adik Sarah.

“Hehehe!”

Tawa kecut Sarah menyeruak, memecah keheningan koridor belakang. Tawa yang tidak mengandung secuil pun rasa geli, melainkan sebuah sarkasme yang lahir dari rasa frustasi yang mendalam. Marta menatapnya dengan dahi berkerut, bingung dengan respons ganjil sang perawat baru. Namun, Sarah tidak sudi memberikan penjelasan lebih lanjut. 

Dia segera melangkah pergi, meninggalkan Marta yang masih mematung di dekat dapur.

Sambil melangkah lebar-lebar, dada Sarah bergemuruh hebat. 

Pikiran buruk mulai merayapi otaknya. 

Apakah Marta benar-benar tulus? Atau jangan-jangan... dia sengaja? 

Sarah semakin yakin kalau wanita tua yang terlihat baik hati ini sebenarnya bersekongkol dengan tuannya. Marta mungkin sengaja menggiring dirinya agar kembali masuk ke perangkap Remon, menjadi umpan agar sang tuan muda bisa terus menikmati tubuhnya dengan kedok 'pinjaman budi'. 

Rumah mewah ini tiba-tiba terasa seperti penjara yang dipenuhi oleh serigala berbulu domba.

Merasa sesak terus berada di dalam bangunan tersebut, Sarah berjalan ke samping rumah untuk mencari udara segar sekaligus melihat kondisi di sekitar rumah mewah itu. Dia butuh menjauh sejenak dari jangkauan pandangan Remon maupun Marta.

Sarah akhirnya memilih duduk di sebuah bangku kayu yang terletak di sudut taman samping, tertutup oleh rimbunnya tanaman hias. Dia menenggelamkan wajahnya di kedua lutut, mencoba menata hatinya yang porak-poranda.

Saat dia sedang merenung dalam kesendirian, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang mendekat di atas jalan setapak berbatu. Sarah tersentak dan mendongak. 

Di hadapannya, berdiri seorang wanita muda berpenampilan modis yang sangat dia kenali. Dia adalah Ranti, sepupu kandung Remon yang sore itu kebetulan sedang berkunjung ke rumah tersebut.

Mata Ranti membelalak terkejut saat mengenali sosok yang sedang duduk menyendiri di taman. “Lho, kamu kan Sa—”

“Stop! Tolong jangan sebut nama saya,” Sarah segera menghentikan anak kata Ranti sebelum nama aslinya terucap penuh.

Sarah berdiri dengan panik, matanya bergerak liar memeriksa sekeliling, takut jika ada pelayan lain atau bahkan Remon yang mendengar. 

Dengan wajah memelas, Sarah memohon dengan sangat agar Ranti berpura-pura tidak kenal padanya selama berada di rumah ini. “Saya mohon, Ranti. Tolong pura-pura tidak kenal saya agar saya bisa aman bekerja di sini sebagai perawat baru.”

Lihat selengkapnya