Luka Lama Sarah

Ery Sithi Badriyya
Chapter #7

Dendam Dalam Cinta

“Baiklah kalau itu maumu, Sarah. Tapi maaf, aku tidak bisa membantumu lebih jauh di dalam sana,” ucap Jeny dengan suara memelas, matanya memancarkan rasa bersalah sekaligus ketakutan yang amat sangat. “Remon adalah orang yang licik dan berbahaya. Jadi, tolong... kamu harus sangat hati-hati.”

Sarah, yang telah membulatkan tekadnya sekeras baja, segera mengangguk pasti. Tidak ada lagi keraguan di matanya. Rasa takutnya telah terbakar habis oleh api dendam dan kebenaran yang baru saja dia ketahui. “Terima kasih, Mbak Jeny. Informasi ini sudah lebih dari cukup untukku.”

Setelah berpamitan dengan Ranti dan Jeny, Sarah pun melangkah kembali menuju rumah mewah Remon, pria yang kini berstatus sebagai tuannya, sekaligus pria yang diam-diam menjadi target penghancurannya.

Namun, atmosfer hangat yang biasa menyelimuti ruang tengah rumah itu mendadak terasa begitu tegang saat Sarah melintasi pintu samping. 

Suara lengkingan melengking seorang wanita memecah keheningan rumah. 

Sarah memperlambat langkahnya, mencoba mengintip dari balik pilar marmer besar di ruang tengah.

Di sana, seorang wanita dengan pakaian sangat mewah sedang berdiri mondar-mandir sambil memasang wajah kesal penuh amarah di depan Remon yang duduk tenang di sofa panjang.

“Kamu selingkuh, ya?!” tuduh wanita itu dengan suara meninggi, menudingkan jari telunjuknya yang dihiasi kuteks merah menyala tepat ke arah wajah Remon.

Remon, yang kepalanya masih terbebat perban pasca-kecelakaan, menanggapi tuduhan itu dengan sangat tenang. Dia menghela nafas panjang, seolah sudah terbiasa dengan drama semacam ini. “Mana mungkin aku selingkuh, Sayang? Lihat, mataku saja masih diperban begini karena kecelakaan kemarin. Jangankan untuk melirik wanita lain, untuk melihat jalan saja aku belum bisa dengan jelas. Mana mungkin aku bisa selingkuh?”

Sarah yang baru saja menyelinap masuk ke area belakang ruang tengah tanpa sengaja berpapasan dengan Marta. Perawat muda itu menyenggol lengan Marta dengan pelan, lalu berbisik, “Siapa dia?”

“Itu tunangan Den Remon, namanya Non Widuri,” bisik Marta ke telinga Sarah, nadanya terdengar agak malas. “Dia itu wanita yang sangat pencemburu. Kerjaannya setiap kali datang ke sini selalu menuduh Tuan Muda selingkuh, padahal mana ada Tuan selingkuh dengan kondisinya yang sedang sakit begitu.”

“Tunangan?” beo Sarah dalam hati.

Mata Sarah menatap Widuri lekat-lekat dari kejauhan. Secara fisik, wanita itu memang terlihat begitu elegan. 

Dia mengenakan blazer kantoran bermerek mahal yang pas di tubuhnya, dipadukan dengan sepatu hak tinggi hitam mengkilap yang mengeluarkan bunyi ketukan tajam setiap kali dia melangkah. Belum lagi tas kulit desainer ternama yang tersampir di bahunya, harganya pasti bisa membiayai pengobatan Kiran selama berbulan-bulan.

Namun, Sarah merasa ironis. Meskipun wanita itu menggunakan barang-barang branded nan mahal dari ujung kepala hingga ujung kaki, kenapa kata-kata yang keluar dari bibir indahnya justru begitu kasar dan tidak berpendidikan? Cara Widuri berteriak dan menuduh tanpa bukti justru membuatnya terlihat begitu murung dan murahan di mata Sarah.

Melihat Sarah menatap Widuri begitu tajam dan lama, Marta mendadak panik. Naluri pelayan seniornya tahu bahwa jika Widuri menyadari keberadaan Sarah, masalah besar akan datang. Marta segera meraih pergelangan tangan Sarah dan menarik perawat itu agar menjauh ke ruangan lain, menuju dapur belakang.

Namun, nasib baik sedang tidak berpihak pada mereka. Belum juga kaki mereka sempat beranjak dari balik pilar, tiba-tiba suara ketukan sepatu hak tinggi Widuri berhenti. Pandangan tajam wanita itu beralih dan langsung mengunci sosok Sarah.

“Siapa dia?!” tanya Widuri dengan nada yang begitu marah, suaranya naik satu oktav. Dia melangkah cepat mendekati Sarah dan Marta dengan tatapan mengintimidasi.

Marta langsung membungkuk hormat, mencoba meredam ketegangan. “Dia perawat baru Tuan Muda, Non. Namanya Sarah,” jelas Marta dengan suara selembut mungkin.

Widuri melipat kedua tangannya di dada, matanya memindai Sarah dari atas sampai bawah dengan pandangan merendahkan. “Kenapa dia memakai baju begitu rapi?” ketusnya.

Rapi? Pertanyaan macam apa itu? Apa salahnya seorang perawat berbaju rapi dan bersih? Memangnya aku harus memakai baju compang-camping saat bekerja? batin Sarah, merasa heran dengan jalan pikiran wanita di hadapannya ini. 

Lihat selengkapnya