Luka Lama Sarah

Ery Sithi Badriyya
Chapter #8

Bukti Semakin Jelas

“Di mana mobil itu sekarang, Bu?” tanya Sarah pada Marta dengan tatapan mata yang menghujam tajam. 

Nada suaranya tidak lagi mencerminkan seorang pelayan yang patuh, melainkan seorang wanita yang sedang menuntut keadilan atas darah dagingnya sendiri.

Marta langsung terdiam. Mulut pelayan senior itu mengatup rapat, dan rona wajahnya seketika berubah pucat pasi mendengarkan pertanyaan yang begitu spesifik dari Sarah. Dia memalingkan wajah, enggan menatap mata Sarah yang berkilat-kilat.

“Kenapa tidak menjawabku, Bu? Tolong katakan dimana mobil BMW hitam itu sekarang!” imbuh Sarah, meremas lengan Marta dengan sedikit mendesak.

Marta menarik napas dalam-dalam, lalu memegang balik tangan Sarah dengan gemetar. “Jangan, Sarah... kamu jangan cari masalah di rumah ini. Aku kasihan sama kamu,” bisiknya dengan nada memelas, matanya bergerak liar ke arah pintu dapur, takut jika ada orang lain yang menguping pembicaraan mereka.

“Kenapa begitu? Apa yang Ibu sembunyikan dari saya?” kejar Sarah, tidak mau kehilangan momentum.

Marta membawa wajahnya sejengkal lebih dekat ke telinga Sarah. Suaranya merendah hingga nyaris menjadi desisan yang teramat lirih. “Aku tahu apa yang sudah kamu lakukan di kamar Den Remon malam itu... dan aku takut ada kamera video tersembunyi di kamarnya yang merekam semuanya. Jika kamu macam-macam, itu akan menjadi senjata Den Remon untuk menghancurkanmu di kemudian hari. Dia bisa menyebarkannya atau mengancammu dengan itu.”

Deg!

Sarah terdiam seketika, tubuhnya mendadak kaku bagai batu. Jantungnya terasa berhenti berdetak selama beberapa detik. 

Entah mengapa, dia merasa sangat yakin dengan perkataan Marta. 

Remon bukanlah pria bodoh yang ceroboh. Pria itu licik, manipulatif, dan penuh perhitungan. Sangat masuk akal jika bajingan itu memasang kamera rahasia untuk mengunci mulutnya agar tidak membocorkan pemaksaan yang terjadi malam itu.

“Kamu benar, Bu,” bisik Sarah dengan bibir bergetar hebat. Rasa jijik dan takut kembali merayapi dinding hatinya. “Tapi… tapi aku tidak bisa diam saja setelah tahu semua ini. Ayahku—”

“Sudah, Sarah. Sekarang tenangkan dirimu dulu,” potong Marta cepat, mengusap punggung Sarah yang menegang. “Nanti... nanti aku pasti akan bantu kamu untuk mencari pembunuh ayahmu.”

Deg!

Sekali lagi, jantung Sarah berdegup kencang dengan ritme yang menyakitkan. 

Kali ini matanya membelalak sempurna menatap pelayan tua di hadapannya. Bagaimana mungkin? Bagaimana wanita tua ini bisa tahu isi kepalanya, padahal sejak tadi Sarah belum berucap apa-apa tentang kematian ayahnya di hadapan Marta? Dia bahkan belum menceritakan hasil pertemuannya dengan Jeny dan Ranti!

Lihat selengkapnya