Brak!
Suara hantaman keras nampan plastik di atas meja dapur mengejutkan Sarah yang sedang duduk melamun.
Pikirannya yang tadi melayang jauh ke area belakang garasi seketika buyar. Dia mendongak dan mendapati Marta sedang berdiri di hadapannya dengan nafas memburu dan wajah yang memerah padam karena menahan amarah.
“Sudah aku bilang hati-hati!” marah Marta pada Sarah dengan suara yang ditekan serendah mungkin, namun sarat akan kepanikan yang mendalam. “Kamu sengaja mau membuat kita semua celaka, ya?”
Sarah menghembuskan napas panjang, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Maaf, Bu... aku tadi gegabah,” ucapnya lirih dengan nada menyesal. Dia tahu tindakannya menyelinap ke garasi sore tadi hampir saja mengacaukan segalanya.
“Kamu ini! Sudah Ibu bilang berkali-kali, jangan keluyuran!” bentak Marta lagi, tangannya berkacak pinggang. “AAH! Sekarang jadi Ibu yang kena marah dan dipertanyakan oleh Non Widuri! Dia curiga kenapa perawat baru bisa keluyuran sampai ke dekat area privasi keluarga. Untung saja Ibu pintar cari alasan!”
Sarah tetap menunduk dalam. Dia tahu dia terlalu berani dan ceroboh. Setelah merenungkan kejadian tadi, Sarah menyadari satu hal penting: rumah mewah ini pasti dilengkapi oleh sistem keamanan dan CCTV yang sangat banyak di setiap sudutnya.
Pergerakannya dari dapur menuju garasi kemungkinan besar telah terpantau, atau setidaknya Widuri kebetulan sedang mengawasi area tersebut. Dia tidak bisa lagi seenaknya keluar masuk ruangan di rumah ini tanpa rencana yang matang.
Sadar akan kecerobohan besarnya yang bisa berakibat fatal, Sarah memutuskan untuk mengubah strategi. Dia harus bermain cantik. Jika dia terus bergerak secara sembunyi-sembunyi, dia pasti akan tertangkap sebelum berhasil menemukan bukti apa pun. Sarah berpikir untuk main aman, memanfaatkan satu-satunya kelemahan terbesar yang dimiliki oleh Remon: syahwatnya.
Malam harinya, setelah memastikan Widuri telah pulang ke rumahnya dan suasana rumah berangsur sepi, Sarah melaksanakan rencana barunya. Dia menyiapkan segelas air putih dan beberapa butir obat resep pasca-kecelakaan di atas nampan.
Sebelum memasuki kamar tidur Remon, Sarah sengaja berkaca di cermin koridor.
Dia sengaja membuka tiga kancing teratas seragam perawatnya, memperlihatkan lekuk leher hingga sebagian dadanya yang mulus. Dia juga menyemprotkan parfum beraroma manis dan tajam yang dulu pernah dibelikan oleh mendiang ayahnya, aroma yang sangat memikat bagi pria manapun.
Dengan langkah yang diatur selembut mungkin, Sarah mengetuk pintu lalu masuk ke dalam kamar mewah tersebut. Remon sedang berbaring di ranjangnya dengan mata yang masih tertutup perban rapat.
“Tuan, waktunya minum obat,” ucap Sarah dengan nada suara yang sengaja dibuat begitu manis dan mendayu-dayu.
Sarah membantu Remon duduk dan meminum obatnya hingga tandas. Begitu gelas diletakkan kembali ke atas nakas, Sarah tidak langsung menjauh. Dia sengaja mendekatkan tubuhnya, membiarkan aroma parfumnya yang tajam langsung menusuk indra penciuman Remon. Efeknya instan, pria itu tampak merem melek, menghirup udara dengan serakah seolah terhipnotis oleh wewangian tubuh Sarah.
Melihat respons tersebut, Sarah melancarkan aksi nekatnya. Dia dengan sengaja mendudukkan dirinya di atas pangkuan Remon, membiarkan tubuh mereka saling menempel erat.