“Hey, sedang apa kamu di sana?!” teriakan melengking Widuri memecah keheningan sore itu, begitu menggelegar hingga mengejutkan Sarah yang sedang berdiri terpaku di dekat dinding pembatas halaman belakang.
Sarah terlonjak, jantungnya berdegup kencang. Dia menoleh dengan wajah pucat pasrah. “Aku…” Kalimatnya menggantung di udara, lidahnya mendadak kelu melihat tatapan mata Widuri yang seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.
“Jangan billing kamu mau jadi mata-mata di rumah ini, ya!” tuduh Widuri langsung, melangkah lebar-lebar menghampiri gadis muda itu dengan tangan bersedekap di dada. Napasnya memburu, dipenuhi rasa curiga yang teramat sangat.
Sarah menggelengkan kepala dengan cepat, berusaha membela diri dari tuduhan keji tersebut. “Tapi aku sudah izin Tuan Muda…”
“Tidak!” potong Widuri sengit, tidak mau mendengar penjelasan apa pun dari mulut Sarah.
Widuri begitu marah hingga wajahnya memerah padam. Tanpa ba-bi-bu lagi, dia langsung meraih pergelangan tangan Sarah dan menariknya dengan sangat kasar. Tak cuma menarik, wanita itu juga menyeret tubuh Sarah yang ringkih menyusuri jalan setapak taman hingga masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang. Sarah hanya bisa meringis menahan sakit di pergelangan tangannya, berusaha mengimbangi langkah lebar Widuri yang penuh emosi.
“Ada apa ini?” Sebuah suara berat memecah kegaduhan di dalam rumah.
Remon berjalan keluar dari koridor dengan langkah yang tidak stabil. Kedua tangan pria itu bergerak meraba permukaan tembok, mengandalkan sentuhan jari-jarinya untuk memandu langkah hingga tiba di ruang tengah.
Meskipun memiliki keterbatasan fisik pada indra penglihatannya, pendengaran Remon sangat tajam. Dia tahu ada keributan besar yang sedang terjadi di rumahnya. Suasana yang biasanya sepi kini mendadak memanas karena kepanikan yang dibawa oleh Widuri.
“Dia mau memata-matai kita, Remon! Apa kamu tidak dapat laporan dari petugas CCTV?” ketus Widuri dengan nada suara yang meninggi, meluapkan seluruh kesal dan kekhawatirannya yang mendalam.
Widuri kemudian melepaskan cengkeramannya dari tangan Sarah, lalu beralih menarik tangan Remon dengan kasar agar pria itu menghadap ke arah posisi Sarah berdiri. Dengan setengah berbisik namun penuh penekanan yang menusuk, Widuri memperingatkan, “Jangan sampai dia masuk ke ruangan itu. Kalau sampai dia tahu, kita bisa…”
“Mmm!” Remon mengerang pendek, memotong ucapan Widuri sebelum wanita itu membocorkan terlalu banyak hal penting di depan Sarah.
Ekspresi wajah Remon mendadak berubah menjadi sangat dingin dan tegang. Rahangnya mengeras, menyiratkan emosi yang tersulut akibat hasutan Widuri. Dia melangkah mendekati posisi di mana dia memperkirakan Sarah berada saat ini. Tanpa peringatan apa pun, dengan seringan angin, tangan kanan Remon melayang cepat ke udara menargetkan wajah manis yang berada di hadapannya.