"Kita mau ke mana?" tanya Sarah yang tangannya masih digenggam oleh sepupu Remon itu.
Langkah kaki mereka berdua bergesekan dengan aspal jalanan kompleks yang sepi, menjauh dari area rumah utama yang penuh dengan ketegangan.
Ranti menoleh sekilas, mempererat genggamannya untuk memastikan Sarah terus mengikutinya. "Kita pergi saja, jangan di sini. Paling tidak, kamu tidak dipecat oleh Remon.”
“Ya, kamu benar. Masih ada untungnya walau akhirnya aku sulit menemukan bukti yang kita cari di rumah itu,”
Sarah mendengus pelan, menahan langkahnya sejenak membuat Ranti terpaksa ikut berhenti. "Tapi, ini tidak adil; aku tidak boleh keluar dari rumah itu."
Ranti mengerutkan keningnya, menatap Sarah dengan tatapan tidak mengerti. "Tenang. Aku akan cari cara agar kita bisa kembali ke sana. Pokoknya kita ke rumah ujung perumahan dulu."
"Tapi kalau aku keluar dari rumah itu, akan sangat sulit buat aku untuk menyelidiki mobil Remon yang menabrak ayahku," jawab Sarah tegas. Matanya memancarkan kesungguhan yang mendalam, sebuah dorongan yang selama ini membuatnya bertahan menghadapi segala sikap buruk Remon. “Uh! Padahal buktinya tadi sudah di depan mata. Kenapa si WIduri itu tiba-tiba datang, sih?!”
Ranti menghela napas panjang, ekspresi wajahnya berubah masam. "Mmmm kamu benar juga," kesal Ranti. Dia melepaskan genggaman tangannya lalu bersedekap, memikirkan jalan buntu yang sedang mereka hadapi. "Tapi sudahlah. Kita turuti dulu kemauan sepupuku itu.”
Sarah menatap Ranti lurus-lurus, tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. "Aku masih bisa ke sana, kan?”
Ranti tidak menjawab.
“Ranti, aku yakin bisa masuk ke sana asal kamu bantu aku."
Ranti terdiam mendengar perkataan Sarah. Memang benar dia bisa masuk ke rumah sepupunya itu karena statusnya sebagai keluarga, tapi dia tidak cukup berani untuk melakukannya. Ketakutannya pada amarah Remon jauh lebih besar daripada rasa solidernya saat ini.
Melihat Ranti yang membisu, wanita cantik itu lalu melanjutkan langkahnya hingga ke rumah sepupunya di ujung perumahan.
Ranti berjalan di depan, memimpin jalan menuju sebuah bangunan yang terletak agak terisolasi dari rumah-rumah lainnya. Rumah itu memang sudah lama kosong, tapi Ranti sendiri tidak paham kenapa Remon menyuruh Sarah tinggal di rumah ini daripada menempatkannya di paviliun rumah utama atau tempat lain.
Begitu pintu depan dibuka yang memunculkan aroma ruangan yang lama tidak dihuni, Sarah melangkah masuk ke dalam ruang tamu.