Ranti mengikuti arah pandang Sarah menuju pintu belakang. Sebuah pintu kayu tua dengan cat yang sudah mengelupas, tampak rapuh namun menjadi satu-satunya harapan mereka untuk lolos dari pengawasan pria misterius di depan rumah.
"Pintu ini terhubung ke area kebun belakang yang berbatasan langsung dengan tembok pembatas kompleks," bisik Sarah sembari melangkah seringan kapas, berusaha tidak menimbulkan suara di atas lantai semen yang berdebu.
Ranti menelan ludah, sesekali melirik ke jendela depan. Pria bertopi hitam di luar sana masih berdiri bergeming, seperti elang yang siap menerkam. "Sarah, tapi tembok pembatas itu tinggi sekali. Bagaimana kita bisa lewat?"
"Lihat itu," Sarah menunjuk ke sudut halaman belakang melalui celah pintu yang berhasil ia buka sedikit. Di sana, tumpukan kayu bekas bangunan sengaja disusun bersandar pada tembok pembatas. "Remon mungkin pintar mengontrol orang, tapi dia tidak pernah peduli pada detail rumah yang tidak dia sukai. Tumpukan kayu itu cukup tinggi untuk membuat kita memanjat keluar."
Dengan gerakan cepat dan taktis, kedua wanita itu menyelinap keluar. Udara malam yang dingin menyergap, namun adrenalin yang berpacu membuat tubuh Sarah terasa panas. Sambil menahan napas, mereka merayap di antara semak-semak, menaiki tumpukan kayu, dan berhasil melompati tembok pembatas menuju jalan perkampungan warga yang berada tepat di balik kompleks mewah tersebut.
Begitu kaki mereka menapak di aspal luar, mereka tidak membuang waktu. Sarah segera memesan taksi daring menggunakan ponselnya, mengarahkan tujuan ke satu tempat: rumah kontrakannya yang lama.
Sepanjang perjalanan di dalam taksi, keheningan yang mencekam menyelimuti mereka. Sarah menatap keluar jendela, memandangkan lampu-lampu kota yang temaram.
Dadanya bergemuruh hebat. Di satu sisi, kilasan-kilasan masa lalu saat ia dan Remon masih menjalin kasih kembali berputar di otaknya. Senyuman pria itu, perhatian-perhatian kecil yang dulu terasa tulus, serta pesona intens yang selalu berhasil membuat Sarah luluh.
Bagaimana bisa pria yang pernah memelukku begitu erat, kini menjadi pria yang mungkin telah menghancurkan hidup keluargaku? batinnya perih.
Cinta itu masih ada, mengendap di sudut hatinya yang paling dalam sebagai racun yang melemahkan.
Namun, begitu mengingat bayangan wajah ayahnya yang terbujur kaku di rumah sakit akibat kecelakaan tabrak lari itu, jemari Sarah mencengkeram roknya kuat-kuat.
Tidak. Aku tidak boleh goyah. Remon harus membayar semuanya.