Malam yang mencekam di apartemen Jeny perlahan berganti menjadi pagi yang berkabut. Sarah sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali dia mencoba menutup kelopak matanya, bayangan wajah ayahnya yang terbujur kaku di ruang jenazah dan senyum menyeringai Remon datang bergantian bagai mimpi buruk yang nyata.
Sesuai rencana Jeny, berkas-berkas digital dan dokumen asli dari amplop cokelat itu harus segera diserahkan kepada pihak kepolisian yang bisa dipercaya. Menyerahkannya ke sembarang polisi sama saja dengan bunuh diri, mengingat gurita kekuasaan dan uang milik Remon telah menancap kuat di berbagai instansi.
Melalui jaringan koneksi rahasia yang dimiliki Jeny di dunia hukum, sebuah titik terang akhirnya muncul. Jeny berhasil menghubungi seorang perwira polisi muda yang dikenal memiliki integritas setinggi langit dan rekam jejak yang bersih dari suap. Namanya adalah Samy.
Siang itu, dengan pengawasan super ketat dari Ranti dan Jeny yang memantau lewat GPS, Sarah melangkah dengan waspada menuju sebuah kedai kopi tersembunyi di sudut kota. Tempat itu sengaja dipilih karena tata letaknya yang sepi dan memiliki banyak jalan keluar darurat.
Di dalam ruangan privat yang telah dipesan, seorang pria berbadan tegap dengan kemeja kasual yang rapi sudah duduk menunggu. Wajahnya tegas, namun tatapan matanya memancarkan keteduhan. Pria itu adalah Samy.
Begitu Sarah dan Ranti duduk, ketegangan di dalam ruangan itu begitu terasa. Namun, Samy dengan sigap mencairkan suasana dengan sikapnya yang sopan. Tanpa membuang waktu, Sarah langsung membeberkan semua yang terjadi. Dia mengeluarkan salinan berkas dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja, sementara Ranti membantu menceritakan kronologi pelarian mereka dari rumah ujung dan pengrusakan di kontrakan lama.
Samy mendengarkan dengan saksama. Lembar demi lembar berkas aliran dana, manipulasi utang, dan dokumen internal perusahaan Remon dia periksa dengan jeli. Semakin dia membaca, semakin mengeras rahang perwira muda tersebut. Gurat kemarahan yang tertahan tampak jelas di wajahnya.
"Ini sudah keterlaluan," ucap Samy, suaranya berat namun penuh dengan penekanan. Dia menutup berkas tersebut lalu menatap Sarah dengan pandangan mata yang tegas, seolah sedang menyalurkan seluruh kekuatannya. "Aku bersedia membantu penuh kasus ini, Sarah. Aku berjanji akan memberikan pengawalan ketat untukmu dan Ranti mulai detik ini. Remon tidak akan bisa menyentuh kalian, tidak selama aku masih mengenakan seragam ini."
Mendengar komitmen tersebut, Sarah merasakan setitik beban di pundaknya terangkat. Namun, kejutan belum berakhir. Samy menghela napas lega, lalu sebuah senyuman tulus yang sangat hangat terbit di wajahnya.