Peringatan!
Adegan ini mengandung fiksi semata. Mohon tidak untuk ditiru. Disarankan bijak dalam membaca. Terima kasih🙏😇
30 menit yang lalu
“Assalamualaikum, mama. Aku pulang,” kataku dengan lemas. Aku menengok ke arah ruang tamu. Tidak ada siapapun disana. “Dimana mama? Yumi juga tidak ada disini,” kataku sambil melepas sepatu dan kaos kaki. Ku letakkan sepatu tersebut di atas rak sepatu. Aku pun berjalan memasuki ruangan dengan wajah tertunduk lesu.
Samar-samar ku dengar suara dari arah ruang TV. Aku segera beranjak kesana, mengira mama yang sedang berada disana. Namun langkahku terhenti ketika melihat sosok ‘orang itu' sedang duduk disana sambil menonton TV. Entah kenapa hanya dengan melihatnya saja sudah membuatku naik darah.
“Hee .... !!!” seruku mengagetkannya. Pria tua itu langsung berdiri tegap. Aku tidak tahu kenapa dia malah melempar senyum lembut padaku. Matanya tampak begitu teduh.
“Hana, kamu sudah pul .... ”
“Katanya situ bisa jadi satpam! Tapi kenapa pintu pagar tidak dikunci?! Satpam macam apa yang tidak tahu ada orang masuk ke dalam rumah?!!” potongku cepat. Kulihat kepalanya menunduk. Senyumannya kian redup. Entah kenapa rasanya aku merasa puas menyakitinya dengan setiap kata yang keluar dari mulutku.
“Hana,” aku terkejut saat melihat Yumi yang memanggilku di dekat bawah tangga. Dia berjalan menghampiriku sembari berkata, “Tadi obasan pergi ke minimarket dengan Runa. Obasan meminta ojisan untuk tidak mengunci pintu rumah karena mereka hanya pergi sebentar. Obasan juga tahu kalau kamu dan Haru akan segera pulang ke rumah.”
Kulipat kedua tanganku dan melihat ke arah pria tua itu dengan tatapan tajam. “Tetap saja, sebagai satpam dia sama sekali nggak peka. Dia malah enak-enakan duduk di kursi sofa sambil menonton tivi. Sama sekali nggak bisa diharapkan.”
“Hana!” aku kembali terkejut mendengar suara bentakan Yumi. Aku pun melihatnya dengan tanda tanya. Aku tidak tahu kenapa Yumi malah menunjukkan raut wajah marah padaku. “Bagaimanapun ojisan itu adalah orang tua. Dia juga ayahmu. Kamu harus tetap bersikap sopan kepadanya!”
“Pernah! Dia juga ‘pernah' menjadi ayahku. Tetapi sekarang dan selamanya ayahku adalah Adiguna! Dia hanyalah orang luar.” tegasku kemudian.
“Hana .... !” bentak Yumi lagi. Pria tua itu langsung berdiri di tengah-tengah kami. Aku bisa melihat mata Yumi yang tidak berkedip sama sekali. Dia masih teguh dengan pendiriannya.
“Ano ... Daijoubu desu, Kurosawa-san,” ucapnya pada Yumi. Lalu melihat ke arahku. “Eto ... Hana ... ”
“Beraninya anda memotong pembicaraan kami! Pasti anda senang kan ada banyak orang yang berpihak kepada anda?!” teriakku di depan wajahnya. Dia melihatku dengan tatapan tidak percaya. Kudorong tubuhnya sampai terjungkal ke lantai. “Turunkan matamu itu! Berani sekali melihatku seperti itu. Pukul saja aku kalau anda berani. Ayo pukul!” kutampar-tampar pipi kananku di depannya. Kukira 'orang itu' akan segera berdiri dan memukuliku seperti dulu. Tetapi dia malah mengusap air matanya yang menetes begitu saja.
Aku terkejut melihatnya yang seolah-olah bertindak seperti seorang korban. Yumi segera mendekatinya dan membantu pria tua itu berdiri. Aku hampir tidak percaya melihat apa yang dilakukan oleh pria tua itu. 'Kenapa dia malah menangis?’ pikirku bingung.
“Hana, berhenti menyakiti ojisan. Kamu bukan seperti Hana yang kukenal!” pekik Hana.
Ku palingkan wajah ke samping sembari berkata dengan ketus, “Halah, drama!”
“Maaf, sebaiknya saya masuk ke dalam kamar saja,” pamit pria tua itu. Aku tidak ingin membuatnya hidup damai begitu saja. Dengan segera, aku menghalangi jalan di depannya. Tidak akan kubiarkan dia pergi dan lari begitu saja. Langkahnya terhenti. Dia kembali melihatku.
“Aku ingin kamu bereskan semua barangmu di ruang kamar tamu dan segera pindah di kamar pembantu. Mengerti?!” bentakku dengan mata melotot. Pria tua itu hanya menganggukkan kepalanya.
“Hana, kamu .... ” pria tua itu menahan Yumi yang hendak membentakku lagi. Aku pun semakin bersemangat untuk melampiaskan kebencianku pada ‘orang itu'.
“Nih!” kulempar lipatan kertas dari dalam saku seragamku. Pria tua itu memungut lipatan kertas yang terjatuh di lantai. Dibukanya kertas itu dihadapanku. “Di kertas itu tertulis sepuluh daftar keinginanku. Aku ingin kamu membelikan semua barang itu hari ini juga!”
Yumi ikut membaca kertas itu. Lantas wajahnya terlihat lebih terkejut daripada pria disebelahnya. “Hana, untuk apa aksesoris rambut dan peralatan rumah tangga sebanyak ini?”
“Yumi, lebih baik kamu diam saja. Ini urusanku dengan orang ini,” ucapku lagi. Lantas aku melempar sebuah amplop padanya. Amplop itu terjatuh di lantai juga. Pria tua itu memungutnya. Kali ini matanya terbelalak lebar.
Aku pun tertawa sinis padanya. “Beli semua daftar keinginanku dengan uang itu. Ingat! Jangan sampai anda kabur dengan membawa lari uangku. Aku nggak akan segan-segan melaporkan anda ke kantor polisi!”
“Hana! Kamu sangat keterlaluan!” teriak Yumi lagi. Wajahnya mulai merah padam. Pria tua itu memasukkan amplop dan lipatan kertas itu ke dalam saku kemejanya. Dia menepuk-nepuk punggung Yumi seraya berkata, “Hana benar, nak. Ini adalah urusan kami berdua. Kalian jangan bertengkar lagi karenaku ya.”
Yumi memanggil pria itu berkali-kali, namun pria tua itu tetap berjalan pergi keluar rumah. Hari ini aku sangat puas karena sudah memperlakukannya seperti dia yang selama ini memperlakukanku dengan buruk. Aku pun tersenyum dengan penuh kemenangan.
“Rasanya sangat menyenangkan ya?” tanya Yumi kemudian. Aku agak sedikit kaget melihat bulir-bulir air mata mulai menetes di pipinya.
“Yumi, kenapa kamu .... ”
“Hana yang kenapa?! Saya tidak pernah tahu kalau Hana bisa sekejam itu pada ayah.. Bukan! Pada orang yang lebih tua. Bahkan Hana yang sekarang lebih kejam daripada teman-teman kita di sekolah.”
“Di bagian mana aku kejam, Yumi? Aku hanya ingin menunjukkan bahwa tidak ada lagi namanya di sudut ruang hatiku dan mama! Dia sudah bukan siapa-siapa lagi bagi kami!”
“Tapi bukan dengan cara menyakitinya dengan semua kalimat itu. Apalagi dengan cara merendahkannya seperti itu!” pekiknya.