Luka Tanpa Asa 2

Aijin Isbatikah
Chapter #21

21| Kebencian yang Mengakar Kuat

Begitu pintu UGD terbuka, suara roda brankar berderit cepat memenuhi lorong. Beberapa perawat langsung menyambut dengan tatapan serius. “Pasien gantung diri, masih sadar!” teriak salah satu perawat. Nobuko dan Yumi berlari-lari kecil mengikuti beberapa perawat yang membawa Hana ke dalam ruangan. “Ibu-ibu, harap duduk di ruang tunggu dulu. Nanti akan kami sampaikan bagaimana perkembangan pasien setelah ini.”

Perawat tersebut segera menutup tirai. Sedangkan beberapa perawat lain dengan sigap mendekati Hana. Salah satu perawat memotong tali tambang yang masih tersisa di lehernya, lalu perawat yang lainnya segera memasang oksigen. Monitor detak jantung berbunyi, grafik naik-turun tidak stabil.

“Cek jalan napasnya! Ada luka di leher, siapkan alat suction!” kata dokter jaga sambil mengamati dengan senter kecil. Suasana tampak tegang. Namun mereka melakukan tugas dengan terlatih. Perawat lain sudah memasang infus. Tidak beberapa lama kemudian, kondisi Hana mulai stabil kembali. Ia masih menangis tertahan, suaranya parau. Seorang dokter berjongkok di samping brankar. Beliau memegang tangannya pelan, berusaha memberikan rasa aman, “Mbaknya sudah selamat sekarang. Tenang saja, mbak. Kami di sini untuk membantu.”

Setelah kondisi fisiknya sudah benar-benar stabil, dokter mendekatinya kembali. Hana berusaha untuk berbicara. Namun suaranya terdengar parau dan tersendat-sendat, nyaris tidak keluar sama sekali. Dokter tersebut berkata dengan nada lebih lembut, “Tidak perlu memaksakan diri untuk berbicara. Lebih baik mbaknya beristirahat dulu. Nanti saya akan memanggil keluarga mbaknya kesini ya.”

Hana mengangguk lemas. Dokter jaga tersebut segera menyampaikan kondisi Hana pada keluarga Hana yang menunggu di ruang tunggu. Adiguna dan Haru yang sedari tadi masih memarkir kendaraan, baru saja masuk ke dalam ruang UGD. Nobuko melihat suaminya dengan isak tangis. Ia menyampaikan kembali pesan dari dokter sebelumnya dengan nada getir, “Hana selamat. Tapi dia harus menjalani perawatan disini untuk sementara waktu. Psikiaternya juga harus tahu kondisinya saat ini.”

Adiguna mengusap kepala Nobuko dengan lembut. “Tidak apa-apa, Nobuko. Yang terpenting sekarang, Hana membutuhkan dukungan dan perhatian lebih dari kita. Kita semua harus tetap berada di sisi Hana sampai dia pulih kembali.”

Haru terduduk lemas di kursi ruang tunggu. Ia merasa bersyukur bahwa Tuhan masih memberikan Hana kesempatan untuk hidup. Namun di sisi lain, dirinya masih merasa dikecewakan dengan sikap Hana yang sekeras batu. “Bagaimana bisa dia melangkah maju kalau dirinya sendiri tetap bersikeras menuruti pemikirannya yang salah?! Ugh!” desisnya kalut.

Yumi mengusap-usap punggung Haru. Sebenarnya Yumi juga ingin marah pada Hana karena sudah membuat semua orang mencemaskannya, tetapi kemarahannya dikalahkan dengan rasa sayang dan kepeduliannya yang besar kepada Hana. Dia merasa bodoh karena telah membuka rahasia yang telah melukai banyak orang, termasuk Hana.

Tadinya dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri apabila dia benar-benar sudah kehilangan Hana. Setelah mendengar kabar dari dokter membuat Yumi memiliki secercah harapan untuk bisa memperbaiki hubungannya dengan sahabat terdekatnya itu. “Jangan salahkan dia, Haru. Suatu keajaiban dia bisa bertahan sampai sekarang. Saya yang salah karena tidak bisa memahami keadaannya dengan baik. Saya adalah teman yang bodoh!”

***

Haru memarkir mobil di tempat parkir rumah sakit. Dia turun dari mobil bersama dengan Reta dan Kusniyah. Kemudian mereka mengobrol sambil berjalan masuk di koridor rumah sakit.

“Ta, Kus. Kalau kalian merasa keberatan bertemu dengan Hana saat ini, aku tidak akan memaksa kok,” ucapan Haru membuat kedua gadis itu melihat satu sama lain.

Kusniyah menggerutu, “Cih, kamu anggap kita ini apa?”

“Apa?” tanya cowok itu tidak paham. Kusniyah menghentikan langkahnya. Sontak kedua temannya ikut berhenti.

“Haru, bukannya tadi kamu yang mengajak kami untuk bertemu dengan Hana?” imbuh Reta.

Cowok itu mengangguk dan menanggapi, “Mengetahui kalian yang sedari tadi pagi mempertanyakan terus keberadaan Hana membuatku berpikir kalau kehadiran kalian bisa menjadi support system untuknya. Tapi setelah kita kesini dan kalian sudah mengetahui apa yang terjadi padanya, aku merasa kalau kehadiran kalian disini bukanlah keputusan yang tepat.”

“Jangan berbelit-belit deh! Langsung saja keluarkan apa yang ingin kamu katakan,” ujar Reta greget. Cowok itu tampak ragu untuk mengatakan sesuatu.

“Maksudmu nanti kita takut saat menemui Hana?” tebak Kusniyah. Haru menunjuk-nunjuk ke arahnya seakan-akan gadis itu bisa menebak pikirannya secara tepat.

“Lebih dari itu. Aku takut kalian akan menyesal dan berhenti untuk menjadi temannya.”

Kedua gadis itu terperanjat. Kusniyah langsung menggeplak kepala belakang Haru sambil berjinjit. Cowok tinggi semampai itu mengaduh kesakitan.

“Kamu anggap kita ini apa sih?! Apa kami berdua terlihat mau berteman dengan Hana hanya di saat senang-senangnya saja?” seru Kusniyah gusar.

Reta merangkul bahu Kusniyah sembari berkata, “Hey, Kus. Rendahkan suaramu. Kita sedang berada di rumah sakit.”

“Jadi ... Kalian masih mau menemuinya?” tanya Haru sambil mengusap-usap bagian belakang kepalanya akibat pukulan telak Kusniyah. Kusniyah menghela nafas panjang seolah-olah baru saja mengeluarkan beban yang besar dari dadanya.

Kemudian Kusniyah tersenyum dengan tatapan sinis, “Ingin rasanya kujambak rambutmu saat ini juga.”

“Eh ... Ehh ... Jangan gitu dong,” tanggap Haru sambil mundur beberapa langkah. Reta ikut berdecak kesal.

“Haru, intinya ... Andai saja Hana berada di posisi kami, kami berdua juga yakin kok kalau dia akan melakukan hal yang sama. Hana akan menemui dan mendukung kami,” ucapan Reta membuat Haru tercenung. Gadis berambut sebahu itu melipat kedua tangannya dan bertanya balik, “Lalu bagaimana denganmu? Jika kamu jadi kami, menjadi salah satu teman terdekatnya dan bukan bagian dari keluarganya, apa kamu akan melakukan hal yang sama pada Hana?”

Haru menundukkan kepala dan hanya bergumam, “Aku .... ”

“Haru pasti akan selalu di sisi Hana. Ya kan, Ru?” ketiganya terkejut melihat kehadiran Zeno. Haru meminta penjelasan pada Reta dan Kusniyah. Pasalnya Haru meminta mereka agar kondisi Hana perlu disembunyikan untuk sementara waktu dari teman-teman lainnya dan membiarkan mereka berdua saja yang tahu. Reta menyadari tuduhan Haru padanya.

“Hei, Ru. Bukannya tadi kamu menceritakan kondisi Hana pada kami bertiga? Aku, Kusniyah, dan Zuna. Jelas saja Zeno tahu dari siapa.”

Haru menepuk jidatnya. Ia lupa akan satu orang itu. Zeno tersenyum kecil, menahan tawanya. Mereka berempat kembali berjalan bersama.

“Zen, aku tahu kalau kamu selalu peka dengan keadaan Hana. Tapi lebih baik kamu nggak perlu menjenguknya deh,” kata Haru dengan wajah cemberut. Akhirnya Zeno tertawa lepas.

“Kamu masih mengira kalau aku masih belum menyerah dengan perasaanku kan?” tebak Zeno. Haru mengerutkan keningnya. “Zuna yang cerita tadi. Mungkin bisa aku luruskan sekarang. Memang nggak mudah melupakan seorang Hana. Aku sudah berusaha dan saat ini aku masih berada di jalan itu. Jadi kamu nggak perlu khawatir.”

Wajah Haru masih merengut. Dia tidak habis pikir kenapa dia selalu merasa tersaingi dengan keberadaan Zeno. Cowok berkacamata itu menepuk punggungnya.

“Aku kesini hanya untuk mewakili Zuna yang tidak bisa datang menemui Hana kok.”

Kusniyah berdecak kesal. “Alaaa ... Nggak perlu sungkan, Zen. Embat ajah tuh si Hana kalau Haru masih terus-menerus marah sama Hana. Kelihatan kok kalau dia masih belum memaafkan Hana.”

“Kuskus, mulutnyaa ... diam atuh!” gumam Reta sambil merangkul Kusniyah sambil mencoba membungkam mulut temannya itu. Kusniyah berusaha menangkis tangan Reta dengan beraksi bak gerakan kungfu. Zeno tertawa melihat kelakuan kedua temannya. Sementara Haru masih terdiam dan melamun sedari tadi.

Pikirannya melayang pada kejadian semalam. Menemukan Hana yang tergantung begitu saja di kamarnya membuatnya hampir hilang kesadaran. Dia tidak ingin kehilangan Hana. Tetapi dia juga masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Hana sudah membohonginya begitu lama. Padahal Haru merasa kalau Hana selalu terbuka kepadanya. Tetapi kenyataannya berbeda. Haru merasa jika hanya dirinyalah yang menganggap serius hubungan yang mereka jalani.

***

Moushiwake nai, Hana-chan,” Yumi membungkukkan setengah tubuhnya di hadapan Hana yang sedang berbaring di atas ranjang pasien. Setelah Hana dipindahkan ke ruang rawat inap, tidak henti-hentinya Yumi memandangnya lekat-lekat.

Gadis itu teringat kembali saat dokter jaga menghampiri Nobuko dan dirinya. Keduanya langsung berdiri. Wajah mereka penuh rasa cemas.

Lihat selengkapnya