Luka Tanpa Asa 2

Aijin Isbatikah
Chapter #22

22| Kemajuan

Hari-hari kian berlalu. Setiap Haru mengantar Yumi dan Nobuko untuk mengambil baju ganti di rumah, Bima terus-menerus bertanya bagaimana kondisi Hana. Nobuko pun mulai melunak pada mantan suaminya. Bagaimanapun juga, Nobuko merasa berhutang budi pada Bima yang sudah menyelamatkan Hana waktu itu. Di sisi lain, Adiguna tetap bekerja di pagi hari. Sepulang dari kerja, dia juga ikut menemani Hana di malam hari. Sedangkan Runa dirawat oleh bu Hermawan untuk sementara.

Siang itu, Adiguna memberi kabar pada Bima melalui telepon kalau Hana sudah diperbolehkan pulang. Bima merasa senang mendengar kabar baik itu. Sepanjang waktu ia bekerja sambil bersiul-siul. Dia tidak mampu menyembunyikan betapa bahagianya dirinya saat mengetahui keadaan anak semata wayangnya kian membaik.

Malamnya, sepulang kerja, Bima masuk ke dalam rumah dengan wajah sumringah. Diletakkannya sepatu ke dalam rak dengan tergesa-gesa.

“Assalamualaikum,” ucapnya saat mendapati Adiguna dan Nobuko sedang duduk bersama di ruang tamu.

“Waalaikumsalam,” jawab Adiguna dan Nobuko secara bersamaan. Bima memilin-milin bajunya. Senyuman terus menghiasi bibirnya.

“Hana?” tanyanya pada keduanya. Nobuko menunjuk ke arah ruang TV. Bima menengok kesana. Dia bergegas menemui Hana yang sedang menonton TV. Langkahnya terhenti ketika berhadapan dengan anak perempuan yang dirindukannya. “Syukurlah, Hana. Kamu baik-baik saja,” ucapnya penuh rasa syukur. Matanya mulai berkaca-kaca. Hana masih tercenung melihat kehadiran ayah kandungnya.

Sebenarnya Hana sendiri cukup kaget melihat Bima yang langsung menghampirinya. Dia bisa melihat guratan bahagia dari wajah Bima. Hal itu membuat Hana agak canggung.

“Minggir. Anda menghalangi saya yang sedang menonton tivi,” ucapnya ketus. Bima segera duduk di sebelah Hana. Pria itu terus melihat Hana yang sedari tadi masih menatap lurus layar TV. Hana menjadi semakin canggung. Tapi dia mencoba untuk tetap tenang. Dia sudah tidak punya tenaga lagi untuk melampiaskan amarahnya pada ayah kandungnya.

“Hana, kamu tahu hari terbahagia dalam hidupku?” Bima berbicara lagi. Hana tidak menjawab. Bima tersenyum sambil ikut menatap lurus di layar TV. “Hari dimana kamu lahir di dunia ini membuatku sangat bahagia. Karena wajahmu cantik seperti bunga dan aroma yang kamu pancarkan wangi seperti bunga, saya yang memberikanmu nama Hana Asuka. Ibumu menambahkan Miyazaki sebagai bagian dari marganya. Miyazaki Hana Asuka yang artinya anak perempuan yang memiliki aroma seperti bunga.”

Hana merasa bingung mendengar Bima yang secara tiba-tiba bercerita tentang masa lalu. Dia ingin sekali menghentikan Bima berbicara lebih lanjut, tetapi pada akhirnya ia memutuskan untuk tetap diam tidak mengacuhkannya. Bima kembali berbicara, “Hana kecil yang saya kenal selalu tertawa manis dan cantik seperti bunga. Saat itu kita bertiga hidup sangat bahagia. Sampai peristiwa kebangkrutan itu terjadi. Saya yang tidak pernah jatuh, merasakan bagaimana rasanya jatuh sejatuh-jatuhnya.”

Ingin sekali Hana membungkam mulut Bima saat itu juga. Gadis itu tahu kemana arah cerita itu dan dia tidak ingin pria tua itu membuka kembali luka lama.

“Saya mulai memperlakukan istri dan anak saya semena-mena. Tidak hanya menganiaya secara fisik, tetapi juga psikis. Kebahagiaan itu hancur dalam sekejap. Saya tahu seberapa banyak saya meminta maaf pada kalian berdua, semua itu tidak dapat mengganti rasa trauma dari kehidupan buruk yang pernah kalian alami,” Bima terus bercerita tanpa menengok sedikitpun ke arah Hana. Kedua tangan gadis itu mulai menggenggam kuat, berusaha tidak mengenang kembali gambaran dari berbagai peristiwa kelam di masa lalunya.

“Setelah kalian meninggalkan saya sendirian, mata hati saya mulai terbuka. Setiap hari saya merutuki diri ini karena telah menyia-nyiakan kalian berdua. Saya sempat mencoba melenyapkan diri sendiri, tetapi wajah anak secantik bunga itu terus membayangiku. Pada akhirnya saya memutuskan untuk mencari kalian hanya untuk mendapatkan pintu maaf dari kalian. Dengan begitu, mungkin ... Jika saya ingin melakukan bunuh diri lagi, saya sudah tidak punya beban lagi. Tidak tahu diri memang, tapi saya rasa hal itu adalah satu-satunya jalan untuk kedamaian hidupku,” cerita Bima sambil menahan air matanya yang hampir tumpah. Mendengar kisah Bima dari jauh, Nobuko hendak menghampiri mereka untuk meminta Bima menghentikan pembicaraannya. Tetapi Adiguna menahan tangannya dan memberinya isyarat untuk tetap duduk disampingnya.

Bima terus berbicara, “Tapi setelah mengetahui keadaanmu yang seperti ini membuatku benar-benar menjadi orang jahat. Kamu benar, Hana. Saya tidak pantas lagi di panggil ‘ayah' olehmu. Mana ada seorang ayah yang tega menyisakan luka batin sampai menghancurkan hidup anaknya sendiri. Egois. Saya memang egois. Tidak dibenarkan jika aku meminta maaf pada kalian hanya untuk menciptakan rasa damai di hidupku. Sedangkan aku tahu bagaimana hancurnya hidupmu karena ku. Saya benar-benar ingin menghancurkan diri sendiri sampai menjadi puing-puing tak tersisa. Saya tidak pantas untuk dimaafkan.”

Hana semakin mempererat genggaman tangannya. Dia juga hampir menangis. Tetapi dia terus menahan diri. Pada akhirnya Bima menoleh ke arahnya. “Jadi ... Saya memutuskan untuk tidak lagi mengganggu hidup kalian. Saya akan menjalani hidup sendirian sepanjang hidup saya sebagai hukuman yang pantas saya dapatkan.”

Hana meregangkan tangannya. Perlahan ia menoleh ke arah Bima dengan masih menahan riak-riak air mata yang hampir menyeruak. “Anda benar-benar mau pergi?” tanyanya perlahan.

Bima menganggukkan kepala seraya berkata, “Ya, saya janji akan segera pergi dari sini. Tapi untuk sementara ijinkan saya tinggal untuk beberapa waktu. Setelah itu, saya akan benar-benar pergi jauh dari sini. Mulai sekarang hiduplah bahagia ya, Hana. Kamu pantas hidup bahagia bersama dengan keluargamu yang sekarang.”

Harusnya Hana merasa senang mendengar keputusan Bima untuk segera pergi dari rumahnya. Tetapi entah kenapa dadanya kian terasa sesak. Hana benar-benar tidak tahu harus menjawab apa ataupun bagaimana menunjukkan mimik gembira saat mendengar kabar itu. Dia menjadi benar-benar terpaku hingga tidak menyadari sosok pria paruh baya disampingnya sudah berjalan pergi memasuki kamarnya.

***

Yumi memakan cemilan bersama dengan Zuna di depan halaman rumah. Zuna menuangkan jus jeruk di gelas tamunya. Yumi hendak meminumnya, tetapi diurungkannya.

Dia pun membawa gelas itu dan berjalan ke arah Zeno yang sedang mencuci motor. Yumi ikut berjongkok di sebelah pria yang sedang tidak mengenakan kacamatanya itu. Ditempelkannya gelas itu di pipi kiri Zeno. Cowok itu terkejut saat mendapati sesuatu yang dingin di pipinya. Yumi pun terkekeh.

“Yumi?” Zeno menyipitkan matanya, berusaha melihat jelas gadis disebelahnya. Giliran Yumi yang terkejut saat wajah Zeno semakin dekat dengan wajahnya. Sebuah tangan menghalangi jarak diantara keduanya.

“Eiits .... !!! Kalian terlalu dekat!” seru Zuna. Keduanya reflek bergeser menjauh. Zuna memberikan kacamata kepada kakaknya. Zeno segera mengenakan kacamatanya. Zuna kembali duduk di kursi seraya menggerutu, “Selalu saja lupa sama kacamata.”

Zeno dan Yumi saling melempar senyum. Diberikannya segelas jus jeruk pada Zeno. Cowok itu segera meneguk sampai habis.

“Sepertinya kamu sangat haus..,” lontar Yumi secara tiba-tiba.

“Oh ... Eh, ya. Aku haus,” jawab Zeno cepat. Diberikannya lagi gelas pada Yumi dan ia pun kembali menyiram sepeda motor didepannya yang penuh busa dengan selang air pancuran. Yumi masih berdiri di dekatnya. Ia hendak mengatakan sesuatu, tetapi ditahannya kembali.

“Kak, sepertinya ada yang mau ngobrol dengan kakak tuh,” celetuk Zuna lagi. Sedari tadi dia menahan tawa ketika melihat gelagat aneh dari Yumi. Cowok itu menengok Yumi sebentar, lantas kembali fokus dengan motor di depannya.

“Kenapa Yumi? Ada yang ingin kamu katakan?” tanyanya kemudian. Yumi mengatupkan kembali mulutnya. Ia berbalik melihat Zuna yang lagi nyengir melihat kecanggungannya. “Eto .... ” gumamnya pelan. Lalu ia mendongak ke atas langit. “Aa ... Bulannya bagus banget!”

Zeno dan Zuna spontan ikut mendongak. Keduanya kembali melihat Yumi dengan heran. “Bu ... Bulan purnama ya ha-haa .... ” ucap Yumi dengan tawa terbata-bata.

Zeno mematikan keran air dan kembali memperhatikan Yumi sepenuhnya. Gadis itu memilin-milin bajunya hingga kusut. “Ada apa, Yumi?” tanya Zeno lagi. Yumi menundukkan kepala sambil menahan diri untuk tidak menangis.

Gadis itu mulai berbicara pelan, “Dua hari lagi saya akan pulang.”

Zeno terkejut. “Hah? Secepat itu? Apa kamu nggak bisa tinggal beberapa hari lagi disini?”

Lihat selengkapnya