Hari ini adalah hari terakhir Yumi berada di Indonesia. Jadi aku berencana membuat kejutan terakhir untuknya. Siang itu, Yumi datang ke sekolah dengan ojek online yang sudah ku pesan sebelumnya. Sesampainya di sekolah, aku langsung menariknya dan berlari-lari kecil melalui lorong sekolah. Saat hampir mendekat di dekat studio musik, aku pun memintanya untuk menutup matanya. Yumi menuruti perkataanku. Aku pun menuntunnya sampai masuk ke dalam studio musik.
“Yumi-chan, bukalah matamu,” ucapku menahan rasa gembira di hatiku. Yumi membuka matanya perlahan.
“SURPRISE..!!!” Yumi terkejut melihat kak Haru dan anggota band nya berdiri di dekat alat musiknya masing-masing. Reta dan Kusniyah langsung memotret kami semua dengan ponsel masing-masing.
“Minna ....” Yumi tidak mampu berkata-kata. Dia tampak terkejut sekaligus terharu ketika melihat spanduk buatan tangan yang bertuliskan ‘Sampai Jumpa, Yumi! Tetaplah ingat kenangan kita di Indonesia yaa!’
Reta dan Kusniyah langsung memeluk Yumi secara bersamaan. Yumi pun membalas pelukan mereka. Aku segera mengambil mic dan memberi aba-aba untuk mulai memainkan musik. Yumi kembali terkejut saat mendengar kami memainkan musik. Reta dan Kusniyah mengajaknya duduk bersama sambil menonton pertunjukan yang sudah kami siapkan untuknya.
Aku dan kak Haru mulai bernyanyi. Yumi semakin terkejut karena kami sedang memainkan musik yang pernah dia ajarkan sebelumnya. Mereka bertiga tampak menikmati alunan musik yang kami mainkan.
“... Boku ga saki ni kite mieruyo ... Kimi ga sukida ....” aku dan kak Haru mengakhiri lagu kami. Tanpa sengaja mata kami saling bertemu. Aku memberikan senyum termanisku padanya, tetapi kak Haru langsung memalingkan wajahnya.
‘Apa dia masih marah padaku?’ pikirku sedih. Yumi, Reta dan Kusniyah bertepuk tangan. Aku kembali melihat ke arah mereka sambil tersenyum tipis.
“Saya tidak menyangka kalau kalian cepat sekali belajar. Musik kalian ... Mantap!” Yumi mengacungkan kedua jempolnya.
“Awalnya memang susah sih. Tapi yaa ... berkat guru Yumi, semuanya menjadi sangat mudah,” puji Eldo.
Iwan dan Ridwan ikut berseru secara bersamaan, “Terima kasih, guru Yumi!”
“Ah ... Itu semua kerja keras kalian. Saya hanya sedikit membantu saja,” kata Yumi sambil tersipu malu. Zeno berjalan mendekatinya. Aku bisa melihat mata Yumi membelalak lebar saat Zeno menepuk kepalanya pelan.
“Arigatoo, sensei,” ucapnya sambil tersenyum. Wajah Yumi kian memerah. teman-teman mulai menggoda keduanya. Aku hanya bisa tersenyum melihat kedekatan keduanya.
Semalam Yumi bercerita bahwa ia sudah menyatakan perasaannya pada Zeno. Tetapi Yumi tidak berharap lebih. Dia merasa yakin kalau diriku masih ada di hati cowok pujaan hatinya. Padahal aku sudah mengatakan berulang kali bahwa Zeno terlihat sudah move on dariku. Tetapi Yumi masih bersikukuh dengan keyakinannya.
“Walaupun dia tidak membalas perasaanku sekalipun, saya tetap tidak menyerah. Saya akan selalu menyukainya.”
Malam itu, aku membantunya memasukkan baju-baju di dalam kopernya. Tidak lupa dimasukkannya cemilan ringan dari lokal yang ia beli sebelumnya. Seperti malam-malam sebelumnya, Yumi tidak langsung tidur. Kulihat dia merajut lagi diam-diam di tengah malam. Sebenarnya aku penasaran sekali kenapa Yumi terus saja merajut. Jika dia tidak bisa tidur di malam hari, bukanlah dia bisa melakukan aktivitas yang lain? Aku menjadi sedikit menduga bahwa dia ingin memberikan hasil rajutannya untuk seseorang.
Setelah mengobrol lama, kami pun bersiap untuk pulang. Reta menemani Kusniyah mengembalikan kunci ruang studio musik di ruang guru. Eldo, Ridwan, dan Iwan pun pergi lebih dahulu ke tempat parkir. Hanya aku, kak Haru, Yumi, dan Zeno yang berjalan beriringan di lorong sekolah. Yumi dan Zeno tampak mengobrol dengan menggunakan bahasa Jepang campur bahasa Indonesia. Tanpa sadar mereka berjalan mendahului kami. Aku menengok ke arah kak Haru yang sedari tadi masih diam.
“Kak Haru masih marah padaku?” tanyaku dengan nada hati-hati. Cowok tinggi semampai itu tidak melihat ke arahku. Pandangannya masih lurus ke depan.
“Masih,” jawabnya singkat. Aku sudah menduga hal itu. Ingin rasanya aku menggamit lengannya dan menghiburnya seperti biasanya. Tetapi aku menyadari bahwa kak Haru masih membutuhkan ruang.
“Aku tahu kalau kesalahanku sangat fatal. Aku tidak ingin meminta maaf padamu, kak. Tetapi aku ingin berterima kasih padamu.”
Kak Haru menghentikan langkahnya. Aku pun ikut berhenti. Kami mulai saling memandang dalam waktu yang cukup lama. Aku pun berbicara lagi, “Melihat kak Haru yang masih marah padaku membuatku akan berpikir ulang jikalau melakukan hal bodoh seperti itu lagi. Ada kalanya beberapa orang yang sayang sama kita nggak ingin dibodohi seperti itu. Terima kasih, kak. Aku tahu marahnya kamu itu menunjukkan seberapa besar rasa sayangmu padaku.”
Kak Haru tampak tertegun. Aku pun kembali tersenyum padanya. Zeno berteriak memanggil kami dari kejauhan. Aku pun berjalan pergi mendahului kak Haru yang masih terdiam di tempatnya. Tak lama kemudian langkahnya terdengar lagi.
Sesampainya di tempat parkir, Yumi mengiyakan ajakan Zeno untuk naik motor bersama. Sementara kak Haru masih terus saja diam. Sepanjang perjalanan, kami sama-sama diam membisu. Berbeda dengan Yumi dan Zeno yang tampak mengobrol sambil sesekali tertawa.
Aku tidak tahu apa yang tengah dipikirkan oleh kak Haru. Kalau dipikir-pikir, aku tidak pernah bisa membaca apa yang ada dipikirannya. Terkadang Kak Haru tampak begitu misterius bagiku. Sisinya yang seperti itu mengingatkanku akan kali pertama pertemuan kami di bandara.
***
Sore itu Yumi akan diantar kak Haru menuju bandara di Surabaya. Aku memilih untuk tidak menemaninya karena aku tahu betapa canggungnya suasana di mobil saat perjalanan pulang. Kak Haru pasti juga akan merasakan hal yang sama.
Yumi memelukku erat di depan halaman rumah. Kemudian dia juga memeluk mama seraya mengucapkan terima kasih. Ia juga menggendong Runa sambil menciuminya hingga adikku tertawa karena geli.
Kak Haru menyalakan mesin mobilnya. Kukira Yumi akan segera masuk ke dalam mobil, tetapi ternyata dia mengeluarkan kotak besar dengan pita di tengahnya. Diserahkannya kotak itu padaku.
“Yumi!” belum sempat Yumi berbicara, Zeno berteriak memanggilnya. Cowok itu segera menghampirinya. Keduanya pun saling berhadapan sambil terus melempar senyum satu sama lain. “Apa aku boleh ... minta emailmu?”
Yumi menganggukkan kepalanya. Zeno segera menyerahkan ponselnya padanya. “Ketiklah emailmu disini.”
Gadis itu menurut. Ia mengetik email dan menyerahkan kembali pada Zeno. “Aku nggak akan mengatakan sayonara padamu. Karena aku ingin terus berkomunikasi denganmu.”
Yumi terperangah mendengarnya. Kemudian dia tersenyum lagi seraya menyerahkan kotak berpita itu pada Zeno.
“Untukku?” tanya Zeno seraya menunjuk diri-sendiri. Yumi mengangguk lagi. Kali ini dengan wajah merah merona.