Sebulan kemudian
Tidak terasa hari demi hari kulewati dengan perasaan ringan. Aku pun mulai rutin meminum obat dan pergi ke psikiater tanpa di dampingi lagi. Anehnya, sekarang aku juga jarang bermimpi buruk. Diriku mulai memiliki kemauan untuk hidup dan lebih memilih untuk tidak lagi menentang keberadaan ‘orang itu'. Memaafkan kesalahan yang pernah diperbuatnya memang masih sulit bagiku, namun aku memahami bahwa bukanlah kuasaku untuk menghukumnya.
Selain itu, aku juga sering mengobrol dengan Zuna melalui chat. Aku senang bisa berkomunikasi kembali dengan Zuna, walaupun hanya sebatas menelepon maupun melalui chat. Kami berdua memupuk kembali hubungan persahabatan kami dengan baik. Aku harap suatu hari papa dan mama memperbolehkanku untuk dekat kembali dengan Zuna.
Sedangkan kak Haru ... Dia masih bersikap dingin padaku. Walaupun begitu, dia tetap mau membocengku dengan motornya saat pergi dan pulang sekolah. Aku merasakan jarak yang jauh darinya. Entah apa hubungan yang kami jalin sekarang? Kakak-adik? Ataukah sebagai pacar? Aku tidak tahu lagi. Aku sudah sangat lelah memikirkannya. Jadi yang aku lakukan saat ini hanyalah terus melangkah maju. Apalagi sekarang aku sudah akan naik ke kelas tiga, aku harus lebih fokus belajar.
“Jadi kalian belum berbaikan? Ya ampun, Haru itu pendendam sekali,” keluh Kusniyah. Dia makan bakso di kantin bersamaku.
“Tapi aku nggak masalah. Akan aku tunggu kapanpun sampai dia siap memaafkanku.”
“Hmm ... Melihat caramu sekarang ini sungguh bertolak belakang dengan caramu dulu deh.”
“Hah? Maksudnya?” tanyaku bingung. Kusniyah tidak melanjutkan obrolan. Dia masih menikmati pentol beserta menyesap kaldunya.
“Hey, guys. Boleh ikutan gabung?” aku agak terkejut melihat kedatangan Zeno. Dia membawa semangkok mie pangsit. Kugeser dudukku. Zeno pun duduk di sebelahku.
Kusniyah berbicara lagi seraya menunjuk ke arah Zeno, “Hmm ... Kamu bisa tanya Zeno juga. Dia pasti juga merasa ada yang berbeda dengan caramu bersikap pada Haru.”
Kusniyah melahap pentolnya lagi. Sedangkan Zeno masih tidak mengerti dengan penjelasan gadis berkerudung putih itu. Aku pun kembali mengulang perkataan Kusniyah padaku sebelumnya. Zeno malah tertawa terbahak-bahak.
“Ada yang lucu?” tanyaku heran. Kusniyah yang masih mengunyah makanannya juga ikut tertawa. “Guys, serius deh.”
Zeno pun menjelaskan, “Hana kamu masih ingat nggak sih bagaimana sikapmu dulu? Selalu mengekor pada Haru kemanapun dan di manapun dia berada.”
“Yup. Seperti anak kucing yang ngintilin induknya,” imbuh Kusniyah.
Zeno kembali melanjutkan, “Tapi sekarang dengan tenangnya kamu lebih memilih untuk menunggunya dan memberinya ruang. Apa kamu nggak merasa takut kalau hubungan kalian bisa semakin berjarak?”
Aku pun menyadari betapa berbedanya sikapku dulu dan sekarang pada kak Haru. “Aku tidak akan serta merta mengejarnya lagi, apalagi hanya untuk memaafkanku secara paksa. Aku ... hanya ingin dia memahami apa yang sebenarnya dia inginkan.”
Zeno menepuk-nepuk pundakku seraya berkata, “Aku akui ternyata sekarang Hana sudah semakin dewasa ya ....”
“Eh, betewe akhir-akhir ini Haru tuh selalu menghilang setiap jam istirahat loh,” aku pun ikut mengangguk mendengar perkataan Kusniyah.
“Kamu tahu nggak dia kemana, Zen? Apa dia ngeband sama kalian di ruang studio musik?” tanyaku juga. Zeno berpikir sesaat.
“Dia jarang berlatih ngeband dengan kami sekarang. Pernah aku telepon dia saat jam istirahat. Haru bilang dengan suara pelan kalau dia sedang berada di perpustakaan. Mungkin dia sering kesana. Tapi aku nggak tahu apa yang dilakukannya disana.”
“Ya jelas baca buku dong. Apa lagi coba?” tebak Kusniyah.
Aku mulai merasa resah. “Kak Haru lebih memilih membaca buku daripada makan saat jam istirahat. Pasti dia lapar banget. Apa karena dia tidak ingin berpapasan denganku ya?”
Zeno menggelengkan kepalanya. “Nggak mungkin, Han. Pasti ada sesuatu yang dilakukannya disana. Seperti apa kata Kusniyah, dia sedang membaca buku. Mungkin karena dia ingin saja berada disana. Jadi kamu nggak perlu overthinking, oke?”
Aku mengangguk setuju dan kembali memakan bakso. Kusniyah berbicara lagi dengan tatapan iseng, “Kamu sendiri gimana sama Yumi? Iih, aku dengar loh dari Hana kalau Yumi membiarkanmu sweater. So sweet bangeettt!!!”
Senyuman Zeno mulai mengembang. “Semenjak dia pulang, kami selalu berkomunikasi tiap malam. Vidcall dan kadang saling kirim email. Aku rasa.. Yumi itu cewek yang pintar dan menyenangkan. Banyak sekali topik obrolan yang kami bahas. Nggak ada habisnya.”
“Wow, itu sesuatu banget! Sudah kuduga, eh.. Bahkan Eldo, Ridwan, dan Iwan juga sudah menduganya kalau kalian itu cocok. Tahu nggak sih?!!! Iih, gemeesss!” seru Kusniyah lagi.
Aku pun ikut menambahkan, “Turut senang mendengar kedekatan kalian. Rukun selalu ya kalian ....”
***
Pada saat jam pulang sekolah, Haru langsung berlari keluar kelas. Hana dan Kusniyah hanya bengong melihat kepergiannya tanpa berkata-kata. Haru terus berlari melewati lorong sampai akhirnya dia berhenti di depan perpustakaan. Nafasnya tersengal-sengal.
“Please, jangan tutup dulu ....” katanya. Dibukanya pintu perpustakaan itu. Ternyata pintunya masih belum dikunci. Dia memasuki ruang perpustakaan yang tampak lenggang. Hanya ada bu Paloma, staff perpustakaan yang sedang duduk disana sambil mengetik keyboard komputer.
“Bu, perpus masih belum tutup kan?” tanyanya. Bu Paloma melihatnya dengan heran.
“Perpus akan tutup satu jam lagi, Haru. Ibu heran melihatmu akhir-akhir ini begitu rajin kesini. Kenapa bukunya nggak dipinjam saja? Daripada kamu bolak-balik disini terus dan membaca buku-buku yang sama.”
Haru tertawa mendengarnya. Ia tidak menyangka jika bu Paloma memperhatikan secara detail buku-buku yang terus ia baca.
“Ah, iya bu. Vibes-nya beda aja. Kalau disini aku merasa tertantang membaca banyak buku. Kalau bukunya aku bawa pulang, rasanya beda ajah. Bikin ngantuk,” katanya sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Oke. Kamu bisa disini selama satu jam. Setelah itu, ibu harus menutup perpusnya ya ....”
“Siap, bu,” setelah memberi hormat, Haru segera mencari buku-buku yang ia butuhkan. Buku-buku seperti bahasa Jepang untuk pemula dan kamus bahasa Jepang-Indonesia menjadi pilihannya. Ditumpuknya buku-buku itu di atas meja. Lalu dia mengeluarkan sticky note yang sudah kucel di saku seragamnya. Dikeluarkannya buku tulis dan pulpen dari dalam tas. Dia melihat sticky note itu dengan wajah serius.
“Anak itu ... menyusahkanku saja. Gara-gara pesan ini, waktu kebersamaanku dengan Hana menjadi berkurang. Oke, kali ini aku akan segera berhasil menemukan arti dari pesan Yumi. Semangat!”
***
“Waw, aku rasa kak Hana semakin mahir dalam melukis. Kenzo, lihat deh lukisan kak Hana,” Umi memuji karya Hana. Disenggolnya lengan Kenzo berkali-kali. Setelah menyelesaikan goresan terakhir pada lukisannya, Kenzo ikut melihat lukisan Hana.
“Waw! Kak, ini bagus sekali. Walaupun hanya menggunakan warna hitam saja, tetapi aku bisa tahu kalau lukisan ini terlihat seperti siluet wajah seseorang.”
Umi mengangguk setuju. Hana pun tersenyum mendengar pujian adik-adik kelasnya. “Ah, kalian terlalu memujiku. Aku hanya memikirkan seseorang dan menuangkannya ke dalam lukisan. Nggak terlalu spesial kok.”
Umi mengerlingkan matanya dengan centil, “Aah, tapi orang yang ada di dalam lukisan ini pasti spesial dong bagi kak Hana ....”
Hana hanya tersenyum menanggapinya. Kenzo hendak mengatakan sesuatu pada Hana. Tetapi ketukan pintu dari luar membuat mereka bertiga menoleh secara bersamaan. Tampak Zeno sedang berdiri di ambang pintu.
“Hai, guys,” sapanya. Hana segera menghampiri Zeno yang masih berdiri disana.
“Zen, ada apa?” tanyanya.
“Aku hanya ingin tanya, kamu tahu nggak dimana Haru sekarang?”