Luka Tanpa Asa 2

Aijin Isbatikah
Chapter #25

25| Luka yang Terobati

Sesampainya di rumah, aku turun dari sepeda motor dan membuka pintu pagar. Kak Haru menjalankan motornya lagi sampai memasuki halaman rumah. Lalu ku tutup kembali pintu pagar rumah.

“Sepasang kekasih tidak akan belajar apapun dari cinta yang mereka jalin jika hanya adem ayem saja.” kuulangi kata-kata kak Haru di ruang seni sebelumnya. Kak Haru melepaskan helmnya dan helm yang ada di kepalaku. Aku terus berbicara, “Aku nggak nyangka kalau kak Haru masih mengingat kata-kata mama dulu.”

Haru termenung sesaat. “Kak?” panggilku.

“Eh, ya. Sebenarnya ... Eeng ....” entah kenapa kak Haru mendadak berbicara terbata-bata.

“Kenapa, kak?”

“Hmm, sebenarnya semua yang aku katakan tadi itu sama dengan perkataan om Bima kepadaku kemarin.”

“Jadi ....” aku pun kaget mendengarnya. ‘Seorang pria yang seharusnya selalu bersikap kasar bisa memberikan nasihat sebaik itu pada kak Haru? Lantas penjelasannya juga tidak berbeda jauh dengan nasihat mama.’

“Apa orang itu adalah orang yang sama seperti yang aku kenal dulu?” gumamku kemudian.

“Apa, Han?” tanya kak Haru.

“Eh, nggak. Aku hanya ....”

“Eh, Eh, Eh ... Pasangan ter-anti mainstream tahun ini sudah pulang?” aku menoleh ke arah sumber suara. Rupanya Zuna sedang berdiri melalui tembok sebelah. “Senang deh lihat kalian sudah akur lagi.”

“Yee ... Tahu darimana kamu kalau kami sedang bertengkar? Sok tahu kamu nih,” ujar kak Haru. Aku pun hanya menanggapinya dengan tawa.

“Tahu dong. Mata dan telingaku kan ada di mana-mana,” balas Zuna sambil mengerlingkan mata. Kemudian dia menunjuk ponsel yang ia pegang sembari memberi isyarat melalui bibirnya. Kemudian dia kembali masuk ke dalam rumah.

Dengan segera ku keluarkan ponsel dan membaca pesan darinya. Aku pun membalas chat darinya dengan wajah sumringah.

“Oh, jadi selama ini kalian saling berkirim pesan?” aku terkejut melihat kak Haru sudah berada di belakangku. Aku berusaha membungkam mulutnya dengan tanganku. Tetapi energiku terbuang sia-sia karena tidak dapat menggapai tubuhnya yang tinggi semampai.

“Iih, kak Haru! Diam dong. Ini rahasia!” bisikku pelan.

“Kalau papa dan mama tahu bisa gawat loh.”

“Makanya aku memintamu untuk tetap diam,” tuntutku dengan wajah cemberut. “Kami ... akrab lagi seperti ini saja sudah membuatku bahagia. Aku percaya sama Zuna. Dia nggak akan mengulangi kesalahannya lagi. Apalagi semua itu sudah ada di masa lalu. Aku tahu kalau papa dan mama melakukan ini untuk melindungiku. Tetapi aku hanya ingin suatu saat mereka juga tahu betapa pentingnya kesempatan kedua itu.”

Haru menghela nafas panjang. “Haaah ... Baiklah. Pokoknya kamu harus janji kalau kamu selalu memberitahuku sepenting apapun itu. Baik itu hal yang sepele atau yang bahkan mengganggu pikiranmu. Aku pun juga akan melakukan hal yang sama.”

“Janji?” kak Haru hampir tertawa geli melihat jari kelingkingku dihadapannya. Dia pun mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingkingku seraya berkata, “Janji.”

Setelah itu kak Haru merangkul pundakku. Kami pun masuk ke dalam rumah. Saat meletakkan sepatu di atas rak, aku melihat mama sedang duduk di ruang tamu sambil memainkan ponselnya.

“Assalamualaikum, ma,” aku segera menyalimi tangannya. Begitu pula dengan kak Haru.

Lihat selengkapnya