Bagi Ghea, aroma ikan goreng yang mulai menguasai dapur malam ini bukan sekadar bau masakan. Aroma itu menjadi asap peperangan atau lebih tepatnya sebuah sajian keegoisan Papa yang dihidangkan panas-panas, berminyak, dan memuakkan.
Udara di dalam rumah terasa jauh lebih dingin daripada embusan AC yang mendengung di sudut ruangan. Dinginnya tidak menawarkan kesejukan, tapi menggigit kulit. Keheningan yang terbentuk terasa mencekam, yang biasanya menjadi pembuka bagi badai besar. Di luar, langit Jakarta sudah hitam total. Sesekali kilat menyambar tanpa suara, menerangi jendela kaca sekejap mata, seolah-olah semesta pun sedang menahan napas menyaksikan drama di dalam rumah ini.
Di ruang makan yang menyatu dengan dapur, Ghea duduk kaku di depan laptopnya. Jari-jarinya yang lentik menari di keyboard, menghasilkan bunyi tak tik tak yang cepat dan tidak beraturan. Dia sedang berpura-pura sibuk dengan laporan digital marketing kantornya, padahal matanya hanya menatap kosong pada barisan angka yang mengabur.
Ghea mengenakan kaus putih polos kebesaran, yang menyembunyikan tubuhnya yang kurus. Rambut hitamnya diikat tinggi, sedikit berantakan dengan sisa-sisa anak rambut yang mencuat. Rahangnya teratup begitu rapat hingga giginya terasa ngilu.
Di kursi seberang, di meja makan jati yang mengilap, Mama duduk. Mama menjadi potret penderitaan yang dipajang dengan rapi. Mengenakan daster batik baru pemberian Ghea, tubuhnya justru tampak kian rapuh, seolah-olah selembar kain itu menjadi satu-satunya benda yang menahan tulang-tulangnya agar tidak runtuh. Tangannya yang lemah, dengan urat-urat biru yang menonjol, menggenggam secangkir teh chamomile yang sudah mendingin sejak satu jam lalu.
Mama tidak melakukan apa-apa. Dia hanya menatap datar ke permukaan meja makan yang luas dan kosong. Meja yang seharusnya menjadi tempat makan sambil saling berbagi cerita itu kini tak lebih dari sebuah panggung bagi kesedihan.
Setengah jam yang lalu, Papa pulang. Pria itu masuk tanpa ketukan dan tak ada salam. Kemeja kerjanya yang berwarna abu-abu sudah kusut. Tas kulitnya tersampir lesu, seolah-olah beratnya melampaui beban hidup.
Papa tidak menyapa Mama, apalagi menoleh ke arah Ghea. Dia melangkah lurus menuju kamar tamu, bukan kamar utama tempat Mama tidur, lalu keluar lagi menuju dapur dengan langkah yang diseret. Papa bersikap seolah-olah Ghea dan Mama hanyalah sepasang patung hiasan yang tak bernyawa di rumah itu.
Ghea mendengar setiap detail suara dari dapur. Suara pintu kulkas yang dibuka dengan kasar mengawali ritual yang Papa lakukan. Suara kran air yang dinyalakan menyusul. Airnya mengucur kecil, menampar bak cuci piring dengan irama yang menyebalkan. Lalu, denting wajan yang diletakkan di kompor gas terdengar paling memuakkan. Suara pemantik kompor bergema dua kali sebelum api biru menjilat dasar wajan yang menghitam.
Papa tampil rapi dengan kaus sederhana setelah berganti pakaian, tapi kelesuan di wajahnya tidak bisa disembunyikan. Meski begitu, gerakannya di dapur menunjukkan ketidakpedulian yang mutlak. Dia mulai memasak untuk dirinya sendiri, seolah-olah hidup sendirian di dunia ini, seolah-olah tidak ada istri yang sedang menahan pusing di meja makan dan anak yang sedang menahan amarah di kursi.
Ikan nila goreng menjadi menu egoisnya malam ini. Aroma amis yang gurih merebak tajam, memanjat dinding-dinding dapur dan merayap ke ruang makan. Bagi Ghea, aroma itu terasa seperti serangan bom gas yang dilepaskan musuh ke zona pertahanannya.
"Egois!" bisik suara di kepala Ghea. Suara itu begitu mirip dengan isakan Mama yang pecah di tengah malam. Suara yang selama ini meracuni pikirannya dengan cerita bahwa Papa adalah monster, penjahat, dan pengkhianat yang telah menghancurkan istana mereka.
Ghea melirik mamanya.