Luka yang Salah

Franciarie
Chapter #2

Kesetiaan yang Tergadai

Sisa badai semalam masih menggantung di langit Jakarta yang mendung. Tapi, di dalam ruang makan keluarga Prasetyo, badai itu telah membeku menjadi dinding es. Sinar matahari pagi yang masuk melalui celah jendela tampak pucat, seolah enggan menyaksikan ketegangan yang kembali tersaji di meja jati itu.

​Ghea berdiri di dekat konter dapur, menyesap kopi hitam tanpa gula yang pahitnya tak sebanding dengan rasa sesak di dadanya. Dia sudah rapi dengan blazer berwarna gading dan rok sepan hitam. Riasan wajahnya tebal, sengaja dipulas untuk menutupi matanya yang sembap karena terjaga semalaman mendengarkan isak tangis Mama yang tidak kunjung reda.

​Di depannya, Papa berdiri dengan tangan kanan merogoh dompet kulit cokelat yang ujungnya sudah mulai mengelupas. Pria itu sudah mengenakan kemeja batik biru, tapi kancing paling atasnya terbuka dan rambutnya masih berantakan. Wajahnya tampak kusam, seolah-olah seluruh warna hidupnya ikut terbuang ke tempat sampah bersama ikan nila semalam.

​Papa mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan, lalu meletakkannya dengan hati-hati di meja, tepat di depan Ghea.​ "Ghea, ini buat bensin kamu minggu ini." Suara Papa terdengar tipis, seperti kertas yang nyaris robek. Matanya tidak berani menatap mata Ghea. Dia hanya menatap ujung sepatunya yang sudah dipoles semir.

​Ghea melirik lembaran merah itu dengan tatapan seolah-olah ada ulat bulu yang menjijikkan sedang merayap di meja. Dia meletakkan cangkir kopinya hingga berbunyi nyaring.

​"Simpan saja uang itu, Pa," sahut Ghea datar. Dia menarik napas panjang. Dia menghirup aroma kopi yang bercampur dengan sisa bau amis ikan samar, yang entah kenapa masih terasa menghantui indra penciumannya. "Aku punya gaji sendiri. Aku nggak butuh uang yang … kotor."

​Papa akhirnya mendongak. Kelopak matanya yang berat tampak bergetar. "Ghea, ini uang gaji Papa. Apa maksud kamu uang ini kotor?"

​Ghea mengulas senyum miring, lengkungan bibirnya penuh dengan racun. Dia melirik ke arah kamar utama yang pintunya masih tertutup rapat. "Uang yang Papa kasih ke kami, apa bedanya dengan uang yang Papa pakai buat memanjakan perempuan itu? Najis banget kalau harus makan dari uang yang sama dengan yang Papa pakai buat mengkhianati Mama."

​"Jaga bicaramu, Ghea!" Suara Papa meninggi, tapi segera meluruh kembali menjadi helaan napas yang putus-putus. Dia tampak ingin membela diri, tapi lidahnya seolah kelu, terjepit oleh ribuan rahasia yang tak sanggup dia muntahkan.

Lihat selengkapnya