Luka yang Salah

Franciarie
Chapter #3

Racun yang Tertelan

Rumah besar ini kembali sunyi yang terasa mencekam. Hanya ada suara gesekan dahan pohon mangga di bagian luar jendela yang tertiup angin malam. Gesekannya terdengar seperti kuku panjang yang mencakar kaca dengan konstan dan mengganggu. Ghea baru saja selesai membersihkan sisa makan malam di dapur ketika telinganya menangkap suara gesekan halus. Pintu kamar tamu terbuka pelan.

​Papa keluar dari sana. Dia tidak lagi memakai kemeja batik birunya yang kaku. Pria itu hanya mengenakan kaus putih tipis yang hampir transparan dan sarung yang warnanya sudah pudar dimakan usia. Penampilannya terlihat sangat kusut dan lelah. Pundaknya merosot seolah memikul beban yang tak terlihat. Tapi, di mata Ghea, setiap gerak-gerik itu hanyalah pertunjukan drama untuk menyembunyikan kelicikan yang sangat besar.

​Papa tidak menyadari keberadaan Ghea yang mematung di dapur yang gelap. Pria itu berjalan tergesa menuju teras belakang. Langkah kakinya nyaris tak terdengar di lantai. Ponselnya tergenggam begitu erat di tangan kanan, seolah benda itu adalah jantungnya sendiri. Ke mana pun Papa pergi, ponsel itu tidak boleh jauh, bahkan saat ke kamar mandi.

​Ghea segera meletakkan piring ke rak. Rasa penasaran yang bercampur dengan benci memaksanya untuk bergerak. Dengan langkah seringan kucing, dia menyelinap di balik gorden ruang makan. Melalui celah kecil di antara kain itu, Ghea mengintip.

​Di teras belakang yang remang-remang, Papa berdiri membelakangi pintu. Dia menempelkan ponsel ke telinga. Bahunya tampak tegang dan waspada. Sesekali, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tak ada siapa pun yang menangkap basah dirinya. Tindakannya seperti pencuri yang penuh dengan rasa bersalah yang tersembunyi di dadanya.

​"Iya, aku tahu. Sabar sedikit, ya," bisik Papa. Suaranya rendah. Tapi, di keheningan malam ini, kata-kata itu terdengar sangat nyaring dan jelas di telinga Ghea. "Uang mukanya sudah aku siapkan. Jangan sampai ada yang tahu, terutama keluargaku! Bisa ribut lagi nanti. Ini rahasia! Aku nggak mau rencana ini berantakan."

​Darah Ghea mendidih seketika. Tangannya mengepal erat. "Uang muka? Rahasia?"

"Iya, pasti. Besok aku usahakan datang secepatnya. Kamu tunggu saja di sana," lanjut Papa. Nada suaranya berubah drastis jadi melembut, hangat, dan penuh perhatian. Nada yang sudah bertahun-tahun tidak pernah dia berikan lagi untuk Mama.

​Ghea mencengkeram kain gorden. Pria ini benar-benar tidak punya nurani. Di saat Mama sedang hancur di dalam kamar, meratapi harga dirinya yang berantakan, Papa justru merencanakan pertemuan dengan perempuan murahan itu tepat di bawah atap yang sama.

Lihat selengkapnya