Luka yang Tak Pernah Sembuh

Drew Andre A. Martin
Chapter #2

Perihal Luka dan Pemakluman

Aku memilih membiarkan luka itu kuterima dengan segala macam emosi yang hanya bisa kurasakan sendiri di kala itu, tak peduli tentang bagaimanaku nantinya, sebab aku sudah tak tahu harus apa dan bagaimana. Melawan pun tak mungkin. Aku yang seorang diri, tentu tak mampu melawannya. Malah aku akan dijadikan candaan yang paling riang di antara mereka-mereka. Pastinya akan ditertawai ramai-ramai dengan teriakan tawa yang paling riuh riang layaknya pesta sang pemburu yang berhasil mendapatkan hasil buruannya. Menyantapnya dengan santapan paling girang, lahap, disertai oleh tawa serentak puas akibat terpenuhi nafsunya yang sempat menggila saat mendapati hasil buruannya pasrah tak bisa berbuat apa-apa.

Tak ada yang peduli dengan pesakitan itu. Tak ada kawan apalagi orang dewasa di sana yang membantu menarikku lepas dari sana, atau memberikan sedikit pelajaran kepada mereka-mereka agar jera, agar tak kemudian melakukan hal serupa lagi. Mereka semua diam. Ada yang ikut larut mendapati tontonan gratis itu, lalu ikut tertawa. Ada yang benar-benar diam acuh, tak ingin terlibat, anggap tak terjadi apa-apa. Ada yang berpura-pura tak peduli, tetapi dalam hatinya berkelar paling liar setelah bola matanya menyudut ke arahku. Dan sejak saat itu, aku tak lagi mengharapkan kepedulian siapa pun. Sebab percuma, bila mengadu dengan orang dewasa. Balik kena marah, karena tak mampu membalasnya, atau justru akan disarankan untuk sabar saja, biarkan saja toh nanti mereka akan mendapatkan tuah akibat ulah sendiri.

Soren, begitulah namaku. Tidak ada nama panjang, apalagi nama marga atau pun nama ibu apalagi ayah di bagian tengah dan akhir namaku. Nama yang tak memiliki identitas jenis kelamin yang jelas. Nama yang terlalu androgini. Tak jelas, apakah itu laki-laki atau perempuan. Entah sejak kapan, sebaris kata dengan jumlah huruf memiliki identitas soal kelamin. Laki-laki atau perempuan, maskulin atau feminin. Agaknya bukan mata mereka perlu mengenal jenis kelamin, melainkan telinga juga. Dan sepertinya, kedua indra itulah indra yang bekerja sama untuk memverifikasi gender dari seseorang. Tampaklah, kelamin tak lagi jadi identitas jenis kelamin. Tidak lagi.

Lihat selengkapnya