Pagi itu, sinar matahari baru saja menyelinap masuk melewati celah-celah dinding rumah kecil milik keluarga Shiranui. Suara kicauan burung dan hembusan angin menjadi irama hari baru yang terlihat berjalan seperti biasanya. Suasana di dalam rumah pun tampak tenang dan damai, seolah-olah tidak ada rahasia atau hal buruk apapun yang tersembunyi di baliknya.
Di ruang tengah, Hana sudah bangun sejak subuh. Tangan mungilnya bergerak lincah menyiapkan bekal makanan untuk kakaknya. Dia menyusun nasi dan lauk seadanya ke dalam kotak makanan dengan rapi, sambil sesekali tersenyum sendiri membayangkan betapa senangnya Kagehiko nanti. Baginya, melakukan hal-hal ini adalah cara terbaik untuk membantu keluarga dan membalas kebaikan kakaknya yang telah diberi kesempatan untuk menempuh pendidikan.
“Semoga hari ini Kakak bersekolah dengan baik, mendapatkan nilai yang bagus, dan tidak kehabisan tenaga saat belajar,” gumam Hana pelan sambil menatap kotak bekal yang sudah selesai dibuatnya.
Tidak lama kemudian, Kagehiko keluar dari kamarnya. Dia sudah mengenakan seragam sekolah dengan rapi, namun sorot matanya menyimpan kegembiraan yang tersembunyi. Di dalam hatinya, dia sudah membayangkan berbagai rencana nakal yang akan dia lakukan hari ini. Semalam, dia dan teman-teman gengnya sudah sepakat untuk menghadapi kelompok siswa lain yang berani mengganggu wilayah kekuasaannya. Selain itu, dia juga sudah merencanakan untuk meminta uang secara paksa kepada beberapa siswa yang dianggapnya berani menentang perintahnya.
“Pasti hari ini akan penuh dengan kesenangan,” bisiknya dalam hati sambil tersenyum licik.
Ketika melihat kakaknya sudah siap berangkat, Hana segera menghampiri dan menyerahkan bekal yang sudah dia siapkan.
“Kak, ini bekalnya. Sudah aku buatkan dengan baik, semoga Kakak suka,” ujar Hana dengan senyum lebar yang menampakkan gigi-gigi kecilnya.
Kagehiko mengambil kotak itu dengan santai, hanya mengangguk sekilas tanpa menatap wajah adiknya.
“Ya, makasih,” jawabnya singkat, lalu segera berjalan menuju pintu keluar. Baginya, bekal makanan itu tidak terlalu penting — yang ada di pikirannya hanyalah pertemuan dengan teman-temannya dan rencana yang sudah disusun.
Dari sudut ruangan, Sari mengamati kedua anaknya dengan perasaan yang sulit diungkapkan. Seperti biasa, dia memakai topeng kain yang membuat wajahnya terlihat tua dan kusam. Suaranya yang sengaja diubah agar terdengar berat dan lambat terdengar saat dia menyapa anak sulungnya.
“Sudah siap berangkat, Nak? Hati-hati di jalan ya. Ingat pesan Ibu, belajarlah dengan rajin, hormati guru, dan jangan sampai membuat masalah apapun. Ibu, Nenek, dan Hana hanya berharap kamu menjadi orang yang berguna dan sukses di masa depan,” ujar Sari dengan nada lembut.
Kagehiko menoleh dan tersenyum tipis — senyum yang selalu dia gunakan untuk menipu orang-orang terdekatnya.