Luka yang tersembunyi

M.varian farhan
Chapter #3

Topeng di balik koridor sekolah

Nenek berpura-pura tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Hana. Dengan nada lembut, ia akhirnya bertanya.


“Hana, kamu lagi mikirin apa? Kamu iri ya sama teman-teman seumuranmu karena kamu belum sekolah?”


Hana menggeleng pelan, lalu menjawab dengan jujur, “Enggak kok, Nek. Aku justru senang kalau Kak Kagehiko aja yang sekolah. Kalau Kak Kagehiko sudah lulus nanti, dia bisa sekolahin aku, bantu Ibuk dan Nenek juga. Jadi aku nggak akan nambah beban Ibuk sama Nenek. Kalau aku yang sekolah sekarang, malah bikin kalian makin berat.”


Nenek terdiam sejenak, menatap cucunya dengan perasaan campur aduk. Lalu ia kembali bertanya, “Terus kamu lagi mikirin apa, Hana?”


Hana terlihat ragu sejenak, sebelum akhirnya mengutarakan rasa penasarannya.


“Nenek… Hana boleh tanya nggak? Kenapa Ibuk selalu pakai topeng kain di wajahnya? Aku… aku pengen tahu wajah Ibuk sendiri.”


Nenek menghela napas kecil. “Coba kamu tanya langsung ke Ibukmu.”


“Hana sudah tanya, Nek. Tapi Ibuk cuma bilang, suatu hari nanti Hana akan tahu sendiri.”


Kalimat itu membuat rasa penasaran Hana semakin besar. Ia menunduk, tampak berpikir keras.


Di sisi lain, hati Nenek justru berkecamuk. Anak sekecil ini… kalau dibiarkan penasaran terus, dia pasti akan mencari jawabannya dengan caranya sendiri. Aku tidak boleh membiarkannya…


Dengan berat hati, Nenek akhirnya memilih jalan yang tidak ia inginkan—berbohong.


“Eh… Nenek tahu,” ucapnya pelan. “Ibukmu itu pakai topeng karena wajahnya rusak parah… hampir seperti luka yang sangat mengerikan, Hana. Dulu pernah ada ledakan gas saat Ibukmu memasak. Sejak itu, wajahnya berubah. Makanya Ibukmu selama ini tidak pernah masak lagi,sejak kejadian itu.ibuk mu pakai topeng supaya tidak menakuti orang lain,Dan juga biar tidak diusir tetangga.”


Hana terdiam. Matanya membesar sedikit, lalu perlahan berubah sendu.


“Oh… jadi itu alasannya…” suaranya lirih. “Kasihan juga Ibuk ya, Nek…”


Nenek mengangguk pelan, meski hatinya terasa berat. “Ibukmu itu kuat, Hana… sangat kuat dengan keadaannya sekarang.”


Di sekolah, Sari semakin hari semakin merasa kesal. Sudah berhari-hari ia bekerja di lingkungan itu, namun satu hal yang belum juga berhasil ia temukan—kelakuan Kagehiko di sekolahnya.


Sampai akhirnya, saat bel masuk setelah jam istirahat berbunyi, para murid kembali berhamburan masuk ke kelas masing-masing. Suasana yang semula ramai perlahan berubah menjadi lebih teratur… namun tidak bagi sebagian kecil yang lain.


Di sudut koridor, Kagehiko muncul bersama tiga orang teman gengnya. Tatapan mereka tajam, langkah mereka tenang, seolah sudah terbiasa melakukan hal yang tidak seharusnya.


Seperti biasa, mereka mulai melancarkan aksinya. Memalak murid-murid yang mereka anggap lemah. Namun kali ini, target mereka berbeda.


Seorang murid berkebutuhan khusus terlihat membawa banyak snack di tangannya. Tanpa ragu, salah satu teman Kagehiko menyeringai jahat.


“Eh, Kagehiko… itu ada tumbal tuh.”


Senyum tipis muncul di wajah Kagehiko. Matanya menatap dingin ke arah anak itu, lalu ia memberi isyarat kecil pada teman-temannya.


“Ambil.”


Namun kali ini, murid berkebutuhan khusus itu justru menolak. Ia memeluk erat snack yang dibawanya, menolak untuk menyerah begitu saja.


Salah satu dari geng Kagehiko mendekat, lalu berbisik dengan nada mengancam,

Lihat selengkapnya