Setelah lama terdiam dalam pikirannya sendiri, anak itu akhirnya menggeleng pelan. Dengan suara ragu namun tegas, ia berkata,
“Aku… aku tidak tahu, Buk. Siapa itu Kagehiko. Mungkin Ibu saja yang cari sendiri kelasnya…”
Kata-kata itu keluar terbata, seolah ada sesuatu yang ia sembunyikan. Belum sempat Ibuk Sari menanggapi, anak itu langsung berbalik. Langkahnya cepat, hampir seperti berlari, meninggalkan Ibuk Sari yang masih berdiri penuh tanda tanya.
Di wajahnya jelas terlihat ketakutan—sebuah ketakutan yang tidak biasa, seakan nama itu menyimpan rahasia yang terlalu gelap untuk diungkapkan.
Setelah anak itu pergi, Ibuk Sari masih berdiri terpaku, diliputi rasa heran yang tak kunjung reda. Tatapannya kosong, seolah memutar kembali kejadian barusan di kepalanya.
“Kenapa ya… anak itu terlihat seperti menyimpan ketakutan besar saat mendengar nama Kagehiko?” gumamnya pelan, penuh tanda tanya.
Ada sesuatu yang tidak biasa. Sesuatu yang terasa ganjil—dan justru itu yang membuat rasa penasarannya semakin membesar.
Perlahan, sebuah ide muncul di benaknya. Ide yang cukup nekat… bahkan bisa dibilang gila.
“Sepertinya… jadi OB di sini tidak akan cukup untuk melacak Kagehiko,” bisiknya, matanya mulai menunjukkan tekad. “Sekolah ini terlalu luas… dan terlalu banyak hal yang tersembunyi.”
Ia menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis—senyum penuh rencana.
“Mungkin… aku harus masuk ke dalam permainan mereka.”
Keputusan itu pun bulat.
“Aku akan jadi murid di sini… dan semoga saja aku diterima,” lanjutnya dengan nada penuh harap. “Dengan begitu, aku bisa lebih dekat… bahkan mungkin satu kelas dengan Kagehiko.”
Angin sore berhembus pelan, seolah menjadi saksi awal dari langkah berani Ibuk Sari—sebuah keputusan yang mungkin akan membawanya pada kebenaran… atau justru bahaya yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Setelah itu, Sari pun bergegas mengambil barang-barang yang tadi sempat ia tinggalkan, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun, di tengah kesibukan itu, pikirannya justru melayang jauh. Ada sesuatu yang terus mengusik hatinya.
“Haruskah aku mulai sekarang? Apa aku bilang saja pada kepala sekolah tentang pengunduran diriku ini?” gumamnya dalam hati, ragu namun juga merasa waktunya semakin dekat.
Tangannya tetap bekerja, tetapi hatinya sibuk bertanya—seolah sedang berdiri di persimpangan antara bertahan atau melangkah pergi.
Sesampainya di depan kantin dengan niat membeli makanan untuk disantap, Sari tiba-tiba terhenti. Telinganya menangkap obrolan para penjual kantin yang sedang asyik bergosip.
“Si Kagehiko itu nakal banget, Buk. Masa aku tagih bayar, malah bangkunya dibikin berantakan kayak gini,” keluh salah satu penjual dengan nada kesal.
Lawan bicaranya menggeleng pelan, lalu menimpali, “Wah, parah sekali ya anak itu. Entah bagaimana didikan orang tuanya… mungkin itu sebabnya dia jadi seperti ini.”
Sari terdiam, suasana kantin yang tadinya terasa biasa saja kini mendadak penuh bisik-bisik tajam yang menusuk, seolah setiap kata membawa cerita yang lebih dalam dari sekadar gosip.
Sari pun akhirnya menjawab dengan suara lantang, menahan gejolak sakit hati yang selama ini ia pendam.
“Aku bukan tidak mendidik anakku dengan baik…,” ucapnya tegas, suaranya sedikit bergetar namun penuh keberanian. “Aku hanya tidak tahu, selama ini Kagehiko bersikap seperti itu di sekolah.”
Nada bicaranya menusuk, bukan karena amarah semata, tapi karena luka yang tiba-tiba terbuka di hadapan banyak orang.