Sari mencoba bersabar, namun telinganya tanpa sengaja menangkap percakapan dari balik pintu yang tertutup rapat itu. Suara kepala sekolah terdengar aneh, bukan nada bicara ramah seperti biasanya, melainkan berbisik-bisik dengan nada tegang.
"Pihak mereka tidak bisa ditunda lagi, Pak. Jika besok dokumen ini belum ada tanda tangannya, maka seluruh aset sekolah ini akan disita," suara tamu itu terdengar berat dan dingin.
Sari mematung. Tangannya yang semula hendak mengetuk pintu, kini terhenti di udara. Jantungnya berdegup kencang. Aset disita? Apa maksudnya?
Belum sempat ia mencerna apa yang didengarnya, tiba-tiba sebuah amplop cokelat tebal meluncur keluar dari celah bawah pintu, tepat di depan kakinya.
Sari refleks mundur. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, lorong itu tetap kosong dan sunyi. Dengan tangan gemetar, ia membungkuk mengambil amplop itu. Saat ia membaliknya, matanya membelalak.
Tertulis jelas dengan tinta merah: "DAFTAR NAMA YANG AKAN DIHILANGKAN".
Tangannya dingin. Dengan ragu, ia sedikit membuka lipatan amplop itu. Dan di halaman pertama, ia melihatnya.
Tulisannya rapi, namun mengerikan. Di urutan paling atas, nama Sari tercetak jelas.
"BRUK!"
Tiba-tiba pintu terbuka lebar. Sari kaget hingga amplop itu hampir terlepas, tapi ia cepat menyembunyikannya di balik punggung. Di depannya berdiri tamu misterius itu—seorang pria berkacamata hitam dengan senyum yang tak wajar, seolah sudah tahu Sari berdiri di sana sejak tadi.
"Oh, ada guru cantik di sini. Mau masuk?" tanya pria itu, suaranya membuat bulu kuduk Sari meremang.
Kepala sekolah muncul dari belakang pria itu, wajahnya pucat pasi dan matanya memancarkan ketakutan yang luar biasa, seolah memberi kode bahaya lewat tatapan matanya.
"Sari... kau... kau sudah di sini lama?" tanya Kepala Sekolah dengan suara bergetar.
Sari menelan ludah. Rencananya untuk mengundurkan diri kini terasa begitu sepele dibandingkan kenyataan bahwa namanya ada dalam daftar kematian. Ia tersenyum kaku, namun otaknya bekerja cepat mencari jalan keluar.
"Belum lama, Pak. Saya... saya cuma mau bilang kalau saya lupa bawa kunci nya" bohong Sari, kakinya perlahan melangkah mundur. "Saya pergi dulu."
Ia berbalik dan mulai berjalan cepat, lalu berlari.
"Tangkap dia!" teriak suara pria itu dari belakang.
Langkah Sari semakin cepat. Lorong yang tadi terasa sunyi kini terasa seperti labirin maut. Ia sadar, hari ini bukan hanya tentang mengubah arah hidupnya, tapi tentang mempertahankan nyawanya sendiri.
Sari berlari sekuat tenaga. Sepatu haknya membuat langkahnya tak stabil, tapi rasa takut yang menguasai tubuhnya memberinya kekuatan luar biasa. Ia tidak tahu harus lari ke mana, yang jelas ia harus menjauh dari ruangan itu dan dari pria menyeramkan tadi.
Langkah kaki berat terdengar mengejar di belakangnya.