Luka yang tersembunyi

M.varian farhan
Chapter #5

Jalan tanpa penyesalan

Langkah kaki Sari melambat saat bangunan toko seragam itu mulai terlihat jelas di depan mata. Papan namanya yang besar dan penuh warna terasa begitu mencolok di antara deretan ruko lainnya. Dari luar saja, ia sudah bisa melihat beberapa anak seusianya sedang memilih seragam baru ditemani orang tua mereka. Ada yang tertawa bahagia, ada yang sibuk mencoba ukuran baju di depan cermin.


Sementara Sari… hanya menggenggam erat uang lusuh di dalam sakunya.


Angin siang berhembus pelan, membuat ujung jilbab tipis yang ia kenakan bergerak lembut. Gadis itu berhenti tepat di pinggir jalan, lalu menundukkan kepala. Tangannya perlahan mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan yang sudah lecek karena terlalu sering dihitung.


“Tiga puluh… empat puluh… lima puluh…” gumamnya lirih.


Jari-jarinya sedikit gemetar saat menghitung ulang untuk ketiga kalinya, seolah berharap jumlah uang itu tiba-tiba bertambah sendiri. Namun hasilnya tetap sama.


Tidak cukup.


Napasnya tertahan sesaat.


Sari menelan ludah sambil melirik ke arah toko seragam itu lagi. Di balik kaca etalase, terpajang rok abu-abu yang masih rapi terlipat, kemeja putih bersih, dasi, dan atribut sekolah lain yang terlihat begitu baru. Semuanya tampak indah di matanya… sekaligus terasa sangat jauh untuk dimiliki.


“Kalau kurang gimana ya…” bisiknya pelan.


Tatapan matanya mulai redup.


“Mana kata orang, seragam cewek lebih mahal daripada cowok lagi…”


Ucapan itu hanya keluar dalam hati, tetapi cukup untuk membuat dadanya terasa semakin sesak. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan malu yang tiba-tiba muncul.


Sari sebenarnya sudah lama menabung. Uang jajan dari membantu tetangga mencuci piring, uang receh pemberian nenek tua di ujung kampung setelah ia membantu mengangkat kayu bakar, bahkan hasil menjual gorengan keliling sepulang ia kerja di sekolah itu—semuanya ia simpan diam-diam di dalam kaleng biskuit bekas di bawah tempat tidur.


Berbulan-bulan ia menahan diri untuk tidak membeli apa pun.


Tidak membeli es saat cuaca panas.


Tidak membeli sandal baru meski sandal lamanya hampir putus.


Tidak membeli buku cerita yang diam-diam sangat ingin ia baca.


Semua demi satu hal sederhana:


Masuk SMA dengan seragam lengkap seperti siswa lainnya untuk mengawasi kagehiko


Namun kini, setelah berdiri tepat di depan toko itu, keberaniannya justru perlahan runtuh.


Ia takut masuk.


Takut harga seragam terlalu mahal.


Takut ditatap sinis oleh penjaga toko.


Dan yang paling ia takutkan… adalah saat harus berkata, “Maaf, uang saya kurang.”


Sari menunduk dalam. Jemarinya meremas uang itu hingga kusut.


Di dalam kepalanya mulai muncul berbagai kemungkinan buruk.


Bagaimana kalau ia tidak jadi sekolah?


Bagaimana kalau ia harus menunggu tahun depan?


Bagaimana kalau akhirnya ia hanya tinggal di rumah membantu ibunya selamanya?


Tenggorokannya terasa tercekat.


Beberapa anak berseragam SMP berjalan melewatinya sambil bercanda riang tentang sekolah baru mereka nanti. Suara tawa itu terdengar begitu jauh di telinga Sari.


Gadis itu hanya diam mematung di depan toko, seperti orang asing yang tidak punya tempat.


Sampai akhirnya—


“Dek… kok dari tadi di luar terus?”


Suara lembut seorang perempuan membuat Sari tersentak.


Ia buru-buru menyembunyikan uang di tangannya lalu mendongak. Seorang ibu penjaga toko berdiri di depan pintu sambil menatapnya penuh heran. Wajah perempuan itu tidak galak, justru terlihat teduh.


“Mau cari seragam SMA ya?” tanyanya lagi pelan.

Lihat selengkapnya