Luka yang tersembunyi

M.varian farhan
Chapter #6

Di balik putih abu abu

Langkah kaki Sari terasa lebih ringan dari biasanya sore itu. Di dalam kantong kresek yang ia genggam erat, terlipat rapi seragam putih abu-abu yang sudah menjadi miliknya. Rasanya seperti memegang sepotong mimpi yang akhirnya nyata. Angin sore meniup lembut wajahnya, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, senyumnya tidak lagi dipaksakan. Ia berjalan melewati gerbang sekolah, matanya berbinar membayangkan hari pertama masuk nanti, membayangkan bisa berada di sini setiap hari, dekat dengan satu nama yang menjadi alasan terbesarnya bertahan: Shiranui Kagehiko.


Namun, kedamaian itu seketika terpecah saat ia melihat kerumunan di ujung jalan setapak samping sekolah.


Suara tawa kasar, asap rokok yang mengepul, dan nada bicara yang penuh ancaman terdengar jelas menembus hiruk-pikuk sore itu. Jantung Sari sedikit berdebar. Ia tahu siapa mereka. Seluruh sekolah tahu siapa mereka. Kelompok yang tidak pernah tersentuh aturan, yang namanya saja sudah cukup membuat siswa lain menyingkir ketakutan. Dan di tengah-tengah mereka, berdiri sosok yang paling dingin, paling tenang, namun tatapannya paling tajam menusuk: Kagehiko.


Sari menghentikan langkahnya agak jauh, bersembunyi di balik pohon besar pinggir jalan. Ia tidak ingin terlihat, ia hanya ingin melihat. Meski semua orang bilang Kagehiko itu nakal, kasar, berandalan, bagi Sari, ia tetap sosok yang sama—anak laki-laki yang dulu pernah diam-diam membantunya mengambilkan buku yang jatuh di perpustakaan saat tidak ada orang yang peduli, bertahun-tahun yang lalu. Satu kebaikan kecil itu, yang Sari simpan rapat di ingatannya, menjadi bahan bakarnya bertahan hidup.


Tapi sore itu, pemandangan di depan matanya membuat darah Sari berdesir hebat.


Di tengah lingkaran empat anak laki-laki itu, ada seorang bapak tua penjual koran yang sudah tua renta, tubuhnya membungkuk memohon-mohon sambil memegang selembar uang sepuluh ribu yang kusut.


"Sudah, Nak... ini sisa uang saya saja, percuma Bapak simpan kalau kalian ambil semua. Istrinya Bapak sakit, harus beli obat..." suara bapak itu gemetar, hampir menangis.


Salah satu teman Kagehiko, yang berambut gondrong dan bertato kecil di leher, menendang tumpukan koran di tanah hingga berhamburan kena lumpur. "Kami nggak butuh uang receh begini, Pak! Ini uang perlindungan, ingat? Kalau besok belum lunas jumlahnya, dagangan Bapak kita bakar di sini, paham?!"


Sari menutup mulutnya dengan tangan, menahan napas. Ia tidak percaya apa yang ia lihat. Bapak penjual koran itu sering sekali menyapa Sari ramah, sering memberi koran bekas secara cuma-cuma untuk ia pakai alas gorengan. Orang sebaik itu diperlakukan seperti sampah?


Matanya kemudian beralih ke Kagehiko. Laki-laki itu hanya diam berdiri di sana, bersandar di tiang listrik, wajahnya datar tanpa ekspresi sedikit pun. Ia tidak ikut menendang, tidak ikut berteriak, tapi keberadaannya di sana sudah cukup menjadi ancaman terbesar. Dia adalah pemimpinnya. Dia adalah bayangan yang menaungi semua kejahatan itu.


Bapak tua itu akhirnya jatuh berlutut di jalanan, air matanya mulai menetes membasahi pipi keriputnya. "Kasihan, Nak... kasihan Bapak..."


Dan saat itulah, sesuatu dalam diri Sari pecah. Rasa takutnya, rasa segan, rasa ingin diam saja... semuanya kalah oleh rasa marah dan rasa tidak terima. Ia tidak peduli lagi bahwa ia cuma gadis miskin yang tidak punya apa-apa. Ia tidak peduli lagi bahwa mereka adalah geng paling ditakuti di sekolah.


Dengan napas memburu, Sari melangkah keluar dari balik pohon.


"LEPASKAN DIA!"


Suara itu tidak terlalu keras, tapi tegas, dan cukup membuat keempat anak laki-laki itu serentak menoleh.


Teman Kagehiko yang berambut gondrong itu menyipitkan mata, tertawa sinis melihat sosok kurus berjaket lusuh yang berdiri gemetar namun menatap berani ke arah mereka.


"Lah? Ada tikus dari mana nih? Mau cari mati ya, cewek?" ucapnya sambil melangkah mendekat, mengembangkan dada agar terlihat lebih besar dan mengerikan.


Sari mundur selangkah, tapi ia tidak membuang muka. Tangannya mencengkeram erat kantong kresek berisi seragam baru itu sampai kertasnya nyaris robek. Ia menelan ludah, lalu menunjuk ke arah bapak tua yang masih berlutut itu.


"Kalian itu laki-laki atau bukan? Berani-beraninya memalak orang tua yang sudah nggak punya tenaga?! Di mana malu kalian? Di mana hati kalian?!" bentak Sari, suaranya sedikit meninggi meski bergetar hebat.


Anak-anak itu terdiam sesaat, lalu meledak tertawa. Tawa yang kasar, mengejek, dan meremehkan.

Lihat selengkapnya