Angin sore berhembus kencang, menerbangkan ujung jilbab Sari dan rambut hitam Kagehiko yang sedikit berantakan.
Kagehiko perlahan menoleh kembali ke arah Sari. Amarah di wajahnya sudah hilang, digantikan oleh kelelahan yang luar biasa. Kelelahan yang terlihat di matanya yang gelap dan dalam. Ia bersandar kembali ke tiang listrik, menundukkan pandangannya ke tanah.
"Kau ingin tahu kenapa aku berubah?" ucapnya pelan, suaranya hampir hilang tertiup angin. "Kau pikir kebaikan itu dibalas kebaikan? Kau pikir kalau kita jujur, kita baik, kita sopan... hidup akan baik-baik saja?"
Ia tertawa hambar, tawa yang penuh kepahitan.
"Dulu... aku percaya itu, Sari. Dulu aku persis seperti apa yang kau bayangkan. Aku anak baik, anak pintar, anak yang diharapkan banyak orang." Kagehiko mengangkat wajahnya, menatap langit senja yang mulai kemerahan, warna yang terlihat seperti darah di matanya. "Tapi kau tahu apa balasannya? Ayahku meninggal ditabrak orang kaya yang melaju kencang. Dan kau tahu apa? Orang itu bebas. Dia punya uang, dia punya kuasa. Ayahku mati sia-sia. Ibundku... ibundku gila karena depresi. Sekarang dia ada di rumah sakit jiwa, melamun seharian, tidak mengenali anaknya sendiri."
Suara Kagehiko mulai bergetar, matanya berkaca-kaca tapi ia berusaha keras menahannya.
"Orang baik mati, orang jahat hidup mewah. Orang jujur miskin kelaparan, orang curang punya segalanya. Itu dunia nyata, Sari! Dunia yang kau pertahankan kebaikannya itu... dunia yang menelan hidupku sampai habis!"
Ia menunjuk dadanya sendiri dengan kasar.
"Aku jadi begini karena aku tidak mau lagi jadi korban! Aku jadi begini karena aku mau berkuasa! Kalau jahat yang menang, maka aku akan jadi yang paling jahat! Kalau kekuatan yang dihargai, maka aku akan jadi yang paling kuat! Aku tidak mau lagi diinjak, aku tidak mau lagi menangis, aku tidak mau lagi berharap pada keadilan yang tidak pernah ada!"
Sari diam terpaku. Air mata mengalir di pipinya tanpa ia sadari. Ia tidak tahu. Ia sama sekali tidak tahu penderitaan yang ditanggung laki-laki ini sendirian. Selama ini ia hanya melihat sisi luarnya saja. Selama ini ia hanya berpikir dia nakal karena ingin nakal. Padahal... luka di hatinya jauh lebih dalam daripada kemiskinan yang selama ini Sari rasakan.
"Kagehiko..." panggil Sari lirih, langkah kakinya maju satu langkah mendekat, tidak lagi merasa takut.
"Jangan dekat-dekat," ucap Kagehiko pelan, matanya menatap tajam tapi penuh rasa sakit. "Jangan mendekatiku, Sari. Aku rusak. Aku berbahaya. Kau lihat seragam baru yang kau genggam itu? Kau lihat mimpimu yang kau perjuangkan itu? Jangan biarkan aku merusaknya. Jangan biarkan aku menghancurkan satu-satunya hal indah yang masih tersisa di sekolah ini."
Ia berbalik hendak pergi, berusaha lari lagi seperti biasa, lari dari perasaannya sendiri, lari dari kenyataan pahit, dan lari dari gadis yang tiba-tiba masuk dan mengacak-acak tembok pertahanan hatinya.
Tapi kali ini, Sari tidak membiarkannya pergi.
Dengan berani, Sari meraih ujung lengan seragam Kagehiko yang sudah kusam dan kotor.
"Kalau dunia ini jahat..." kata Sari dengan suara tegas namun bergetar, air matanya jatuh membasahi tanah kering
“Maka aku akan belajar menjadi kuat, meski setiap hari hidup terus mengajariku luka.”
Ia menunduk sesaat, jemarinya mengepal erat seolah sedang menahan seluruh amarah dan kecewa yang sejak lama dipendam sendiri. Angin malam berhembus pelan, membawa sunyi yang terasa lebih menyakitkan daripada teriakan.
“Aku capek jadi orang baik yang terus diinjak,” lanjutnya lirih. “Tapi aku juga takut berubah menjadi seperti mereka… orang-orang yang tertawa di atas penderitaan orang lain.”
Di dalam hati Sari, setelah ia mengucapkan kata-kata itu, tersimpan harapan yang tidak pernah benar-benar ia ucapkan dengan lantang. Ia menatap Kagehiko lama, seolah mencoba menembus lapisan keras yang menutupi hati anak itu.
Mudah-mudahan saja hati Kagehiko terketuk, batinnya. Mudah-mudahan dia berubah…
Sari menarik napas pelan. Ia tahu betul jalan hidup yang ditempuh Kagehiko tidak mudah. Lingkungan, luka masa lalu, dan pilihan-pilihan yang salah perlahan membentuknya menjadi pribadi yang terlihat keras di luar.
Iya… aku tahu dia sekarang seperti ini, pikir Sari lagi dengan getir. Anak punk, keras kepala, seolah tidak peduli apa pun. Tapi aku juga tahu… dia tetap anakku.
Air matanya kembali terasa hangat di pelupuk mata, tapi ia menahannya agar tidak jatuh lagi.
Doa seorang ibu itu tidak pernah sia-sia, batinnya menutup dengan keyakinan yang pelan tapi kuat. Walaupun dunia tidak berubah hari ini… aku percaya, suatu saat hati anakku akan kembali lembut.
Shiranui Kagehiko berdiri di hadapannya dengan wajah datar, tapi matanya menyimpan sesuatu yang sulit ditebak—antara lelah, keras kepala, dan keyakinan yang sudah lama terbentuk dari kenyataan hidup.
“Ah, Sari…” suara Kagehiko terdengar datar, namun tegas. “Hidup ini butuh uang, Sari. Kalau semisalnya kita terus jadi orang baik, belum tentu kita dapat apa-apa.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dalam.
“Nah, kalau kayak gini… apa pun keadaan kita, tetap bisa dapat duit. Cepat atau lambat.”
Kalimat itu jatuh seperti batu di tengah hati Sari.
Sari menatap anaknya lama. Ada kecewa yang tidak langsung meledak, tapi mengendap pelan di matanya. Bibirnya bergetar, seolah ingin membantah, tapi suaranya tertahan di tenggorokan.
“Kagehiko…” akhirnya ia berkata lirih. “Jadi menurutmu… uang lebih penting dari semuanya?”
Kagehiko mengalihkan pandangan sebentar, lalu menghela napas.
“Bukan lebih penting,” jawabnya pelan. “Tapi tanpa uang, kita tidak bisa hidup, sari. Kita tidak bisa makan, tidak bisa bertahan. Dunia ini tidak peduli kita baik atau tidak.”
Hening kembali turun di antara mereka.
Sari menunduk, air mata yang tadi hampir kering kini kembali jatuh satu per satu. Bukan karena marah saja, tapi karena ia sadar… anak yang ia besarkan kini sedang berdiri di jalan yang berbeda darinya.