Luka yang tersembunyi

M.varian farhan
Chapter #8

Luka yang di bayar mahal

Mendengar ucapan Hana, tubuh Sari langsung menegang.


Tangannya yang masih menggenggam kantong plastik itu perlahan gemetar. Jantungnya berdetak cepat, seolah rahasia yang selama ini ia kubur rapat akhirnya terbongkar juga.


“Rahasia… apa?” tanya Sari pelan, berusaha terdengar biasa saja.


Hana mendekat sambil tersenyum polos.


“Tadi nenek bilang… ibu pakai topeng kain itu karena wajah ibu rusak, kan?”


Sari langsung terdiam.


Dadanya yang sejak tadi terasa sesak perlahan sedikit lega. Ia sempat berpikir ibunya telah menceritakan semuanya—tentang masa lalunya, tentang dirinya yang hamil di usia yang bahkan belum pantas disebut dewasa.


Tentang bagaimana ia harus menanggung malu sendirian.


Tentang bagaimana ia memilih menutupi wajahnya agar kedua anaknya tidak ikut menanggung hinaan orang-orang.


Sari memalingkan wajah pelan.


“Iya…” jawabnya lirih. “Wajah ibu jelek makanya ditutup.”


Hana langsung menggeleng cepat.


“Bohong.”


Sari menatap anak kecil itu kaget.


“Ibu cantik kok,” lanjut Hana polos. “Walaupun pakai cadar, Hana tetap tahu.”


Kalimat sederhana itu justru membuat mata Sari kembali memanas.


Anak kecil memang sering tidak tahu kalau ucapannya bisa menyentuh hati sedalam itu.


Sari tersenyum kecil sambil mengusap kepala Hana.


“Kamu ini… ada-ada saja.”


“Tapi serius, Buk,” kata Hana lagi sambil memeluk pinggang ibunya. “Kalau ada yang bilang ibu jelek, Hana marah.”


Pelukan kecil itu terasa hangat.


Hangat yang membuat Sari sadar kalau setidaknya… masih ada alasan baginya untuk bertahan hidup.


Namun di sisi lain kota, malam justru sedang membawa luka lain untuk anak sulungnya.


---


Warung Mang Ujang malam itu ramai seperti biasa.


Asap rokok bercampur aroma kopi hitam memenuhi udara. Tawa keras para pemuda terdengar saling bersahutan di bawah lampu kuning yang remang-remang.


Shiranui Kagehiko datang bersama teman-temannya sambil tertawa keras.


“Woy Mang Ujang! Kopi paling mahal keluarin!” teriak salah satu temannya.


“Paling mahal kepala lo!” balas Mang Ujang sambil terkekeh.


Kagehiko langsung duduk di kursi kayu panjang dekat pojok warung. Kakinya naik ke kursi sebelah dengan santai.


Salah satu temannya mulai memesan menu kebiasaan mereka.


“Tiga kopi item, dua mie rebus, rokok sebungkus!”


“Utang lagi?” tanya Mang Ujang sinis.


“Catet aja dulu, Bang.”


Tawa mereka kembali pecah.


Namun tiba-tiba seseorang datang dan duduk di kursi sebelah Kagehiko.


Belum sampai beberapa detik—


Brak!


Kagehiko langsung mendorong orang itu keras sampai wajahnya membentur tanah.


Suasana warung mendadak sunyi.


“Eh, lo berani-beraninya duduk di sebelah gue tanpa izin?” bentak Kagehiko dengan nada tinggi.


Orang itu bangkit sambil memegang pipinya yang memerah.


“Apa masalah buat lo?” balasnya emosi. “Orang di situ kosong kok!”


“Heh,” Kagehiko tertawa miring sambil menunjuk kursi itu.


“Lo tahu tempat ini buat kaki gue sambil ngopi. Jadi gak bisa kena virus.”


Teman-temannya langsung tertawa keras.


“Hahaha! Virus katanya!”


Wajah pria itu merah padam menahan malu.


“Preman kampung songong lo!” bentaknya.


Kagehiko berdiri perlahan.


Tatapannya berubah dingin.


“Lo ngomong apa tadi?”


Melihat suasana mulai memanas, Mang Ujang buru-buru keluar dari balik meja.


“Udah-udah! Jangan ribut di warung gue!”


Lihat selengkapnya