Luka yang tersembunyi

M.varian farhan
Chapter #9

Amarah yang menolak tumbang

Malam yang tadi terasa tenang berubah menjadi kacau.


Tubuh Kagehiko yang penuh luka terbaring di lantai rumah kayu yang sederhana itu. Napasnya masih ada, tetapi terdengar berat dan tidak beraturan.


Sari berlutut di samping anaknya dengan tangan gemetar.


"Kagehiko... Kagehiko, buka mata kamu..." suaranya pecah.


Hana berdiri di dekat pintu sambil menangis ketakutan.


Sementara itu dari kamar belakang, seorang perempuan tua berambut putih bergegas keluar setelah mendengar keributan.


Nenek mereka.


Perempuan tua yang selama ini menjadi satu-satunya orang yang mengetahui seluruh luka masa lalu Sari.


"Ada apa ini?" tanyanya panik.


Namun begitu melihat kondisi Kagehiko, langkahnya langsung terhenti.


"Ya Allah..."


Wajah tua itu langsung pucat.


"Kena tabrak?"


Sari menggeleng cepat.


"Gak tahu, Mak..."


Nenek segera mengambil lampu minyak lalu mendekat.


Tatapannya memeriksa luka-luka di tubuh cucunya.


Pipi lebam.


Bibir pecah.


Lengan lecet.


Dan beberapa bagian tubuh yang mulai membiru akibat pukulan.


Tatapan nenek perlahan berubah.


Bukan kaget.


Melainkan marah.


Marah yang selama ini jarang terlihat.


"Ini bukan kecelakaan."


Sari terdiam.


Nenek menghela napas panjang.


"Ini habis dikeroyok."


Rumah kembali sunyi.


Malam terasa semakin dingin.


Sari menggigit bibirnya kuat-kuat.


Ia tidak perlu bertanya siapa pelakunya.


Yang lebih ia takutkan justru alasan di balik semua ini.


Karena ia mengenal anaknya.


Terlalu mengenalnya.


Kagehiko mungkin korban malam ini.


Tetapi bukan berarti ia tidak pernah menjadi pelaku bagi orang lain.


---


Beberapa saat kemudian.


Kagehiko akhirnya siuman.


Kelopak matanya bergerak pelan.


Pandangannya masih kabur.


Yang pertama ia lihat adalah atap rumah kayu yang sudah mulai lapuk.


Lalu wajah ibunya.


Kemudian neneknya.


Dan Hana yang duduk sambil memeluk lutut di sudut ruangan.


"Oh..."


Kagehiko menyeringai kecil.


"Ternyata belum mati."


Sari langsung memukul pelan bahunya.


"Jangan ngomong sembarangan!"


Namun Kagehiko malah tertawa kecil meski wajahnya meringis kesakitan.


"Sakit, Buk."


"Kalau sakit rasain!" bentak Sari.


Air matanya kembali jatuh.


"Kamu pikir ibu gak takut lihat kamu kayak begini?"


Untuk sesaat Kagehiko hanya diam.


Tetapi bukan rasa bersalah yang muncul.


Yang ada justru kemarahan.


Ia teringat wajah orang-orang yang mengeroyoknya.


Suara tawa mereka.


Cara mereka memukulnya saat dirinya sudah tidak berdaya.


Rahangnya mengeras.


"Kalau ketemu lagi..."


gumamnya pelan.


"Gue habisin."


Nenek yang mendengar langsung menatap tajam.


"Kamu masih mikir balas dendam?"


Kagehiko menoleh.


Tatapan cucu dan nenek itu bertemu.


Tidak ada rasa takut dalam mata Kagehiko.


Seperti biasa.


Keras.


Liar.


Sulit dikendalikan.


"Mereka yang mulai."


"Mereka datang belasan orang."


"Mereka mukul gue kayak binatang."


"Ya gue balas."


Nenek menggeleng pelan.


"Kamu gak pernah capek hidup kayak gini?"


Kagehiko tertawa pendek.


"Hidup kayak gimana?"


"Selalu bikin masalah."


Senyum di wajah Kagehiko perlahan menghilang.


Namun bukan karena tersentuh.


Melainkan karena tidak suka dihakimi.


"Saya gak bikin masalah."


Nenek langsung tertawa sinis.


"Tidak?"


Ruangan kembali sunyi.


"Kamu pikir nenek gak dengar cerita orang kampung?"


"Kamu pikir nenek gak tahu berapa kali orang datang ke rumah ini karena ulahmu?"


Nada suara perempuan tua itu mulai meninggi.


"Selalu berkelahi."


"Selalu cari ribut."


"Selalu merasa paling hebat."


Sari menunduk.


Ia tahu semua itu benar.


Tetapi Kagehiko hanya memalingkan wajah.


Tidak mau mendengar.


Baginya semua nasihat itu terdengar sama.


Membosankan.


Tidak ada gunanya.


Karena dunia yang ia kenal tidak pernah mengajarinya kelembutan.


Yang ia pahami hanya satu.


Kalau ingin dihormati, jangan terlihat lemah.


---


Malam semakin larut.


Hana akhirnya tertidur di pangkuan neneknya.


Sari sedang mengganti kompres di wajah Kagehiko.


Anak laki-laki itu duduk diam.


Untuk pertama kalinya sejak pulang, ia tidak banyak bicara.


Sari perlahan membersihkan darah yang mengering di pipinya.


"Sakit?"


"Gak."


Padahal jelas sakit.


Namun Kagehiko terlalu gengsi untuk mengakuinya.


Sari menghela napas.


"Lain kali hati-hati."


Kagehiko mendengus.


"Gak ada lain kali."


"Maksudnya?"


"Mereka nyari gue lagi, gue siap."


Sari langsung menatapnya.


"Kagehiko."


"Apa?"


"Jangan cari masalah lagi."


Kagehiko tertawa hambar.


"Masalah yang nyari gue."


"Kamu yakin?"


Pertanyaan itu membuatnya diam sesaat.


Namun hanya sesaat.


"Yakin."


Sari tahu anaknya berbohong.


Tetapi malam ini ia terlalu lelah untuk berdebat.


---


Sementara itu di luar rumah.


Nenek duduk sendirian di teras.


Angin malam berhembus pelan.


Perempuan tua itu memandang langit yang gelap.


Pikirannya jauh melayang.


Ia teringat Kagehiko kecil.


Anak yang dulu sering berlari tanpa alas kaki.


Anak yang dulu tertawa hanya karena menemukan layang-layang putus.


Anak yang dulu menangis ketika lututnya terluka.


Tetapi sekarang...


Semuanya berubah.


Hidup telah membuat cucunya tumbuh menjadi seseorang yang keras.


Terlalu keras.


Bahkan untuk dirinya sendiri.


Nenek mengusap wajahnya pelan.


Ia takut.


Bukan takut pada luka malam ini.


Melainkan takut pada masa depan.


Karena ia bisa melihat sesuatu yang tidak disadari orang lain.


Setiap kali Kagehiko menang dalam perkelahian, kesombongannya tumbuh.


Dan setiap kali kalah...


amarahnya bertambah.


Keduanya sama-sama berbahaya.


---


Menjelang dini hari.


Semua orang akhirnya mencoba beristirahat.


Namun Kagehiko masih terjaga.


Ia duduk sendirian di depan rumah.


Wajahnya masih bengkak.


Bibirnya masih berdarah sedikit.


Tangannya mengepal erat.


Dalam kepalanya, kejadian malam itu terus berulang.


Motor yang memitingnya.


Pukulan yang datang bertubi-tubi.


Tawa orang-orang itu.


Rahangnya mengeras.


"Awas aja..."


gumamnya.


"Suatu hari nanti."


Tidak ada penyesalan.


Tidak ada rasa bersalah.


Tidak ada keinginan untuk berubah.


Yang ada hanya tekad untuk menjadi lebih kuat.


Lebih kuat dari siapa pun yang berani menyentuhnya.


Dari dalam rumah, nenek yang ternyata belum tidur memperhatikan cucunya melalui celah jendela.


Perempuan tua itu menatap lama.


Lalu menghela napas berat.


Karena malam ini ia sadar satu hal.


Luka di wajah Kagehiko mungkin akan sembuh beberapa minggu lagi.


Tetapi luka yang ada di dalam dirinya...


baru saja mulai tumbuh semakin dalam.


Malam masih belum benar-benar pergi.


Jam dinding tua yang menggantung di ruang tengah menunjukkan lewat pukul dua dini hari.


Suara jangkrik terdengar samar dari balik semak-semak belakang rumah.


Udara dingin mulai merayap masuk melalui celah-celah dinding kayu.


Namun tidak ada yang benar-benar bisa tidur nyenyak malam itu.


Terutama Sari.


Perempuan itu masih duduk di dekat lampu minyak yang nyalanya mulai mengecil.


Matanya terus tertuju pada Kagehiko yang duduk sendirian di teras.


Sejak tadi anaknya tidak bergerak banyak.


Hanya duduk diam.


Memandangi kegelapan.


Entah apa yang sedang dipikirkannya.


Namun sebagai ibu, Sari tahu.


Diamnya Kagehiko bukan karena tenang.


Diamnya Kagehiko justru lebih berbahaya.


---


Di teras.


Kagehiko perlahan menyentuh pipinya yang bengkak.


Rasa nyeri langsung menjalar.


Ia menyeringai.


"Brengsek..."


gumamnya.


Dalam hidupnya, ia sudah beberapa kali berkelahi.


Sudah beberapa kali menerima pukulan.


Tetapi tidak pernah separah malam ini.


Bahkan saat masih SMP dan terlibat tawuran dengan anak kampung sebelah, ia masih bisa berdiri tegak setelahnya.


Tapi malam ini berbeda.


Tubuhnya masih terasa seperti dihantam batu dari segala arah.


Dan yang paling membuatnya kesal...


Ia kalah.


Bukan kalah karena lebih lemah.


Menurut pikirannya sendiri.


Melainkan kalah karena jumlah lawan terlalu banyak.


Kalau satu lawan satu?


Ia yakin hasilnya berbeda.


Pikiran itu terus berputar di kepalanya.


Membuat amarahnya semakin sulit padam.


---


Di dalam rumah.


Nenek akhirnya berjalan keluar membawa segelas air hangat.


Langkahnya pelan.


Sendi lututnya sudah tidak sekuat dulu.


Namun matanya masih tajam.


Ia meletakkan gelas itu di samping cucunya.


"Minum."


Kagehiko melirik sebentar.


"Lapar gak?"


"Gak."


"Minum saja."


Kagehiko akhirnya mengambil gelas itu.


Meneguk sedikit.


Lalu mengembalikannya.


Nenek duduk di sampingnya.


Untuk beberapa saat mereka hanya diam.


Mendengarkan suara malam.


Sampai akhirnya nenek bicara.


"Kamu tahu yang paling nenek takutkan?"


Kagehiko tidak menjawab.


"Nenek takut suatu hari nanti kamu pulang bukan dengan luka."


Kagehiko mendengus kecil.


"Lalu?"


"Tapi pulang tinggal nama."


Kagehiko langsung memalingkan wajah.


Ia tidak suka pembicaraan seperti itu.


Terlalu serius.


Terlalu menyentuh hal-hal yang tidak ingin ia pikirkan.


"Nek."

Lihat selengkapnya