Malam semakin larut.
Jam dinding tua kini menunjukkan hampir pukul tiga dini hari.
Rumah kayu itu akhirnya terlihat tenang.
Hana sudah tertidur pulas.
Kagehiko masih duduk bersandar di tiang teras dengan adiknya yang tertidur di pangkuannya.
Sari baru saja masuk ke kamar setelah memastikan kompres di wajah anaknya tidak bergeser.
Namun saat ia hendak berbaring...
Terdengar suara pelan dari luar.
"Sari..."
Perempuan itu menoleh.
Di depan pintu kamar berdiri ibunya.
Nenek Kagehiko.
Masih mengenakan kain batik tua dan selendang lusuh yang biasa dipakainya.
"Mak?"
Nenek memberi isyarat agar Sari ikut keluar.
Ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Sari langsung mengerti.
Ibunya ingin bicara berdua.
---
Mereka berjalan pelan menuju dapur belakang.
Lampu minyak kecil menyala redup di atas meja kayu.
Nenek duduk perlahan.
Lalu meletakkan sebuah kantong kain tua yang sejak tadi dibawanya.
Sari mengernyit.
"Itu apa?"
Nenek tidak langsung menjawab.
Ia membuka simpul kain tersebut.
Satu per satu isi di dalamnya terlihat.
Sepasang sepatu sekolah.
Seragam putih abu-abu yang masih terlipat rapi.
Tas sekolah sederhana.
Beberapa buku tulis.
Pulpen.
Pensil.
Dan sebuah ponsel kecil berwarna hitam.
Model lama.
Murah.
Bahkan layarnya sudah sedikit tergores.
Sari membelalak.
"Mak..."
Tangannya langsung menutup mulut.
Ia tidak menyangka.
Sama sekali tidak menyangka.
Nenek tersenyum tipis.
"Untuk besok."
Air mata langsung memenuhi mata Sari.
"Mak dapat dari mana semua ini?"
Nenek tertawa pelan.
"Tidak nyuri."
Sari masih menatap semua barang itu.
Seragamnya memang tidak baru.
Tetapi sangat layak dipakai.
Sepatunya juga masih bagus.
Tasnya pun masih kuat.
Sedangkan ponsel itu meski sederhana tetap bisa digunakan untuk menelepon dan mengirim pesan.
"Mak beli?"
"Sebagian."
"Lalu sisanya?"
"Ada yang nenek minta dari kenalan."
Sari menunduk.
Dadanya terasa sesak.
Karena ia tahu kondisi ibunya.
Bahkan untuk membeli obat rematik saja sering menunggu uang lebih.
Tetapi perempuan tua itu diam-diam menyiapkan semua ini.
Untuk dirinya.
---
"Mak..."
Suara Sari bergetar.
"Aku gak enak."
Nenek menghela napas.
"Kamu mau batal?"
Sari terdiam.
Pertanyaan itu membuatnya menunduk.
Beberapa hari lalu ia memang sudah memutuskan sesuatu.
Keputusan yang terdengar gila.
Ia akan menyamar sebagai siswi baru.
Masuk ke sekolah yang sama dengan Kagehiko.
Mengawasi anaknya secara diam-diam.
Melihat kehidupan yang selama ini tidak pernah bisa ia lihat.
Dan setelah kejadian malam ini...
Niat itu justru semakin kuat.
Karena sekarang ia sadar.
Masalah Kagehiko jauh lebih besar daripada yang selama ini terlihat.
"Aku tetap pergi."
jawabnya pelan.
Nenek mengangguk.
"Itu sebabnya nenek siapkan semua ini."
Sari kembali menatap seragam tersebut.
Tangannya perlahan menyentuh kain putih yang masih rapi.
Entah kenapa jantungnya berdebar.
Bukan karena senang.
Melainkan gugup.
Ia bahkan sudah menjadi ibu.
Usianya jauh dari anak-anak sekolah.
Tetapi besok ia harus berjalan masuk ke lingkungan sekolah sebagai murid.
Memikirkan itu saja sudah membuat kepalanya pusing.
---
"Lalu HP ini?"
tanya Sari.
Nenek mengambil ponsel kecil itu.
"Supaya mudah menghubungi."
"Menghubungi siapa?"
"Kagehiko."
Sari tertawa kecil.
"Itu anak mana mungkin mau angkat teleponku."
"Kalau nomor baru?"
Sari langsung terdiam.
Nenek tersenyum tipis.
"Nah."
Untuk pertama kalinya malam itu Sari ikut tersenyum.
Ada benarnya juga.
Kalau ia nanti benar-benar menyamar dengan identitas berbeda...
Mungkin ponsel ini akan berguna.
---
Beberapa saat kemudian.
Suasana kembali hening.
Hanya terdengar suara angin malam dari luar rumah.
Lalu nenek tiba-tiba bicara.
"Sari."
"Hm?"
"Kamu siap melihat kenyataan?"
Sari mengernyit.
"Maksudnya?"
Nenek menatap lampu minyak yang bergoyang pelan.
"Kamu selama ini hanya lihat Kagehiko saat di rumah."
Sari terdiam.
"Kamu lihat dia sebagai anakmu."
"Sebagai kakak Hana."
"Sebagai cucuku."
Nenek menarik napas panjang.
"Tapi besok kamu akan melihat Kagehiko yang lain."
Kalimat itu membuat jantung Sari berdegup lebih cepat.
"Kagehiko yang lain?"
Nenek mengangguk.
"Kagehiko yang hidup di luar rumah."
"Kagehiko yang dikenal teman-temannya."
"Kagehiko yang dikenal guru-gurunya."
"Kagehiko yang mungkin bahkan tidak pernah kamu kenal."
Sari tidak bisa menjawab.
Karena jauh di dalam hatinya...
Ia juga takut.
Takut menemukan hal-hal yang selama ini tidak ingin ia lihat.
---
Tak lama kemudian mereka kembali ke ruang tengah.
Kagehiko masih duduk di teras.
Namun kini matanya mulai berat.
Tubuhnya jelas kelelahan.
Sari memperhatikannya dari jauh.
Wajah lebam.
Bibir pecah.
Luka di lengan.
Namun meski begitu...
Anak itu tetap terlihat keras kepala.
Tetap terlihat seperti seseorang yang akan bangkit dan mencari masalah lagi begitu tubuhnya pulih.
Sari menggenggam erat tas sekolah yang baru diberikan ibunya.
Lalu menatap putranya lama.
"Besok..."
gumamnya dalam hati.
"Aku akan lihat sendiri hidupmu, Kagehiko."