Bel istirahat pertama baru saja berbunyi.
Suasana kelas yang tadinya tegang perlahan berubah ramai.
Namun tiga siswa yang tadi berdiri di depan pintu masih belum pergi.
Mereka hanya saling melirik.
Seolah sedang memastikan sesuatu.
Lalu salah satu dari mereka mendecih.
"Dia gak masuk."
"Udah kubilang."
"Katanya izin sakit."
Siswa yang paling tinggi menyilangkan tangan.
"Mana mungkin."
"Kagehiko itu kayak kecoa."
"Digebukin segitu doang gak mungkin tumbang."
Beberapa siswa langsung tertawa kecil.
Sari yang duduk di bangku Kagehiko hanya diam.
Ia mulai mengerti.
Tiga orang ini kemungkinan adalah bagian dari masalah semalam.
---
Tak lama kemudian mereka pergi.
Kelas kembali normal.
Rina mengajak Sari ke kantin.
Namun baru beberapa langkah keluar kelas...
Terdengar suara teriakan dari luar jendela.
"WOI KAGEHIKO!"
Sari refleks menoleh.
Di luar sana berdiri lima siswa laki-laki.
Mereka terlihat santai.
Tetapi pakaian mereka berantakan.
Beberapa memakai gelang kulit.
Ada yang rambutnya dicat.
Dan semuanya tampak seperti anak-anak yang sering membuat keributan.
Salah satu dari mereka kembali berteriak.
"WOI KAGEHIKO!"
"KELUAR CEPAT!"
Namun saat mereka melihat ke dalam kelas...
Mereka membeku.
Senyum di wajah mereka langsung hilang.
Karena yang duduk di bangku Kagehiko bukan Kagehiko.
Melainkan Sari.
---
"Hah?"
Seorang anak berkedip.
"Eh?"
Yang lain ikut melongo.
"Loh?"
"Mana Kagehiko?"
Suasana mendadak aneh.
Sari yang tidak tahu harus bereaksi bagaimana hanya menatap mereka.
Lalu salah satu anak tiba-tiba menunjuk.
"Tunggu."
"Itu Sari kan?"
Anak lain langsung mendekat ke jendela.
"Anjir iya."
"Sari!"
"Hoi Sari!"
Sari sedikit gugup.
Namun akhirnya tersenyum kecil.
"Hai."
Kelima anak itu langsung saling pandang.
---
"Mana Kagehiko?"
tanya salah satu dari mereka.
"Dia gak masuk."
jawab Sari.
"Masih sakit."
Mendengar itu wajah mereka langsung berubah serius.
"Masih sakit?"
"Separah itu?"
Sari mengangguk pelan.
Anak-anak itu terdiam.
Tak ada yang bercanda lagi.
Tak ada yang tertawa.
Seolah kabar itu benar-benar mengganggu mereka.
---
Sari mulai memperhatikan.
Dan untuk pertama kalinya...
Ia sadar sesuatu.
Anak-anak ini mungkin terlihat seperti berandalan.
Namun ekspresi mereka saat mendengar Kagehiko sakit tampak tulus.
Sangat tulus.
"Dia baik-baik aja?"
tanya seorang anak berambut cepak.
Sari menjawab pelan.
"Lukanya lumayan."
Anak itu mengumpat.
"Brengsek."
"Gara-gara kejadian semalam."
Temannya langsung menendang kakinya.
"Woi jangan dibahas keras-keras."
Anak itu langsung diam.
Namun wajahnya masih kesal.
---
Sari memberanikan diri bertanya.
"Kalian temannya Kagehiko?"
Kelima anak itu langsung tertawa.
"Teman?"
"Lebih dari teman."
"Kami keluarganya."
"Keluarga jalanan."
Mereka tertawa lagi.
Tetapi kali ini Sari bisa melihat kehangatan di balik candaan itu.
---
"Kenalin."
kata anak paling tinggi.
"Namaku Arga."
"Itu Doni."
"Itu Jefri."
"Itu Bagas."
"Itu Yudi."
"Lalu yang paling nyebelin ya Kagehiko."
Mereka semua langsung mengangguk setuju.
"Bener."
"Nyebelin banget."
"Sok keren."
"Sok kuat."
"Kalau lagi marah bikin pusing."
Sari hampir tertawa mendengarnya.
Karena semuanya terdengar sangat sesuai dengan sifat anaknya.
---
Namun kemudian Arga menatap Sari serius.
"Kamu sahabatnya kan?"
Sari sedikit terkejut.
"Sahabat?"
"Iya."
"Dia pernah cerita."
Jantung Sari langsung berdegup.
"Kagehiko cerita tentang aku?"
"Iya."
Arga mengangguk.
"Katanya ada cewek aneh."
"Suka duduk di sebelah dia."
"Gak takut sama dia."
"Dan terlalu baik buat berteman sama orang kayak dia."
Sari terdiam.
Untuk sesaat dadanya terasa hangat.
Karena itu berarti...
Kagehiko memperhatikannya.
Meski baru sebentar.
---
Tak lama kemudian obrolan mereka semakin panjang.
Dan tanpa sadar...
Sari mulai mengetahui banyak hal.
Tentang kehidupan Kagehiko yang selama ini tidak pernah ia lihat.
Tentang bagaimana Kagehiko sering mentraktir mereka meski dirinya sendiri kekurangan uang.
Tentang bagaimana Kagehiko pernah melindungi seorang siswa yang dibully.
Tentang bagaimana Kagehiko selalu datang membantu jika ada masalah.
Tetapi...
Sari juga mendengar sisi lain.
Sisi yang membuatnya sedih.
---
"Dia gak punya HP."
kata Doni tiba-tiba.
Sari berpura-pura kaget.
"Gak punya?"
"Iya."
"Makanya susah dihubungi."
"Kalau ada apa-apa harus nyari orangnya langsung."
"Kadang kami nyari dia sampai malam."
Anak-anak itu tertawa kecil.
Namun Sari justru terdiam.
Karena itu benar.
Kagehiko memang tidak punya ponsel.
Dan ia baru sadar betapa sendirinya anak itu.
Bahkan teman-temannya tidak bisa menghubunginya ketika terjadi sesuatu.
---
Namun suasana hangat itu tiba-tiba berubah.
Dari ujung koridor muncul tiga siswa yang tadi datang ke kelas.
Mereka berhenti.
Menatap ke arah jendela.
Menatap Arga dan teman-temannya.
Tatapan mereka langsung berubah sinis.