Nenek melangkah satu langkah ke depan.
Tubuhnya memang renta.
Namun sorot matanya tidak sedikit pun gentar.
"Apa urusan kalian datang ke rumah kami?"
Bram menatap nenek beberapa saat.
Lalu tersenyum tipis.
"Kami cuma ingin bicara."
"Kami tidak ingin membuat keributan."
Kagehiko mendengus pelan.
"Kalau cuma bicara..."
"Kenapa bawa belasan orang?"
Suasana kembali sunyi.
Angin sore berembus pelan.
Daun-daun bambu di belakang rumah bergesekan.
Tak seorang pun bergerak.
---
Bram mengeluarkan selembar foto dari saku jasnya.
Ia melemparkannya ke tanah.
Foto itu jatuh tepat di depan kaki Kagehiko.
Kagehiko menunduk.
Di foto itu tampak seorang anak laki-laki kecil.
Wajahnya penuh lebam.
Namun anak itu masih hidup.
"Itu..."
gumam Kagehiko.
Bram menyeringai.
"Masih ingat?"
"Kamu yang kaburkan dia."
Tatapan Kagehiko berubah tajam.
"Apa yang kalian lakukan padanya?"
Bram mengangkat bahu.
"Itu bukan urusanmu lagi."
---
Hana tanpa sengaja melihat foto itu.
"Kak..."
Anak kecil itu langsung bersembunyi di belakang nenek.
Ia belum mengerti apa yang sedang terjadi.
Namun ia tahu orang-orang di depan rumah bukan orang baik.
---
Di sisi lain.
Di sekolah.
Bel pulang berbunyi lebih cepat karena rapat guru.
Para siswa mulai meninggalkan kelas.
Sari bergegas memasukkan buku ke dalam tas.
Rina menatapnya heran.
"Kamu buru-buru amat."
Sari menggigit bibirnya.
"Aku gak tahu kenapa..."
"Aku cuma..."
"Pengin cepat pulang."
Arga yang kebetulan lewat mendengar ucapan itu.
Ia berhenti.
"Rumah Kagehiko jauh dari sini, kan?"
Sari mengangguk.
Arga langsung menoleh kepada Doni, Bagas, Jefri, dan Yudi.
"Kita ke sana."
Tanpa banyak bertanya.
Keempat temannya langsung mengangguk.
---
Di rumah.
Bram perlahan mendekati pagar.
"Kagehiko."
"Aku kasih kamu satu pilihan."
"Kamu ikut sama kami."
"Atau..."
Tatapannya beralih kepada rumah sederhana itu.
"Kami akan terus datang."
Kagehiko mengepalkan tangan.
Urat-urat di lengannya mulai menegang.
Namun ia mengingat satu hal.
Nenek pernah berkata...
> "Orang kuat bukan yang paling keras memukul."
> "Tapi yang paling mampu menahan amarah saat orang yang dicintainya ada di dekatnya."
Kagehiko menarik napas panjang.
Ia memaksa dirinya tetap tenang.
---
"Aku ikut."
ucapnya pelan.