Sinar matahari siang masuk melalui jendela kelas.
Suasana belajar berlangsung seperti biasa.
Sesekali terdengar tawa kecil ketika guru melontarkan candaan.
Sari menutup buku catatannya.
Bel istirahat kedua akhirnya berbunyi.
"Ke kantin, yuk."
ajak Rina.
Sari mengangguk.
"Boleh."
Keduanya berjalan keluar kelas bersama beberapa teman yang lain.
Koridor sekolah dipenuhi siswa yang bercanda dan mengobrol.
Ada yang berlari menuju kantin.
Ada pula yang duduk di bawah pohon rindang sambil menikmati bekal dari rumah.
Sari memperhatikan semuanya dengan senyum tipis.
Rasanya sudah lama ia tidak menikmati suasana sekolah setenang ini.
Sesampainya di kantin, Rina membeli es teh.
Sementara Sari hanya membeli roti dan air mineral.
"Kok sedikit banget?"
tanya Rina.
"Aku belum terlalu lapar."
jawab Sari sambil tersenyum.
Mereka kemudian duduk di bangku panjang di sudut kantin.
Tak lama kemudian Arga, Doni, Bagas, Jefri, dan Yudi datang.
"Wah, masih ada tempat."
kata Doni.
"Duduk aja."
balas Rina.
Suasana menjadi lebih ramai.
Doni mulai menceritakan kejadian lucu saat pelajaran olahraga minggu lalu.
Bagas beberapa kali menambahkan cerita hingga semua yang duduk di meja itu tertawa.
Bahkan Sari ikut tertawa kecil.
Arga yang melihatnya hanya tersenyum.
"Bagus."
"Kamu akhirnya ketawa juga."
Sari sedikit malu.
"Iya..."
"Soalnya kalian lucu."
"Ya jelas."
sahut Jefri sambil membusungkan dada.
"Kami ini komedian sekolah."
"Halah."
Bagas langsung menyenggol bahunya.
"Komedian apanya."
"Kamu aja yang paling sering dihukum."
Tawa kembali pecah.
Untuk beberapa saat, nama Kagehiko sama sekali tidak disebut.
Mereka menikmati obrolan ringan layaknya remaja pada umumnya.
Di rumah.
Kagehiko duduk di teras sambil membantu Hana mengerjakan pekerjaan rumah sekolah.
"Kak, ini jawabannya apa?"
tanya Hana sambil menunjuk soal matematika.
Kagehiko membaca soal itu beberapa detik.
"Lihat baik-baik."
"Kalau tiga ditambah empat hasilnya berapa?"
"Tujuh!"
"Nah, berarti yang ini?"
Hana berpikir sejenak.
"Lima belas!"
Kagehiko tersenyum.
"Pintar."
Hana langsung tersenyum bangga.
Dari dalam rumah, Nenek memperhatikan mereka dengan hati yang hangat.
Sudah lama ia tidak melihat cucu laki-lakinya setenang ini.
Angin sore bertiup pelan.
Membawa aroma sawah yang baru selesai diairi.