Luka yang tersembunyi

M.varian farhan
Chapter #14

Tetap Berdiri Meski Dunia Menuduh

Matahari akhirnya tenggelam.


Langit yang semula berwarna jingga berubah menjadi ungu gelap.


Lampu-lampu rumah mulai menyala satu per satu.


Suara jangkrik perlahan menggantikan riuh anak-anak yang sejak tadi bermain di jalan desa.


Di teras rumah.


Kagehiko masih duduk di tempat yang sama.


Gelas tehnya kini hampir kosong.


Hana sudah masuk ke dalam untuk membantu Nenek menyiapkan makan malam.


Keheningan kembali menyelimuti halaman.


Namun...


Perasaan Kagehiko tiba-tiba berubah.


Entah mengapa dadanya terasa sesak.


Seolah ada sesuatu yang tidak beres.


Matanya tanpa sadar mengarah ke ujung jalan desa.


Sebuah sepeda motor melintas pelan.


Tidak ada yang aneh.


Tetapi pengendaranya sempat menoleh ke arah rumah Kagehiko.


Hanya beberapa detik.


Lalu motor itu kembali melaju.


Kagehiko mengernyit.


"...Perasaanku saja?"


Ia mencoba mengabaikannya.


Beberapa menit kemudian terdengar suara motor lain.


Kali ini lebih pelan.


Motor itu kembali melewati rumahnya.


Dan sekali lagi...


Pengendaranya menoleh ke arah teras.


Tidak berhenti.


Tidak berkata apa pun.


Hanya lewat.


Kagehiko mulai berdiri.


Tatapannya mengikuti motor itu hingga menghilang di tikungan.


"Nek..."


panggilnya pelan.


"Iya?"


"Akhir-akhir ini ada orang baru di desa?"


Nenek menghentikan aktivitasnya sejenak.


"Seingat Nenek tidak ada."


"Kenapa memang?"


Kagehiko menggeleng.


"Nggak apa-apa."


Namun jawabannya tidak sepenuhnya jujur.


Naluri yang selama ini jarang meleset kembali muncul.


Seolah ada seseorang yang sedang mengamati rumah mereka.


Di sisi lain desa.


Sari sedang menutup jendela kamarnya.


Saat hendak menutup tirai, ia melihat sebuah motor berhenti beberapa rumah dari kediamannya.


Dua orang masih mengenakan helm.


Mereka tampak berbincang singkat sambil sesekali melihat ke arah jalan utama.


Beberapa saat kemudian...


Motor itu kembali melaju.


Sari mengernyit.


"Aneh..."


Ia mencoba mengingat.


Rasanya ia pernah melihat motor itu melintas di depan sekolah tadi siang.


Namun ia tidak yakin.


Di rumah Kagehiko.


Malam semakin pekat.


Hana keluar membawa piring makan.


"Kak, ayo makan."


"Iya."


Kagehiko baru saja hendak melangkah masuk ketika matanya menangkap sesuatu.


Di bawah pagar bambu...


Ada bekas jejak ban yang masih sangat baru.


Padahal sore tadi tidak ada kendaraan yang masuk ke halaman.


Ia menunduk memperhatikannya beberapa detik.


Lalu perlahan mengangkat kepala.


Pandangannya menyapu jalan yang kini mulai sepi.


Lihat selengkapnya