Luka yang tersembunyi

M.varian farhan
Chapter #15

Jejak Terakhir

Suara benturan keras dari luar markas membuat seluruh ruangan membeku.


BRAK!


Kagehiko spontan menoleh.


Aceng dan Ucup langsung berlari ke luar.


"Siapa di luar?" bentak Aceng.


Tak ada jawaban.


Hanya suara langkah tergesa yang semakin menjauh.


Di balik tembok samping markas, Sari yang sejak tadi bersembunyi panik mencari jalan keluar. Namun sebelum sempat melangkah, Ucup lebih dulu mencengkeram lengannya.


"Dapat!"


"Lepaskan saya!" Sari meronta.


Aceng menyeretnya masuk ke dalam.


Begitu pintu terbuka, seluruh tatapan langsung tertuju kepada Sari.


Kagehiko membeku.


"Bu...?"


Sari mengangguk pelan.


"Aku nggak mungkin membiarkan kamu datang sendirian."


Pria paruh baya itu menyipitkan mata.


"Jadi... akhirnya kamu muncul juga."


Sari menatapnya lama.


"Bapak... kita pernah bertemu?"


"Kamu mengenalku?"


Sari menarik napas.


"Dulu Bapak pernah datang ke sekolah dan bicara dengan kepala sekolah."


Ruangan mendadak sunyi.


"Kamu masih ingat rupanya," ujar pria itu.


Kagehiko melangkah maju.


"Sebenarnya kalian cari siapa?"


Pria itu mengangkat foto lusuh.


"Perempuan di foto ini terakhir terlihat bersama seseorang."


Sari melihat foto itu.


"Itu memang mirip saya... tapi itu bukan saya."


Yakin mengambil foto tersebut dan membandingkannya dengan wajah Sari.


"Ayah... mirip bukan berarti sama."


Pria itu menatap tajam.


"Kamu meragukan bukti?"


"Aku meragukan kesimpulan kita."


Bram mulai gelisah.


Kagehiko langsung menyela.


"Dari awal kalian cuma punya foto."


Tangan Bram gemetar.


"Pak... saya cuma disuruh."


Semua mata langsung beralih kepadanya.


"Disuruh siapa?" bentak Aceng.


"Saya nggak tahu namanya. Dia cuma ngasih foto ini lalu nyuruh saya bawa Kagehiko."


Pria paruh baya itu mendekati Bram.


"Kalau kamu bohong..."


"Saya sumpah nggak bohong!"


Yakin menatap Bram, lalu Sari, kemudian Kagehiko.


"Kalau Bram benar... berarti sejak awal ada orang yang sengaja mengadu kita."


Ruangan kembali sunyi.


Tak seorang pun mampu membantah.


Tiba-tiba terdengar suara mesin motor berhenti tepat di depan markas.


VROOOM...


Semua orang menoleh ke arah pintu.


Lalu terdengar suara berat dari luar.


"Aku sudah bilang..."


"...kalian sedang menangkap orang yang salah."


Seketika, bulu kuduk semua orang berdiri.


Suara di balik pintu membuat seluruh isi ruangan membeku.


"Tiga detik."


"Satu..."


"Dua..."


"Tiga!"


BRAAANG!


Pintu markas ditendang hingga terbuka.


Debu beterbangan.


Semua orang refleks mundur.


Seorang pria bertubuh tinggi berdiri di ambang pintu dengan wajah tertutup helm hitam. Di belakangnya, dua motor masih menyala dengan lampu yang menyorot ke dalam ruangan.


"Jangan ada yang bergerak!" bentaknya.


Aceng dan Ucup spontan maju.


"Siapa lo?!"


Belum sempat mendekat, pria misterius itu melemparkan sebuah map cokelat ke lantai.


Bruk!


Map itu terbuka.


Puluhan lembar foto berserakan.


Semua orang langsung menoleh.


Bram membelalak.


"Foto itu...!"


Di setiap foto tampak seorang perempuan yang wajahnya sangat mirip Sari.


Namun...


Lokasi, pakaian, dan waktu pengambilannya berbeda-beda.


Kagehiko mengepalkan tangan.


"Apa-apaan ini..."


Pria misterius itu tertawa pelan.


"Kalian sibuk menuduh orang yang salah."


Ayah Yakin segera mengambil salah satu foto.


Sorot matanya berubah tajam.


"Semua foto ini asli..."


"Tapi..." gumam Yakin, "kenapa jumlahnya sebanyak ini?"


Pria misterius itu melangkah masuk perlahan.


"Karena sejak awal kalian hanya melihat satu keping teka-teki."


Sari menatap foto-foto itu dengan napas memburu.


"Tidak... aku tidak pernah difoto sebanyak ini..."


Bulu kuduknya berdiri.


Artinya...


Selama ini ada seseorang yang diam-diam mengawasinya.


Kagehiko langsung berdiri di depan Sari.


"Kalau lo berani nyentuh Mak, lo harus lewat gue dulu."


Pria misterius itu justru bertepuk tangan pelan.


"Bagus."


"Berarti dugaanku benar."

Lihat selengkapnya