Luka yang tersembunyi

M.varian farhan
Chapter #17

Satu Hati, Dua Dunia

Pagi itu terasa tenang, seolah kekacauan semalam hanyalah mimpi buruk yang perlahan hilang bersama kabut fajar.


Di dapur rumah kayu sederhana, uap air hangat beraroma daun teh memenuhi ruangan.Sari keluar dari kamar mandi sambil memegang jaketnya. Sari berdiri di dekat kompor, mengeringkan rambutnya yang masih lembap. Wajahnya tampak tenang, tapi matanya menyimpan beban yang belum sempat terucap. Di meja, Nenek sedang menata nasi hangat dan lauk seadanya. Tubuhnya tak lagi sekuat dulu, namun tangannya masih cekatan.


Sari menatap wanita tua itu lama, lalu bertanya pelan.


“Mak... kemarin Mak habis ngapain? Kok bisa sampai begitu?”


Nenek berhenti bergerak, mendongak, lalu menghela napas panjang.


“Kemarin Mak didatangi orang tak dikenal. Dia bilang cari barang lama. Mak kira salah alamat. Ternyata saat Mak lengah, dia langsung masuk ke dalam rumah.”


Sari menegakkan badan. “Terus barang apa yang dicari, Mak?”


“Cuma barang lama, Ri. Barang tua yang sepertinya tak bernilai. Tapi orang itu memaksa. Saat Mak coba menahan, Mak malah didorong sampai jatuh.”


Rahang Sari mengeras.


“Syukurlah warga cepat datang. Kalau telat sedikit, entah apa yang terjadi,” lanjut Nenek pelan.


“Kalau cuma barang lama, buat apa sampai segitunya?” gumam Sari.


Nenek meletakkan piring terakhir.


“Kadang orang tak mencari bendanya, Ri. Kadang yang dicari justru sesuatu yang tersembunyi di balik barang itu.”


Sari menatap tajam. “Jadi Mak tahu sesuatu?”


Nenek diam sejenak. “Yang Mak tahu cuma satu: mereka tak datang begitu saja.”


"Pakai jaketmu dulu, nanti anak-anakmu malah penasaran lagi," ujar Mak.


Sari pun mengenakan jaketnya.

Setelah itu Sari hendak bertanya lagi, tapi suara pintu terbuka membuat keduanya menoleh. Kagehiko muncul dengan seragam rapi, di belakangnya Hana berjalan pelan sambil membawa tas.


“Kagehiko, cepat sarapan,” kata Nenek.


“Iya, Nek,” jawab Kagehiko singkat.


Hana mendekat. “Kak, tadi pagi Kakak bangun kesiangan lagi?”


Kagehiko melirik datar. “Enggak.”


“Terus kenapa wajahnya kayak kurang tidur?” tanya Hana polos.


Sari tersenyum tipis. Sekejap suasana terasa lebih ringan. Namun Kagehiko segera menatapnya lekat.


“Ibu... tadi malam aman?”


Sari mengangguk pelan. “Aman. Sekarang makan dulu.”


Kagehiko menatap lebih lama, ada yang ingin ditanyakan tapi urung. Hana duduk di samping Nenek. “Nenek, Hana harus ngapain sekarang?”

Lihat selengkapnya