Sari baru sempat melangkah beberapa meter dari lorong itu ketika suara gaduh dari belakang gedung kelas pecah lagi.
Bukan teriakan besar. Bukan juga keributan yang langsung memanggil guru. Tapi cukup untuk membuat langkahnya terhenti.
Sari menoleh.
Dari ujung lorong yang menuju area belakang sekolah, terdengar tawa pendek yang dipaksakan, lalu bunyi sesuatu jatuh ke lantai. Suaranya jelas terlalu kasar untuk diabaikan.
Ada yang sedang terjadi.
Dadanya terasa sesak tanpa sebab yang bisa ia jelaskan.
Ia menatap sekeliling. Tak ada guru. Tak ada petugas. Hanya beberapa siswa yang lewat sambil sibuk dengan urusan masing-masing. Sari menempel ke dinding dan berjalan pelan ke arah sumber suara.
Semakin dekat, suara mereka makin terdengar.
“Kalau nggak mau ikut, ya jangan sok suci.”
“Sudahlah, kasih aja. Biar kelar.”
“Cepat, kita nggak punya waktu.”
Sari mengernyit.
Langkahnya dipercepat.
Begitu ia membelok ke lorong belakang, tubuhnya langsung menegang.
Kagehiko berdiri di tengah lingkaran teman-temannya.
Bukan Arga.
Tiga anak lain ada di sana. Dua berdiri di kiri dan kanan, satu lagi menahan seorang siswa kelas bawah yang tampak ketakutan. Tas anak itu sudah jatuh ke lantai. Bukunya berserakan. Tangannya gemetar saat berusaha mundur, tetapi punggungnya sudah mentok ke tembok.
Dan di tengah semua itu, Kagehiko berdiri diam.
Terlalu diam.
Tangan di saku.
Sorot mata tajam.
Seolah semua itu hanya pemandangan biasa.
Bagi Sari, pemandangan itu seperti pukulan yang datang tanpa suara.
Ia tahu tatapan itu.
Ia tahu sikap itu.
Bukan karena Kagehiko jahat. Justru karena ia terlalu sering menahan marah sampai marah itu berubah jadi dingin. Dan dingin seperti itu biasanya jauh lebih berbahaya.
Salah satu teman Kagehiko menyambar kerah baju siswa itu.
“Kalau nggak bawa duit, dari tadi bilang.”
“Aku beneran nggak ada...” suara anak itu nyaris habis.
“Bohong.”
Yang lain tertawa.
Sari berhenti di ujung lorong.
Jari-jarinya mengencang pada tali tas.
Lalu ia melihat sesuatu yang membuat napasnya tertahan.
Kagehiko tidak menghentikan mereka.
Ia hanya berdiri dan menatap, tanpa ekspresi, seolah membiarkan semuanya mengalir begitu saja.
Itu yang membuat Sari melangkah maju.
“Cukup.”
Suara itu tidak keras.
Tapi cukup tajam untuk memotong udara.
Semua kepala langsung menoleh.
Anak yang ditahan itu menatap Sari dengan mata membesar. Teman Kagehiko yang memegang kerah baju buru-buru melepaskan tangannya. Yang lain ikut menoleh dengan wajah tidak senang.
Dan Kagehiko...
Kagehiko membeku.
Bukan karena takut.
Melainkan karena kaget.
Ia tidak menyangka Sari akan melihatnya di tempat seperti itu.
“Sari...” suara itu keluar pelan dari mulutnya, seperti ia sendiri tidak percaya.
Sari melangkah maju.
“Lepaskan anak itu.”
Salah satu teman Kagehiko tersenyum miring, berusaha santai. “Ini cuma bercanda.”
Sari menatapnya datar. “Kalau bercandanya bikin orang lain ketakutan, itu bukan bercanda.”
Tidak ada yang membalas.
Anak yang tadi dipegang merapat ke dinding. Wajahnya pucat. Ia terlihat ingin kabur, tapi tak tahu harus ke mana.
Sari menahan napas sebentar, lalu berjalan ke arah tas yang tergeletak. Ia membungkuk, mengambilnya, menepuk debu di permukaannya, lalu menyerahkannya kembali pada si korban.
“Pulang sekarang.”
Anak itu menatap Sari seperti baru saja diselamatkan dari sesuatu yang lebih buruk daripada sekadar hinaan. Tangannya gemetar saat menerima tasnya.
“T-terima kasih...”
“Jangan lama-lama di sini.”
Anak itu langsung mengangguk dan pergi cepat, nyaris berlari.
Lorong menjadi lebih sunyi setelah ia pergi.
Yang tersisa hanya tiga anak itu, Arga yang baru muncul di ujung koridor, dan Sari yang berdiri di tengah mereka seperti garis tegas yang memaksa semuanya berhenti.
Salah satu teman Kagehiko memutar bola mata.
“Kita cuma minta jajan doang. Anak itu juga kebanyakan takut.”
Sari memandangnya tajam. “Kamu kira mempermalukan orang di depan teman-temannya itu hal kecil?”
Laki-laki itu mendecih, tapi tidak berani membalas lagi.
Kagehiko akhirnya bergerak.
Ia melangkah maju satu kali, lalu berhenti. Rahangnya mengeras.
“Bukan urusan kamu.”
Sari menoleh cepat.
Tatapan mereka bertemu.
Di mata Kagehiko ada kesal. Ada malu. Ada juga sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang seperti ditarik paksa ke permukaan.
“Kalau aku nggak ikut campur,” ucap Sari pelan, “siapa yang akan berhentiin kalian?”
“Ini urusan kami.”
“Kalau kalian menekan orang yang tak berdaya, itu jadi urusan siapa pun yang masih waras.”
Salah satu teman Kagehiko mengumpat pelan. Yang lain menahan tawa, tapi nada tawanya sudah tidak santai lagi.
Arga yang baru tiba di belakang lorong tidak langsung bicara. Ia hanya melihat situasi dengan ekspresi tenang, tetapi matanya menyapu semuanya seperti sedang membaca sesuatu yang belum lengkap.
Kagehiko menatap Sari lebih lama dari sebelumnya. Di dalam dadanya sendiri, ada sesuatu yang mulai berantakan.
Bukan marah karena Sari menegur.
Marah karena ia tahu Sari benar.
Dan justru itu yang paling menyakitkan.
Sari merasakan dadanya ikut sesak. Ia ingin langsung menghampiri Kagehiko. Ingin menarik anak itu menjauh dari lingkaran teman-temannya yang jelas-jelas sedang menjerumuskannya. Namun ia tahu, kalau ia terlalu keras sekarang, Kagehiko justru akan menutup diri lebih dalam.
Karena itu, ia menurunkan nada suaranya.
“Kagehiko,” katanya pelan, “kalau kamu mau terlihat kuat, jangan caranya dengan membuat orang lain jatuh.”
Hening.
Kalimat itu jatuh di lorong seperti batu kecil ke air tenang.