Luka yang tersembunyi

M.varian farhan
Chapter #18

Bayang di Balik Jendela

Sari baru sempat berjalan beberapa meter dari lorong itu ketika suara gaduh kembali terdengar dari belakang gedung kelas.


Bukan teriakan keras, tetapi cukup untuk membuat langkahnya berhenti.


Ia menoleh.


Dari balik lorong sempit terdengar suara tawa beberapa siswa, disusul bunyi tas jatuh ke lantai.


“Kalau nggak mau ikut, jangan sok suci.”


“Sudahlah. Kasih saja.”


“Cepat. Bel masuk sebentar lagi.”


Sari mengernyit.


Ia mengikuti suara itu sampai ke ujung lorong.


Pemandangan di depannya membuat langkahnya terhenti.


Kagehiko berdiri bersama tiga temannya. Seorang siswa kelas bawah terpojok di dekat tembok. Tasnya tergeletak di lantai, sementara salah satu teman Kagehiko memegang kerah bajunya.


“Kalau nggak bawa uang, bilang dari tadi,” kata anak itu.


“Aku nggak punya,” jawab siswa tersebut dengan suara gemetar.


“Bohong.”


Tangannya kembali mencengkeram kerah anak itu.


Kagehiko tidak ikut tertawa.


Ia juga tidak ikut menyentuh siswa tersebut.


Namun ia tetap berdiri di sana.


Tangan kanannya mengepal di dalam saku.


Sari melihatnya.


Ada keraguan di wajah Kagehiko, tetapi ia belum bergerak.


“Cukup.”


Suara Sari langsung membuat semua kepala menoleh.


Teman Kagehiko yang memegang kerah segera melepaskannya.


Siswa kelas bawah itu mundur beberapa langkah.


Kagehiko menatap Sari dengan kaget.


“Sari?”


Sari berjalan mendekat.


“Lepaskan dia.”


“Sudah dilepas,” jawab salah satu anak.


“Bagus. Sekarang biarkan dia pergi.”


Siswa itu tidak menunggu lebih lama. Ia mengambil tasnya dan segera meninggalkan lorong.


Sari menunggu sampai anak itu benar-benar pergi sebelum kembali menatap kelompok di hadapannya.


“Siapa yang punya ide seperti ini?”


Tidak ada yang menjawab.


Salah satu teman Kagehiko mengangkat bahu.


“Cuma bercanda.”


Sari menggeleng.


“Kalau satu orang tertawa dan satu orang ketakutan, itu bukan bercanda.”


Anak itu mendecih.


“Dia juga nggak sampai dipukul.”


Kagehiko akhirnya bersuara.


“Sudah.”


Temannya menoleh.


“Apanya?”


“Udah, jangan diterusin.”


Nada suara Kagehiko terdengar berat.


Sari menangkap perubahan itu.


Namun teman Kagehiko justru tersenyum sinis.


“Sekarang baru berani ngomong?”


Kagehiko menatapnya.


“Aku bilang berhenti.”


“Kenapa? Takut sama Sari?”


Wajah Kagehiko mengeras.


“Aku bilang berhenti.”


Anak itu hendak membalas, tetapi suara langkah guru terdengar dari ujung koridor.


Mereka langsung menyingkir.


Salah satu teman Kagehiko menarik temannya.


“Ayo.”


Mereka pergi sambil masih menggumam kesal.


Sebelum berbalik, salah satu dari mereka sempat menatap Kagehiko.


“Urusan ini belum selesai.”


Kagehiko tidak menjawab.


Mereka pun menghilang di tikungan.


Kini hanya tersisa Kagehiko, Sari, dan Arga yang baru datang dari arah kelas.


Arga melihat sekeliling.


“Barusan ada apa?”


“Masalah kecil,” jawab Kagehiko.


Sari langsung menyela.


“Bukan masalah kecil.”


Kagehiko menoleh.


Sari menatapnya.


“Aku tahu kamu nggak ikut menyentuh dia.”


Kagehiko diam.


“Tapi kamu tetap berdiri di sana.”


“Aku tahu.”


“Kenapa?”


Kagehiko tidak menjawab.


Arga menunggu beberapa detik, lalu memilih berdiri agak menjauh.


Kagehiko akhirnya berkata pelan, “Kalau aku langsung melawan mereka, keadaan bisa lebih kacau.”


Sari menggeleng.


“Dan karena itu kamu memilih diam?”


Kagehiko menunduk sebentar.


“Aku salah.”


Jawaban itu membuat Sari sedikit terdiam.


Ia tidak menyangka Kagehiko akan mengaku secepat itu.


“Kamu bisa memilih untuk pergi,” katanya.


“Aku tahu.”


“Mulai sekarang jangan ulangi.”


Kagehiko mengangkat wajah.


“Jangan anggap aku bakal langsung berubah cuma karena kamu ngomong begitu.”


Sari tersenyum tipis.


“Aku nggak minta kamu berubah dalam sehari.”


Arga memperhatikan keduanya.


Hubungan mereka memang terasa dekat, tetapi tidak seperti hubungan teman biasa. Ada sesuatu yang lebih dalam, hanya saja ia belum tahu apa.


Bel masuk berbunyi.


Kagehiko mengambil tasnya.


“Masuk kelas.”


Arga mengangguk.


Sari berjalan di belakang mereka.


Namun baru beberapa langkah, Arga berhenti.


“Tunggu.”


Kagehiko dan Sari menoleh.


Arga menunjuk lantai dekat tangga darurat.


Ada sesuatu yang berkilat terkena cahaya.


Sebuah kepingan logam kecil.


Kagehiko memungutnya.


Simbol di permukaannya membuat wajah Sari berubah.


Hanya sepersekian detik.


Tetapi Arga melihatnya.


“Kamu pernah lihat itu?”


Sari menggeleng.


“Belum pernah.”


Jawabannya terlalu cepat.


Kagehiko memperhatikan wajah Sari.


“Kamu yakin?”


Sari menatapnya.


“Yakin.”


Kagehiko memasukkan kepingan itu ke saku.


Arga masih menatap tangga darurat.


“Entah kenapa rasanya benda itu sengaja ditinggal.”


Kagehiko tersenyum tipis.


“Berarti kita cari tahu siapa yang ninggalin.”


Sari langsung menatapnya.


“Jangan.”


“Aku cuma mau tahu.”


“Justru itu yang mereka inginkan.”


Kagehiko terdiam.


Sari menunjuk kepingan logam di sakunya.


“Kalau seseorang meninggalkan sesuatu di tempat yang mudah ditemukan, jangan langsung berpikir itu kebetulan.”


Arga mengangguk.


“Ada benarnya.”


Kagehiko menghela napas.


“Baik.”


Ia berjalan menuju kelas.


Namun setelah beberapa langkah, ia menoleh.


“Aku tetap simpan benda ini.”


Sari menatapnya.


“Jangan sampai hilang.”


Kagehiko mengangguk kecil.


Mereka kembali ke kelas.


---


Pelajaran berlangsung seperti biasa.


Guru menulis di papan tulis. Suara kapur bergesekan dengan permukaan papan menjadi satu-satunya suara yang terdengar di dalam kelas.


Sari duduk di bangku yang sama dengan Kagehiko.


Arga berada di bangku sebelah.


Kagehiko membuka buku, tetapi perhatiannya masih tertuju pada kepingan logam tadi.


Ia mengeluarkannya sedikit dari saku.


Sari langsung melihat.


“Simpan.”


Kagehiko memasukkannya lagi.

Lihat selengkapnya