Sari, Kagehiko, dan Arga berjalan meninggalkan gerbang sekolah ketika matahari mulai turun.
Cahaya jingga memantul di kaca-kaca jendela kelas. Di sepanjang jalan, siswa berangsur pulang, pedagang mulai merapikan dagangan, dan suara kendaraan memenuhi udara sore.
Namun Sari hampir tidak mendengar semua itu.
Tangannya menggenggam tali tas lebih erat. Di dalamnya tersimpan amplop hitam yang sejak tadi menjadi sumber kegelisahan.
“Kita lewat jalan utama,” katanya.
Kagehiko menoleh.
“Tadi Arga bilang jalan belakang lebih cepat.”
“Jalan utama lebih ramai.”
“Kamu takut?”
Sari menatap lurus ke depan.
“Aku cuma waspada.”
Arga yang berjalan beberapa langkah di belakang mereka tersenyum tipis.
“Kalau kalian terus berdebat, sekolahnya keburu tutup.”
Kagehiko mendengus.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah persimpangan.
“Aku ke kiri,” kata Arga.
Kagehiko mengangguk.
“Pulang.”
Arga memandangnya.
“Kamu juga jangan cari masalah.”
“Aku nggak janji.”
Arga tertawa kecil, lalu menoleh kepada Sari.
“Jaga dia.”
Sari mengangguk.
“Aku akan.”
Arga pun pergi.
Kagehiko menunggu sampai sahabatnya menghilang di tikungan sebelum kembali menatap Sari.
“Sekarang buka.”
Sari menghela napas.
“Di sini?”
“Iya.”
Ia mengeluarkan amplop hitam itu.
Tidak ada nama pengirim. Hanya simbol kecil yang sama dengan kepingan logam yang ditemukan di sekolah.
Sari membuka lipatannya.
Di dalamnya terdapat selembar kertas dan sebuah kunci kecil.
Kagehiko mengambil kertas itu.
Tulisan di sana singkat.
«Pulanglah. Jawaban pertama menunggu di rumah.»
Di bawahnya tercetak angka 17.
Kagehiko mengangkat kepala.
“Kamar tujuh belas?”
Sari terdiam.
“Kamu tahu?”
“Rumah sakit lama.”
“Kenapa kamu langsung tahu?”
Sari mengalihkan pandangan.
“Aku pernah melihat nomor itu.”
“Kapan?”
“Sudah lama.”
Kagehiko menatapnya beberapa detik.
“Kamu selalu bilang begitu.”
Sari tidak membalas.
“Kita pulang.”
Kagehiko memasukkan kunci ke dalam saku.
“Aku akan cari tahu sendiri.”
“Aku tahu.”
Mereka melanjutkan perjalanan.
Namun Sari sudah mengerti sesuatu.
Orang yang meninggalkan kunci itu tidak sedang mengajak mereka mencari.
Ia sedang mengarahkan mereka.
---
Rumah kayu itu terlihat ketika langit mulai gelap.
Lampu teras sudah menyala.
Kagehiko mempercepat langkah.
“Biasanya Nenek belum menyalakan lampu.”
Pintu depan ternyata tidak terkunci.
Kagehiko berhenti.
“Ini aneh.”
Ia mendorong pintu perlahan.
“Ibu?”
Tidak ada jawaban.
Ruang tengah tampak sedikit berantakan. Sebuah laci terbuka, beberapa buku lama berpindah tempat, dan kotak kain tergeletak di lantai.
“Hana?”
Dari dapur terdengar bunyi benda jatuh.
BRAK!
Kagehiko langsung berlari.
Sari menyusul.
Namun yang mereka temukan hanya Hana dengan panci kecil di tangan dan Nenek yang berdiri di belakangnya.
“Nenek!”
“Kenapa teriak-teriak?”
“Kukira ada orang masuk.”
Hana mengangkat sesuatu dari meja.
“Bukan pencuri. Telurnya gagal.”
Kagehiko menatap telur yang bentuknya hampir tidak bisa dikenali.
“Kamu masak telur atau berkelahi sama telur?”
Hana tertawa.
“Nenek bilang bentuknya seni.”
Nenek langsung menunjuk Hana.
“Mak tidak pernah bilang begitu.”
“Wajah Nenek bilang begitu.”
Kagehiko akhirnya tertawa kecil.
Suasana rumah kembali ringan.
Namun saat pandangannya beralih ke ruang tengah, senyumnya menghilang.
“Kenapa laci-lacinya dibuka?”
Nenek menjawab tenang.
“Mak cari berkas lama.”
“Berkas apa?”
“Belum ketemu.”
Jawaban itu tidak memuaskan.
Kagehiko tahu ada sesuatu yang disembunyikan.
Sari pun tahu.
Tatapannya bertemu dengan Nenek.
Hanya sesaat.
Tetapi cukup.
---
Malam turun.
Hana tidur lebih dulu. Kagehiko membantu membereskan meja makan. Setelah itu ia kembali ke ruang tengah.
Sari dan Nenek masih di dapur.
Sari mengeluarkan kunci bernomor tujuh belas.
Nenek berhenti mencuci piring.
“Sudah sampai ke tanganmu?”
Sari mengangguk.
Nenek menutup mata sejenak.
“Berarti waktunya memang datang.”
“Mak akan cerita semuanya?”
“Mak tidak mau bersembunyi lagi.”
Suara langkah terdengar.
Kagehiko berdiri di ambang pintu.
“Cerita apa?”
Nenek tidak menjawab.
Kagehiko menarik kursi.
“Aku capek setiap kali melihat kalian berbisik.”
Nenek mengambil sebuah kotak kayu tua dari dalam kamar.
Kotak itu diletakkan di atas meja.
Kunci kecil tadi ternyata cocok dengan lubang di bagian depannya.
Klik.
Kotak terbuka.
Di dalamnya terdapat gelang bayi, beberapa dokumen, dua foto lama, dan sebuah surat.
Kagehiko mengambil salah satu foto.
Seorang perempuan muda duduk sambil menggendong bayi. Di belakangnya berdiri seorang wanita tua dengan kepala tertunduk dan mata penuh air.
Kagehiko mengamati wajah perempuan itu.
Ada sesuatu yang terasa akrab.
Sangat akrab.
“Siapa dia?”
Nenek tidak menjawab.
Sari menunduk.
Kagehiko memandang keduanya.
“Jangan bilang ‘nanti’ lagi.”
Sari berdiri.
Tangannya menyentuh kain penutup wajahnya.
Kagehiko mengernyit.
“Ibu?”
Sari membuka simpulnya.
Kain itu terlepas perlahan.
Untuk pertama kalinya, wajah Sari terlihat utuh di depan Kagehiko.
Ia tidak lagi bersembunyi di balik kain.
Tidak ada jarak.
Tidak ada alasan.
Hanya wajah seorang perempuan yang selama bertahun-tahun menanggung rahasia sendirian.
Kagehiko menatapnya.
“Kenapa?”
Sari menahan napas.
“Karena sudah waktunya kamu melihat aku tanpa menyembunyikan apa pun.”
Air matanya jatuh.
“Aku ibu kandungmu.”
Kagehiko tidak bergerak.
“Apa?”
“Aku yang melahirkanmu.”
Kagehiko mundur satu langkah.
“Tidak.”
Sari tidak membantah.
Nenek memejamkan mata.
“Mak membesarkan Sari sejak dia masih kecil,” katanya. “Mak adalah ibu angkatnya.”
Kagehiko menatap Nenek, lalu Sari.
“Berarti selama ini...”
“Iya,” jawab Sari.
“Aku anak Ibu?”
Sari mengangguk.
Kagehiko tertawa kecil. Bukan karena lucu, melainkan karena pikirannya tidak mampu mengejar kenyataan yang baru saja datang.