BAU OLI TERBAKAR DAN KARAT BESI ADALAH HAL PERTAMA YANG MENYAPA PARU-PARU KAIEN SETIAP PAGI, bahkan sebelum matahari Sektor Bawah benar-benar sanggup menembus kabut jelaga di sela-sela atap seng. Di Sektor Bawah, pagi tidak pernah datang dengan warna keemasan, melainkan abu-abu pekat yang lahir dari limbah asap pabrik dan kondensasi menara pendingin reaktor di Sektor Atas.
Di sudut bengkel yang hanya diterangi bohlam kuning tunggal berdaya rendah, Kaien berlutut. Tangannya yang hitam oleh pelumas mencengkeram obeng minus berkepala tumpul, mencoba menyelaraskan sekrup karburator mesin generator tua. Generator ini adalah nyawa bagi satu blok flat di ujung jalan; tanpa benda ini, pemanas ruangan akan mati, dan udara dingin bulan Desember yang beracun akan merembes masuk ke paru-paru anak-anak.
Satu putaran terlalu kencang, mesin akan mati tersedak. Satu putaran terlalu longgar, bahan bakar akan terbuang sia-sia.
Krak.
Besi obeng meleset dari parutan sekrup yang sudah aus. Ujung baja itu menghantam pangkal ibu jari kirinya, merobek kulit dan meninggalkan jalur merah yang dengan cepat digenangi darah hangat.
Kaien tidak berteriak. Ia hanya memejamkan mata rapat-rapat selama tiga detik, membiarkan denyut perih merambat hingga ke pundak, lalu melepaskan napas panjang yang gemetar. Rasa sakit adalah guru terbaiknya. Rasa sakit adalah pengingat bahwa ia masih manusia murni, sebuah anomali di tengah kota yang perlahan mengubah daging menjadi terminal data.
Ia menyeka darah itu ke celana jinsnya yang sudah mengeras oleh tumpukan pelumas bertahun-tahun. Noda darah itu langsung menyatu dengan warna gelap oli, tak lagi bisa dibedakan. Dengan tangan kanannya yang masih gemetar, ia merogoh saku belakang, mengeluarkan buku catatan bergaris dengan sampul karton yang hampir lepas. Kertas-kertasnya sudah menguning, penuh dengan noda sidik jari kehitaman.
Pada halaman empat puluh dua, di bawah skema kasar katup generator yang ia gambar sendiri semalaman suntuk, ia menulis dengan pensil tumpul:
Turbin seri-B. Sekrup aus. Putar 10 derajat lebih lambat. Jangan ditekan.
Kaien menatap tulisan tangannya sendiri yang agak miring. Di luar bengkel, ia bisa mendengar dengung halus kota. Di atas sana, melampaui awan polusi, hiduplah orang-orang yang tidak perlu merasakan perihnya obeng meleset hanya untuk tahu cara memperbaiki mesin. Mereka hanya perlu berkedip, membayar sejumlah kredit ke Cognitive Trust Corporation, menyewa memori kerja mekanik selama beberapa jam, dan membiarkan implan saraf di kepala mereka bekerja tanpa cacat. Pengetahuan bukan lagi sesuatu yang dipelajari melalui keringat dan waktu; pengetahuan adalah komoditas yang bisa diunduh.
Langkah kaki berat di ambang pintu bengkel memecah keheningan yang lembap. Kaien mendongak. Sinar lampu jalan yang keperakan membingkai siluet seorang kurir paket berjaket sintetis tebal yang basah oleh gerimis asam. Di tangannya, ia menuntun sebuah skuter kargo yang mendengkur aneh suara mesinnya terdengar pincang, ritmenya tersendat seperti jantung yang menunggu serangan fatal.
"Doctor Victor ada?" tanya kurir itu, suaranya terdengar tidak sabar dan dipenuhi kepanikan. Matanya terus melirik jam digital yang berpendar di pergelangan tangannya, menghitung mundur waktu tenggat pengiriman. "Sensor bahan bakar skuterku mati. Aku punya sisa tiga pengiriman malam ini ke Sektor Menengah. Kalau aku telat, potongannya bisa menghabiskan jatah makanku minggu ini."
"Doctor Victor sedang keluar ke Pasar Loak Utara mencari suku cadang," jawab Kaien pelan, seraya bangkit berdiri. Lap kotor masih menekan luka di tangannya yang berdenyut. "Aku bisa melihatnya kalau kau mau. Beri aku waktu dua puluh menit."
Kurir itu mendengus kencang, sebuah tawa meremehkan. Ia menatap tumpukan mesin rongsokan di sekeliling Kaien, onderdil yang berserakan, lalu menatap Kaien sendiri pemuda berwajah lelah dengan baju yang lusuh. Sesaat, tatapannya tertuju pada buku catatan lusuh yang tergeletak di atas meja kerja kayu. Baginya, melihat seseorang menggunakan kertas di zaman ini sama konyolnya dengan melihat orang menyalakan api menggunakan batu.
"Dua puluh menit? Sial," gumam kurir itu. "Aku tidak punya waktu selama itu."
Ia menghela napas panjang, meraba area di belakang telinga kanannya, tepat di pangkal tengkorak. Di sana, sebuah silinder logam kecil seukuran kelingking tertanam di bawah kulit. Alat itu berpendar biru redup sebuah "Lumen", modul antarmuka saraf yang disewakan oleh korporasi.
Kurir itu memejamkan mata. Dari celah bibirnya yang agak terbuka, terdengar gumaman pelan, nyaris tanpa intonasi, seperti mantera pemujaan kepada dewa digital. "Koneksi Cognitive Trust. Akses direktori mekanik kelas C. Sewa paket mekanik ringan jalanan. Durasi: tiga puluh menit. Otorisasi pembayaran menggunakan kredit masa depan."
Seketika, pendar biru di belakang telinganya berkedip lebih cepat, bertransisi menjadi warna biru neon yang menyilaukan. Ketika kurir itu membuka matanya kembali, pupil matanya melebar dan berselubung cahaya holografis tipis. Pandangannya tidak lagi gelisah. Bahunya yang tadi membungkuk karena stres kini tegak lurus. Gerakan tubuhnya berubah seketika menjadi sangat presisi, kaku, efisien, dan tanpa keraguan, seperti boneka yang digerakkan oleh benang tak terlihat dari server awan.